Dialog Syabab Hizbut Tahrir Dengan Anggota PKS


Ini adalah dialog yang saya lakukan dengan seorang (insya Allah) syabab Hizbut Tahrir di Facebook. Dialog ini sama seperti dialog-dialog yang lainnya, ketika sudah terjepit dalam situasi diskusi yang sudah membuat mereka lemah dalam berhujjah. Maka mereka akan “melarikan diri”. Sama seperti dialog-dialog diblog ini sebelumnya. Semoga dialog ini bisa dijadikan pengingatan kepada kita tentang bagaimana orang ketika berkomentar tetapi tidak memahami masalahnya, sehingga membuat malu dirinya sendiri.

Dengan dialog seperti ini, minimal kita akan semakin tahu sepak terjang Syabab Hizbut Tahrir dalam membuat berbagai propaganda. Mereka tidak akan mengakui kesalahan mereka sendiri, tetapi senang sekali melihat kesalahan-kesalahan orang lain.

Saya disini memposisikan sebagai Anggota PKS, dan bukan sebagai kader. Karena saya merasa sangat belum layak untuk dijadikan kader PKS atas sikap saya. Kader PKS memang tidak akan senang berdebat, ini berbeda dengan Syabab Hizbut Tahrir, karena perdebatan adalah salah satu masuk “jihad” mereka. Kader PKS cenderung memperbaiki dirinya dalam berbagai amalan. Dan menjauh segala pertikaian dari berbagai perdebatan. Hal ini memang berbeda dengan saya sendiri. Maka dari itu, saya ingin memposisikan sebagai anggota PKS, dan bukan kader PKS, karena keterbatasan amaliyah saya yang jauh dari kader-kader PKS.

Awal mulanya kenapa terjadi Dialog tersebut, adalah ketika status Update yang saya tulis berkalimat :

Banyak orang Islam bermimpi tentang kejaayan Islam yang lampau. Bermimpi boleh, tetapi kejayaan tidak hanya dibangun dengan mimpi-mimpi, dia dibangun dengan pilar kuat perjuangan, dengan kekuatan dan tentu dengan aplikasi ajaran. Bagaimana kita (Islam) bisa mengaplikasikan menjadi pemimpin, menjadi Ketua RT/RW/Kades aj…a tidak pernah, apalagi Bupati, lebih2 bermimpi tentang kejayaan Islam. AH… ILUSI!

Langsung saja, dialog ini adalah saya (Abu Jaisy/Fajar Agustanto), dan seorang syabab Hizbut Tahrir (Riyan Zahaf):

Riyan Zahaf Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam hanya pernah memimpin dirinya, keluarganya, jama’ahnya, dan daulah Islam, tidak menjadi pemimpin RT, gubernur dulu. Jadi, penegakan khilafah dan syari’ah adalah realitas sejarah dan janji dari Allah Subhana wa ta’ala. allaahu’alam bi-ash-showwab.

Fajar Agustanto

Riyan Zahaf: Bukankah Rasulullah sebelum diberikan "diamanahi" oleh Allah, sudah menjadi pemimpin sebelumnya? Bukankah gelar Al Amin adalah gelar tertinggi yang mampu memimpin orang Quraisy pada saat itu. Dan itu sebelum "diamanahi" untuk m…endakwahkan Islam!
Allah menurunkan Rasulullah sebagai "pemimpin" itu bukan simsalabim, tetapi ada proses untuk menuju kepemimpinan beliau. Di Sirrah nabawiyah/ Tarekh sudah digambarkan dengan jelas dan gamblang bagaimana seorang Rasulullah menjadi seorang pemimpin sebelum diamanahi untuk mendakwahkan Islam.
Islam datang dengan persiapan, Syari’at datang dengan penuh kematangan. Syari’at Islam tidak bisa dijalankan manakalah setiap orang Islam belum mengerti tentang syari’at Islam, apalagi qanun dalam syari’at!
Islam itu tidak hanya diperjuangkan dengan "Hamasah" (Semangat), tetapi Islam diperjuangkan dengan pengetahuan yang matang, dengan aplikasi dan kesiapan untuk menerima syari’at Islam itu sendiri.
Jelas Rasulullah sangat membenci orang-orang Islam yang membuat orang lari dari agama ini (Islam). Jadi sebelum mereka dipimpin oleh "Islam" maka ajarkanlah Islam dengan menjadi Ketua RT/RW/Lurah, dst.
Tidaklah patut orang yang tidak pernah mendapatkan/menjalani sebagai pemimpin lalu langsung diamanahi dengan kepemimpinan yang besar kecuali kehancuran yang akan kita dapatkan, apalagi rasa malu dengan olok-olokan "ITUKAH YANG KALIAN BANGGA-BANGGAKAN"
Penerapan syari’at itu harus jelas di-imbangi dengan kesiapan segala infrastruktur dan SDM-nya. Jadi syari’at Islam itu bukan syari’at abal-abal!

Riyan Zahaf

‎@Akhi Fajar Rustanto yang dimuliakan Allah Subhana wa ta’ala:
Gelar al amin, adalah gelar yang terkait dengan sikap menonjol yang diakui oleh orang-orang sebagai bagian kebiasaan masyarakat Arab. Sebagaimana "Ash-shiddiq" oleh Abu Bakar rad…hiyallaahu ‘anhu , "Al Faruq" oleh Umar bin khattab radhiyallaahu ‘anhu, "Hujjatul Islam" oleh Imam Al Ghazali, dan lain-lain. Jadi Itu bukan gelar kepemimpinan. Terdapat riwayat dimana Kaum Musyrikin menawarkan kekuasaan, tetapi beliau menolaknya. Dan ini berarti, beliau shallallaahu ‘alaihi wa salam bukanlah pemimpin bagi kaumnya di Mekah.
————
"Maka berkatalah ‘Utbah: “Sekiranya tujuanmu membawa agama baru ini untuk mendapatkan harta kekayaan maka kami akan kumpulkan harta-harta kami untuk kamu sehingga kamu menjadi seorang
yang lebih kaya-raya dan kami, sekiranya engkau bermaksud untuk mendapatkan kemuliaan maka kami sekalian bersedia untuk melantik engkau sebagai ketua kami, sekiranya engkau ingin menjadi raja, yang demikian pun kami bersedia juga untuk menobatkan engkau sebagai raja kami, dan sekiranya segala tawaran tadi semuanya engkau tolak mentah-mentah maka yang terakhir sekali kami bersedia membelanjakan harta kekayaan kami untuk mencari tabib untuk merawat engkau hingga sembuh.”
Setelah itu RasuluLlah Shallallaahu ‘alaihi wa salam menjawab dengan katanya: “Apakah sudah habis segala hasrat yang hendak dicurahkan itu?” Jawab ‘Utbah: “Ya.” Maka sambung RasuluLlah Shallallaahu ‘alaihi wa salam, “sekiranya demikian maka dengarkanlah dariku pula (RasuluLlah Shallallaahu ‘alaihi wa salam membaca beberapa ayat-ayat A1-Qur’an dan Surah Fushilat)"

 

Fajar Agustanto

‎@ Riyan Zahaf: Afwan akhi, nama saya Fajar Agustanto, bukan Rustanto.
Dalam Sirrah tergambar dengan jelas bagaimana Rasulullah memimpin sebelum diamanahi mendakwahkan Islam. Al Amin itu adalah gelar kepemimpinan Rasulullah yang paling ting…gi diantara gelar orang Arab yang lain.
Mulai dari periode kelahiran Rasulullah. Allah telah memberikan jiwa kepemimpinan kepada beliau (Rasulullah Muhammad Saw) dengan menjadikan beliau lahir didalam keluarga yang terhormat, keluarga yang nasabnya sangat baik dan mempunyai posisi tinggi didalam bani yang lain. Seperti dalam sebuah hadits
“kami di ceritakan oleh Yusuf bin Musa al Bugdady, kami di ceritakan oleh Ubaidillah bin Musa, dari Ismail bin Abi Khalid, dari Yazid bin Abi ziyad, dari Abdillah bin al Harits dari Abbas bin Abdul mutthalib, ia berkata: aku berkata: wahai Rasulullah! Orang-orang Quraisy sedang duduk lalu mereka saling membicarakan kemuliaan mereka di antara mereka, kemudian mereka menjadikan anda seperti pohon kurma fi kabwaten dari permukaan bumi, lalu Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah menciptakan ciptaan-(Nya) maka Dia menjadikan aku sebaik-baik dari mereka, sebaik-baik dari golongan mereka, sebaik-baik dari dua golongan, kemudian di pilih dari kabilah-kabilah yang ada kemudian Dia menjadikan aku sebaik-baik kabilah, kemudian Dia memilih rumah-rumah kemudian Dia menjadikan rumahku sebaik-baik dari rumah-rumah mereka, maka saya adalah sebaik-baik di bandingkan mereka dari segi jiwa dan rumah (keluarga)”. (Sunan Tirmidzi, Jilid 5, Hal. 584, Hadits Hasan)
Nahkan, Allah sudah merencanakan Rasulullah sebagai pemimpin. Karena belum apa-apa Allah sudah memberikan keluarga yang mampu memimpin bani-bani yang lain.
Dalam ke-Yatim-an Rasulullah, Allah telah memberikan rencana yang sangat "cantik", dengan menjadikan Rasulullah Yatim, maka tidak akan ada orang yang akan menuduh ajaran yang dibawanya (Islam) sebagai produk dari Ayah/ibunya. Ini jelas kepemimpinan beliau dalam mengelola dakwah beliau adalah hasil dari "penempaan" dan pembelajaran beliau saat ke-yatim-annya.
Ketika beranjak tumbuh, Rasulullah sudah terlihat sebagai seorang manusia yang lebih dari manusia yang lain. Dan tak jarang menjadi "panutan" bagi anak-anak yang lainnya.
Ketika bersama kakeknya (Abdul Mutthalib) Rasulullah belajar banyak kepemimpinan, sehingga tak salah ketika kakek beliau (Abdul Mutthalib) berkata "biarkan dia! Karena demi Allah sesungguhnya ia mempunyai karakter tersendiri." Nah, karekter itu tidak dibentuk dengan serta merta "JADI", tetapi itu ditempa dengan kuat oleh pendirian. Tentu semua hal ini tidak terlepas dari "tangan-tangan" Allah.
Orang Mekkah saat itu sudah mempercayai Rasulullah untuk "memimpin" penggembalaan kambing milik seluruh penduduk Mekkah. Maka dari itu ketika itu Rasulullah bersabda "bahwa tidak seorangpun dari seorang Nabi kecuali ia telah mengembala kambing, kemudian beliau saw. di Tanya: dan anda bagaimang wahai Rasulullah? Beliau saw. menjawab: saya juga” (Muwattha’ oleh Imam Malik, Jilid: 2, Hal: 971, “hal ini adalah termasuk al Balaghat”.).
Ketika peletakan Hajar Aswad, semua bani berseteru ingin mendapatkan kehormatan untuk meletakkannya, perseteruan itu hingga sampai akan terjadi peperangan diantara para bani, tetapi apa yang terjadi, semua bani itu setuju ketika Rasulullah Muhammad Saw, yang "MEMIMPIN" untuk meletakkan Hajar Aswad, bahkan mereka berkata " dia adalah orang yang terpercaya dan jujur, kami rela dengan keputusannya" Peristiwa peletakkan Hajar Aswad ini menjadikan tolak ukur bagaimana Rasulullah mampu "MEMIMPIN" setiap Bani yang berseteru kala itu. Sehingga dengan Kepemimpinan beliau (Rasulullah), memerintahkan untuk setiap Bani memegang setiap sudut kain yang diatasnya diletakkannya Hajar Aswad oleh Rasulullah kala itu.
Dengan kepemimpinan beliau tersebut (sebelum diamanahi mendakwahkan Islam), Rasulullah sudah menjaga darah orang Arab untuk berseteru saling menumpahkan dara.
Kalau saya ketik disini sama saja saya mengetikkan Sirrah Nabawiyah seluruhnya. Sirrah Nabawiyah adalah salah satu pelajaran yang terbaik dalam setiap segi dakwah Rasulullah, disitu ada strategi, ada ketulusan dan pengabdian yang dalam. Sangat jarang sekali saya melihat orang yang membaca Sirrah dengan menjadikan Analisa ilmiah dalam sejarah Islam masa Rasulullah. Banyak orang membaca Sirrah, hanya ingin tahu saja dan tidak mengambil ibrah/hikmah didalamnya.
Kita disini tidak membicarakan masalah kekuasaan semata, tetapi membicarakan manfaat kekuasaan! Jangan jadikan dalil yang antum berikan itu sebagai pembenar untuk setiap muslim tidak boleh mendapatkan kekuasaan. Ini sangat lucu akhi! 😀
Karena jelas konteksnya orang kafir itu memberikan kekuasaannya dengan cara "menyogok" Rasulullah untuk membungkam beliau dari dakwahnya. Tentu Rasulullah ingin memberitahukan bahwa beliau itu adalah Rasul, dengan membacakan Al Quran Surat 41 (Fussilat). Rasulullah tidak pernah menolak kekuasaan, jika kekuasaan itu untuk kemenangan Islam itu sendiri, seperti dalam hadits berikut:
"Demi Allah, wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di kananku dan rembulan di kiriku agar aku meninggalkan dakwah, niscaya aku tidak akan meninggalkan perkara ini (dakwah Islam) sebelum Allah memenangkannya atau semuanya akan binasa."
Jadi kemenangan Islam itu adalah kekuasaan itu sendiri. Kita jangan salah dalam menafsirkan tentang kekuasaan. Jangan memotong-motong ayat atau dalil dalam berhujjah. Apalagi tidak melihat konteks yang dimaksud dalam Al Quran maupun sebab-sebab keluarnya hadits.
Seperti yang saya bilang diatas, Islam datang dengan segala persiapan yang matang. Islam itu bukan agama yang selalu terburu-buru dalam mengambil sikap. Tetapi ada kehati-hatian dalam bersikap. Hal ini seperti halnya dalam mengamalkan Qanun dalam setiap syari’at Islam. Salah mengambil sikap/keputusan itu lebih baik daripada mengambil keputusan yang salah. Dalam Sabda Rasulullah:
"Hindarkanlah had (hukuman yang sudah ditentukan, misalnya potong tangan atau rajam) semampu kalian dari orang Islam. Sebab, lebih baik seorang imam (hakim) salah dalam memberikan ampunan daripada ia salah dalam memberikan had"
Setiap Syari’at Islam dalam penentuan had (hukuman) itu harus mempunyai legalitas (negara, Daulah, Khilafah) mereka tidak diputuskan dengan hanya berdasarkan sekelompok orang.
Ingatkah ketika Rasulullah berkuasa, Rasulullah mampu memegang kendali penuh dalam kekuasaannya untuk memobilisasi pasukan maupun diplomasi dengan maksimal. Nah, ini lagi-lagi kekuasaanlah yang mampu memberikan itu. Muslim yang berkuasa dan menjadikan kekuasaan itu menjadi sebuah kemashlahatan itu lebih baik daripada muslim yang tidak mempunyai kekuasaan apapun. Maka dari itu kekuasaan itu berat, maka pahala dan dosanya juga besar!
JADI KENAPA HARUS TAKUT BERKUASA JIKA MEMANG MAMPU MEMBERIKAN KEMASLAHATAN UMAT?

 

Riyan Zahaf

‎@akhi Fajar Agustanto:
Allaahu’alam, Hadist Sunan Tarmidzi itu, hanya menginformasikan kepada kita bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam memiliki kemampuan untuk memimpin. Yang ane kritisi disini adalah mohon dibedakan antara kema…mpuan memimpin dan Menjadi Pemimpin kaum Musyrik di Mekah. Persoalan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam memiliki kemampuan memimpin, sudah tidak diragukan. Pertanyaan ane yang mendasar adalah:
"Apakah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam adalah PEMIMPIN ORANG MUSYRIK DI MEKAH??"
Sebenarnya, dengan penulisan akhi Fajar dengan menggunakan tanda kutib "Memimpin" itu sudah merupakan jawaban akhi Fajar, bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa salam adalah bukan pemimpin orang Musyrik di Mekah yang sebenarnya sekalipun beliau shallallaahu ‘alaihi wa salam memiliki kemampuan. Benar nggak?? 🙂
Ane sepakat, untuk menerapkan Islam secara total butuh kekuasaan. Tetapi, kekuasaan yang dimaksud adalah kekuasaan yang diperoleh secara Haq, bukan melalui Demokrasi Sistem Kufur dan bukan melalui jalan kekerasan.
Allaahu’alam bi-ash-showwab.

 

Fajar Agustanto

‎@Riyan Zahaf: Akhi, dengan tanda "mempimpin" yang ingin saya sampaikan itu adalah, setiap pemimpin itu mampu memimpin dimanapun berada. Di tempat kaum musyrik maupun dilain tempat (kaum mukmin).
Contoh kasus yang saya berikan itu jelas men…yajikan bahwa Rasulullah ternyata juga bisa menjadi pemimpin orang-orang musryik seperti ketika "memimpin" penggembala kambing.
Dan yang paling harus kita cermati, ketika Rasulullah memimpin peletakan Hajar Aswad kepada kaum Musryik di Mekkah, menyimbolkan betapa Rasulullah itu adalah seorang pemimpin yang benar-benar mampu memimpin dimanapun. Seandainya Rasulullah mau tentu dengan ke-egoisan Rasulullah yang dipercaya oleh Kaum Musyrik Mekkah saat itu, beliau (Rasulullah) akan meletakkan sendiri Hajar Aswad tersebut. Tetapi itu tidak, seorang pemimpin tentu tidak boleh egois dalam menentukan sebuah keputusan, tetapi harus mampu menjembatani antara orang satu dengan yang lainnya. Nah inilah jiwa kepemimpinan Rasulullah yang patut kita contoh. Bisa saja, saat itu Rasulullah mengatakan "Keluarganya" yang cocok meletakkan Hajar Aswad, seluruh Bani tentu menerima, tetapi tidak dengan ke-ikhlasan. Pasti ada salah satu pemimpin bani yang masih tidak menerima cara Rasulullah, walaupun dipendam dalam hati. Namun itu tidak dilakukan oleh Rasulullah. Sungguh, tauladan kepemimpinan Rasulullah tersebutlah yang seharusnya menjadi tolak ukur kita dalam berdakwah.
Ada rasa adil yang tidak tidak membedakan satu sama lainnya. Ada perbuatan yang proporsional dalam memutuskan sebuah masalah. Tidak berat sebelah maupun memihak. Inilah seorang pemimpin muslim. Yang mampu adil dimanapun ketika dia memimpin.
Dan seorang pemimpin itu mampu berbuat "moderat" dalam segala urusannya. Dia mampu menjadi Fundamental ketika bergerak dan menjadi penengah dalam pertikaian.
Tentu seperti ketika ada ulama menganggap Demokrasi itu kufur dan ada ulama yang menganggap memperbolehkan Demokrasi, maka seorang pemimpin harus berada ditengah-tengahnya (moderat). Karena tentu setiap ulama itu memberikan fatwa dengan hujjah dari dalil dan satu sama lainnya saling menguatkannya.
Kekuasaan itu bisa diperoleh darimana saja dengan jalan apa saja. Mau dari cara mengikuti demokrasi atau pun tidak. Selama tidak melanggar kaedah-kaedah syara’ yang disepakati oleh seluruh jumhur ulama umat Islam, maka hal itu dibolehkan.
Sesuatu yang ada dalil Qath’i-nya saja, ulama-ulama kadang sering berbeda pendapakah dengan berbagai furu’-nya, sehingga timbul khilafiyah ataupun ikhtilaf dari ijtihad para ulama.
Apalagi Demokrasi yang tidak ada dalil qath’inya, tentu khilafiyah dari ijtihad para ulama bisa sangat berbeda-beda. Maka kewajiban setiap muslim yang hanif adalah menghormati setiap keputusan para ulama.
Dan seharusnya konsekwensi berat bagi setiap orang yang mengharamkan demokrasi. Contoh kasus, seperti Ustad Abu Bakar Ba’asyir, beliau menyatakan Demokrasi kufur, tetapi toh ternyata beliau harus terus-menerus berkubang dengan hukum-hukum Demokrasi. Seandainya memang ingin menerapkan fatwa beliau, maka beliau seharusnya tidak perlu memakai pengacara, tidak perlu membuat pledoi terhadap pasal-pasal yang memperingan beliau. Nah, apakah hal tersebut tidak malah "senjata makan tuan"?
Contoh kasus lagi, Ustad Ismail Yusanto. Beliau menyatakan kufurnya Demokrasi, tetapi toh ternyata beliau harus membuat pengaduan kepada MA untuk tetep mempertahankan Undang-Undang Pornografi. Bukankah hal yang dimaksud oleh orang-orang yang mengharamkan Demokrasi itu adalah Qanun dari Syari’at Demokrasi itu sendiri!? Nah hal-hal seperti itu sering-kali menjadi "lelucon" yang tidak lucu!
Sudah sewajibnya setiap ulama yang berfatwa harus mengerti kondisi setiap mad’u yang dibawahnya. Dan setiap orang yang "taklid" terhadap fatwa tersebut, harus mampu menerima dengan segala konsekwensinya.
Ups, maaf saya tidak ingin membahas demokrasi.
Yang perlu DIGARIS BAWAHI adalah, setiap muslim harus ditempa dirinya untuk menjadi seorang pemimpin, apalagi seorang juru dakwah. Maka mereka sudah sewajibnya menjadi panutan dan mampu memimpin untuk mengarahkan-kearah yang lebih baik.
Wallahu’alam.

 

Riyan Zahaf

‎@Fajar Agustanto:
Sebelum ane minta maaf, karena salah tulis nama.
Ane membutuhkan jawaban tegas antum, apakah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam pemimpin orang-orang musyrik Mekah??
…Mengapa Membuat Pledoi pembelaan dari penangkapan atas tuduhan sepihak dari penguasa thaghut, antum katakan lelucon??
Yang ane tahu, Ustadz Ismail Yusanto tidak membuat pengaduan kepada MA untuk mempertahankan UU pornografi. Kalau antum mengetahuinya, mohon disertakan link-nya.
Allaahu’alam bi-ash-showwab

 

Fajar Agustanto

‎@Riyan Zahaf: Akhi, dari tulisan panjang saya itu tidak di baca yah?
Saya sudah dengan tegas menyatakan bahwa, sudah jelas sekali Rasulullah pernah memimpin kaum musyrik di Mekkah ketika peletakkan Hajar Aswad, ketika memimpin Penggembala …kambing! Itu semua datang sebelum Rasulullah diamanahi oleh Allah Swt, mendakwahkan Islam.
Dijelaskan panjang lebar, ternyata tidak dibaca. Hehehe… walah…walah dunia…dunia!!!
Maaf, jika antum tersinggung dengan Lelucon yang tidak lucu, yang saya maksud itu adalah. Ketika sudah mengharamkan Demokrasi, maka sudah seharusnya pasal-pasal Qonun dari Syari’at Demokrasi itu tidak dipakai apalagi dijadikan pembelaan.
Apa bedanya orang yang berteriak anti demokrasi tetapi mereka juga menggunakan barang-barang Demokrasi yang mereka haramkan! Bukankah segala pledoi dari pasal-pasal hukum Demokrasi itu untuk "meringankan" bahkan "membebaskan" orang dari jeratan hukum Demokrasi.
Lalu apa bedanya dengan orang yang membolehkan Demokrasi?
Nah sudah seharusnya, jika memang mengharamkan Demokrasi. Maka tidak perlu memakai pengacara, tidak perlu memakai pledoi pasal-pasal Demokrasi yang meringankan hukuman, dll. Jadi biarkan seperti air mengalir, tidak perlu mendatangi persidangan demokrasi, cukup istiqomah dengan fatwa keharaman Demokrasi yang di-ikuti.
Itulah yang saya maksud!
Afwan, saya salah. Seharusnya bukan MA tetapi MK (Mahkamah Konstitusi) tetapi kedua-duanya sama-sama produk Demokrasi dan seharusnya Haram untuk di ikuti.
Contohnya seperti ini —> http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/03/menag-siap-uji-materi/
Sebenarnya banyak link2nya. Hanya saya kasih yang mungkin menurut antum sumbernya lebih Shahih!
Wallahu’alam.

 

Riyan Zahaf

‎@Fajar Agustanto:
Riwayat yang antum nyatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam telah memimpin dalam masalah peletakan Hajar aswad, sebenarnya tidak menganggap bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam sebagai pemimpin mer…eka. Tentu saja, seorang pemimpin Masyarakat Musyrik Qurays tidak hanya terkait dengan urusan pemindahan hajar Aswad. Lagi pula, hal tersebut sebelum beliau dikenal sebagai da’i Islam. Setelah beliau dikenal sebagai Da’i Islam dan pemimpin Jama’ah Islam (bukan Jama’ah terbuka), penguasa musyrik malah menuduhnya sebagai tukang sihir yang perlu disembuhkan, dan pengacau di masyarakat yang diancam akan dibunuh, mirip seperti tuduhan Teroris saat ini yang disematkan kepada Pengemban Da’wah yang ikhlash dan tidak melakukan kekerasan.
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya."[QS:8.30]
Ia, terus terang ane tersinggung dengan ucapan antum yang menganggap usaha pembelaan Ustadz Abu Bakar Ba’syir sebagai lelucon. Antum pernah membaca nggak tentang apa yang dilakukan kaum muslimin dalam upaya pembebasan Syaikh antum sendiri, Syaikh Sayyid Quthb Rahimahullah. Beliau, dengan ketegasannya di dalam pendiriannya menarik simpati dunia Islam, bahkan dari Ulama kalangan Salafi sekalipun. Tetapi kini, antum menertawakan orang-orang yang berusaha membebaskan diri dari tuduhan teroris. Masya’Allah.
Haramnya dari Demokrasi sebagai sistem kufur, berarti kaum muslimin tidak boleh menggunakan Demokrasi sebagai metode mengambil keputusan dan hukum, dan tidak boleh menerapkan aturan yang tidak sesuai Syari’at.
Usaha-usaha mendukung Perda syari’ah atau UU yang mendukung Syari’at dengan seminar, mashirah, dll, atau pembelaan terhadap Ikhwan yang dituduh teroris atau tertangkap Densus dengan tuduhan teroris padahal bukan, tidak dianggap sebagai perbuatan mendukung Demokrasi. Karena perbuatan tersebut adalah upaya untuk mencegah kejahatan Demokrasi dan tidak menggunakan metode Demokrasi dalam memutuskan atau menetapkan hukum.
Jelas hal itu berbeda dengan membolehkan Demokrasi, karena HT, MMI, dan Ansharut-Tauhid tidak menggunakan metode Demokrasi dalam menetapkan dan memutuskan Hukum, tidak terlibat Pemilu, dan berjuang mengganti demokrasi.
Antum keliru mengatakan Ustadz Ismail Yusanto membuat pengaduan UU pornografi, tetapi di Link itu tidak ada. Yang ada adalah HT dan TPM berjuang mempertahankan UU pencegahan, penyalahgunaan, dan/atau penodaan agama.
Allaahu’alam bi-ash-showwab.

 

Fajar Agustanto

Riyan Zahaf : Masya Allah, akhi. Kenapa yah orang-orang seperti antum ini kok susah sekali diajak mengenal esensi atau nilai dari kontekstual yang ingin disampaikan.
Diatas sudah jelas, yang dibahas adalah NILAI KEPEMIMPINAN. SEBENTAR MAUPUN… LAMA seseorang memimpin, maka itu sudah dianggap seseeorang telah pernah memimpin.
Hehehe… saya tidak membahas masalah "MAKAR" kaum Quraisy!
Sudah berkali-kali saya tegaskan bahwa kepemimpinan Rasulullah itu ditempa sebelum beliau diamanahi oleh Allah untuk mendakwahkan Islam. Hehehe… kok jadi kayak "BOLOT" gini yah 😀
Diatas sudah saya jelaskan bahwa saya ingin membahas masalah KEPEMIMPINAN!
Ketika kekuasaan Islam dipimpin oleh Rasulullah sampai kepada Sahabat sekalipun, beliau-beliau tidak hanya memimpin para mu’min. Tetapi seluruh orang-orang yang berada pada wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah. Nah tentu saja Rasulullah juga memimpin kaum musyrik, Yahudi dan Nashrani yang ada pada wilayah Khilafah!
AFWAN, ANTUM COBA LIHAT SIRRAH NABAWIYAH. JANGAN BERDEBAT DENGAN AKAL ANTUM, SEDANGKAN ANTUM TIDAK MEMBAWA DALIL SAMA SEKALI. KECUALI PRASANGKA YANG ANTUM JADIKAN DALIL! ooo 😀 Yaa Rabb.
Maaf, jika antum tersinggung dengan kalimat saya. Tentang Ustad Abu Bakar Ba’syir. Saya dulu juga sempat kagum dengan beliau, bahkan ada salah satu artikel saya yang pernah dimuat di media nasional juga membela beliau saat sekitar tahun 2003. Tetapi akhirnya realitas ucapan dan perbuatan tidak "seimbang"! 🙂
Dan saya tidak pernah menertawakan beliau terhadap tuduhan teroris. (Sebaiknya antum harus berhati-hati dalam setiap kalimat tuduhan yang antum berikan, karena ada pertanggung-jawabannya kelak). Yang saya jadikan "lelucon" yang tidak lucu itu adalah ustad Ismail Yusanto bukan ustad Abu Bakar Ba’asyir.
Bagaimana mungkin antum berkata seperti itu, masa antum lupa dengan "Negara kafir adalah negara yang di dalamnya diterapkan hukum-hukum kufur dan keamanan negara tersebut berada di bawah keamanan bukan Islam."
Jadi bagaimana bisa seorang yang mengharamkan Qanun Demokrasi tetapi memakainya untuk dijadikan pembelaannya? Ini ibaratnya seorang minum khamr dengan alasan agar bisa kuat.
Bagi yang tidak mengharamkan Demokrasi tentu hal itu bukan sebuah khamr. Tetapi sebuah wasilah untuk melaju pada marhala training kepemimpinan kedepan. Yaitu persiapan memimpin kelak ketika memang Allah telah "menghadiahkannya" khilafah tersebut. Jadi sudah terlatih dalam memimpin sebuah daerah.
Dalam hukum, pelaku hukum itu terbagi menjadi dua. Yaitu Pelaku aktif dan pasif, pelaku aktif itu adalah Polisi, Jaksa, Hakim, Pengacara. Sedangkan pelaku hukum pasif itu adalah Seluruh orang yang berada pada wilayah hukum.
Jadi setiap orang yang berada pada wilayah hukum ini, mengakui atau tidak Undang-undang "Demokrasi" maka mereka termasuk pelaku hukum pasif. Jadi kita semua yang ada disini, mematuhi Undang-Undang hasil dari demokrasi! Nah lalu, bagaimana bisa ada yang mengkufurkannya (demokrasi) sedangkan dia masih aktif menjadi pelaku hukum pasif Demokrasi?
Afwan akhi, ana tidak membahas masalah demokrasi, karena pertanyaan antum tersebut insya Allah sudah saya jawab berulang-ulang diblog saya. Silahkan kunjungi ini —> https://suara01.wordpress.com/2010/04/07/kumpulan-tanya-jawab-masalah-demokrasi-haram-atau-tidak/
Sebelum berkomentar, sebaiknya dibaca seluruhnya dulu yaa akhi. Jangan membaca hanya sekedarnya, tetapi setiap membaca itu dipikir dan dicerna sebelum berkomentar. Karena sesungguhnya tingkat intelektual seseorang itu bisa dilihat ketika menjawab sesuatu.
Yo wes, saya salah. Bukan UU Pornografi. Tetapi UU penodaan Agama. 😀
Tetapi bukankah sama hakekatnya. "Meminum Khamr untuk kesehatan dan kekuatan".
Esensinya yang ingin saya katakan itu bukan "Undang-Undang Pornografi atau Penodaan Agama". TETAPI, cara-cara dalam pelaporan tersebut adalah cara yang masuk wilayah fatwa haram Hizbut Tahrir. Dengan sangat jelas Hizbut Tahrir menyatakan Undang-Undang "Negara kafir adalah negara yang di dalamnya diterapkan hukum-hukum kufur dan keamanan negara tersebut berada di bawah keamanan bukan Islam."
Lah kok masuk kedalamnya dengan sesuai prosedur hukum-hukum kufur. Bukankah hal ini "lelucon" yang tidak lucu!
Wallahu’alam

 

Riyan Zahaf

‎@Fajar Agustanto:
Alhamdulilllah, ane memang bolot. Apalagi, ane tidak menemukan pendapat Takwil antum atas dalil-dalil yang antum kemukakan dari Ulama yang terkenal penulis shirah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam, seperti di Kitab shira…h Dr. Ramadhan Al Buthi’, Kitab Shirah Ibnu Hisyam (terjemah), Mubarakfuri, dan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Q. Antum mengemukakan takwil atau pemahaman kontekstual bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam adalah Pemimpin Qurays Musyrikin di mekah. Maafkan, atas ke-Bolot-an ane ya.. 🙂
Di dalam shirah ibnu hisyam dikemukakan:
——————–
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam telah mengumpul Bani Fihr dan Bani ‘Adi di atas bukit Safa. Semua mereka turut hadir dalam pertemuan itu. Bagi mereka yang uzur tidak dapat hadir, mereka menghadirkan perwakilannya. Di situlah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam berdiri lantas berkata:
"Apakah kamu sekelian akan percaya atau tidak sekiranya aku ceritakan bahawa di sebalik bukit ini ada sekumpulan musuh yang akan menyerang kamu?".
Jawab mereka:
"Sudah pasti kami akan percaya kerana kami belum pernah mendengar lagi percakapan dusta darimu".
Kemudian RasuluLlah SallaLlahu ‘alaihi Wasallam menambahkan:
"Sesungguhnya aku ini pembawa berita yang menakutkan yaitu akan datangnya suatu azab yang sangat menakutkan".
Abu Lahab pun bangun lalu menjawab:
“Binasalah engkau hai Muhammad, apakah hanya untuk ini saja yang engkau kumpulkan kami?”
Setelah itu maka turunlah ayat Al—Qur’an yang berbunyi:
( تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ( 1
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.“(Surah Al—Lahab 111:1)
——————–
Dari dalil ini terkait dengan permulaan dakwah beliau shallallaahu ‘alaihi wa salam secara terang-terangan. Awalnya saja, sudah semikian keras penolakan masyarakat Mekah, kecuali sebagian kecil. Bagaimana mungkin, Nabi shallalllaahu ‘alaihi wa salam diangkat sebagai pemimpin orang-orang musyrik Mekah??
Antum mengatakan:
"Dalam hukum, pelaku hukum itu terbagi menjadi dua. Yaitu Pelaku aktif dan pasif, pelaku aktif itu adalah Polisi, Jaksa, Hakim, Pengacara. Sedangkan pelaku hukum pasif itu adalah Seluruh orang yang berada pada wilayah hukum. "
Pertanyaan ane, hukum apa yang menjadi dalil buat antum?? apakah bersumber dari Fiqh Islam, yaitu Qur’an, Sunnah shahihah, Ijma’ Shahabat dan Qiyash Syar’i, atau dari teori hukum Barat Kufur? Di dalam Islam, justeru dipisahkan kedudukan pelaku hukum antara rakyat yang mengalami pemaksaan dan kezhaliman hukum kufur demokrasi dengan penguasa yang menerapkan hukum kufur demokrasi. Pemisah diantara mereka adalah mengikuti dan menta’ati pemimpin yang zhalim atau menasehati dan berusaha sedapat mungkin (mastatho’tum) untuk iftiraq (memisah) dari mereka.
"Sungguh, akan ada para pemimpin (penguasa) yang berbohong dan zalim. Siapa saja yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan golonganku dan aku
bukan golongannya: ia tidak akan menemaniku di Telaga al-Kautsar. Sebaliknya, siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka, ia termasuk golonganku dan
aku termasuk golongannya: ia akan menemaniku menikmati Telaga at-Kautsar"(HR Ahmad).
"Akan ada pada akhir zaman, para pemimpin (penguasa) zalim, para wazir fasik. para hakim khianat dan fukaha pembohong. Siapa saja dari kalian yang menjumpai zaman itu janganlah menjadi bagi mereka
sebagai pemungut pendapatan (pajak), expert (penasihat), polisi dan bendahara mereka"(HR ath-Thabrani dan aI-Baghdadi).
Cara-cara pelaporan tersebut bukan dalam kerangka menghormati sistem demokrasi kufur, tetapi menasehati penguasa agar senantiasa memegang hukum Islam.
Allaahu’alam bi-ash-showwab.

 

Fajar Agustanto

Riyan Zahaf: 🙂
Masya Allah akhi.. akhi. Antum tidak menyebutkan takwil mana yang salah dalam penulisan saya. Jika antum tidak menyebutkan dimana letak kesalahan saya, maka antum berdusta serta menfitnah saya!
Insya Allah saya disini memegan…g 2 kitab Sirrah. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy dan Ibnu Hisyam! Bagamanai antum menfitnah saya bahwa tidak ada kalimat takwil dalam kitab Sirrah, sedangkan saya meng-copy pastenya itu dari Sirrah mereka-mereka? Na’udzubillah Tsummah Na’udzubillah. Antum berdusta! Kalau hanya berdasar pada nama-nama "parawi" sirrah yang antum sebutkan, sungguh antum bisa melihatnya di toko buku dan mencatat nama-nama itu, atau paling nggak bisa lihat di google. Tetapi antum tidak membacanya! Antum ketahuan bohongnya, masya Allah! (tapi tenang, saya sudah tahu kebiasaan itu :D)
Saya tidak akan mengulang kalimat PEMIMPIN lagi, semua sudah terlihat jelas diatas. Kecuali hawa nafsu antum yang membuat mata antum kabur dengan kebenaran diatas.
———————————————————————————–
Baik sekarang masalah Abu Lahab
Dalam kalimat itu jelas, ketika Rasulullah mengumpulkan para bani dan seluruh orang quraisy dan memberitakan ke-Rasulan-Nya, maka mereka berkata
"Kami belum pernah mendengar ada kedustaan keluar dari lisanmu. Benar. Kami tidak pernah menyerap darimu kecuali kejujuran, karena Engkau adalah Al Amin!" (Ucap mereka)
Setelah itu Rasulullah berkata " Sesungguhnya aku adalah pembawa peringatan dari sisi Allah sebelum datangnya ‘adzab yang besar.."
Ketika kalimat itu belum terselesaikan. Maka tiba-tiba seorang lelaki kulit putih, bermata juling, dan berpakaian sutera dengan sikap badan menantang maju ke depan, sambil mengacungkan telunjukknya kewajah Rasulullah. Dia berteriak:
"Tabban laka Ya Muhammad!! Alihaadza jama’tanaa?!! (Binasa engkau Muhammad!! Apakah untuk urusan remeh ini kami semua kau kumpulkan?!)
Setelah itu Rasulullah turun dan melaksanakan firman Allah "Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat" dengan mengumpulkan semua keluarga dan kerabatnya lalu berkata kepada mereka (Rasulullah) "Wahai bani Ka’b bin Lu’ai, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahabi bani Abdi Syams, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai fathimah, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Sesungguhnya, aku tidak akan dapat membela kalian di hadapan Allah selain bahwa kalian mempunyai tali kekeluargaan yang akau sambung dengan hubungan-Nya" (Muttaafaq ‘alaih)
Beberapa orang yang belum kenal dengan lelaki yang berkata itu kepada Rasulullah, bertanya-tanya "Siapa dia?"
Seseorang berkata "Pamannya. Abu lahab."
Maka turunlah ayat "Tabbat yadaa Abi lahaabiw w Tabb!" (Binasalah kedua tangann Abu Lahab dan benar-benar binasa!"
Nama itulah yang abadi di dalam Al Quran sebagai lambang penentang da’wah!
SEKARANG PERHATIKAN DEFINISI ANTUM!
Antum mengatakan yang menolak masyarakat Mekkah! Dan hanya sebagian kecil yang menerima!
Jawaban:
1. Seandainya itu sebagian besar masyarakat Mekkah, maka semua orang akan berkata itu kepada Rasulullah. Tetapi buktinya tidak!
2. Seandainya itu sebagian besar masyarakat Mekkah, tentu ayat itu tidak hanya akan diturunkan hanya kepada Abu Lahab dan Abu Jahal, tetapi seluruh penduduk yang ada di Mekkah seperti kaum-kaum sebelumnya.
3. Antum menafikkan sirrah ketika Rasulullah menjadi pemimpin gembala sesuai dengan hadits yang saya sebutkan diatas!
4. Antum menafikkan sirrah tentang diangkatnya Rasulullah menjadi seorang yang memimpin meletakkan hajjar Aswad yang sudah mashur ada disemua sirrah, Insya Allah (sesuai yang saya baca di Sirrah Ibnu Hisyam dan Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy)
5. Antum tidak mengetahui Tahapan (marhalah) dakwah Rasulullah sehingga antum menyatakan dengan langsung bahwa kaum quraisy dan bani yang lain tidak menerima dakwah Rasulullah. Padahal ada masa-masa dimana dalam Sirrah dijelaskan ada beberapa tahapan sebelum Rasulullah berkata seperti itu!
6. Perkataan rasulullah dalam menyampaikan ke Rasulan-Nya adalah mengejutkan bagi orang-orang Quraisy dan bangsa arab pada umumnya. Karena hal ini adalah tidak pernah terpikirkan oleh mereka dan asing bagi mereka tetapi itu adalah pembuka jalan pikiran mereka atas ke-taklidan mereka terhadap nenek moyangnya
Dengan ini sudah jelas, Antum NGAWUR dalam mentakwilkan. Antum mentakwilkan dengan Akal tanpa referensi yang jelas!
—-SEKARANG APAKAH "KEBOLOTAN" ITU MEMANG BENAR?————-
Sekarang masalah Hukum:
Tentu saya menyatakan itu "Dalam hukum, pelaku hukum itu terbagi menjadi dua. Yaitu Pelaku aktif dan pasif, pelaku aktif itu adalah Polisi, Jaksa, Hakim, Pengacara. Sedangkan pelaku hukum pasif itu adalah Seluruh orang yang berada pada wilayah hukum."
Adalah pengertian hukum positif yang legal di Indonesia, dan itu adalah hukum produk demokrasi!
Hehehe…. Afwan akhi. Ana kok selalu geli yah jika berdebat dengan orang seperti antum. Kayaknya nggak nyambung dengan tema yang dibicarakan.
JELAS-JELAS yang diatas adalah HUKUM DEMOKRASI
Antum pake dalilnya nggak nyambung. Hehehe… Kita ini membicarakan demokrasi dan prosedurnya, bukan membicarakan qanun dalam syari’at Islam. Wah..wah… susah…susah kalau banyak kadernya yang seperti ini. 😀
FOKUS AKHI… FOKUS YAH!
Kita membahas orang-orang yang memperjuangkan Syari’at Islam tetapi mereka Mengharamkan Demokrasi. Sedangkan falsafah hukum demokrasi itu seperti yang saya sebutkan. (INGAT DEMOKRASI)
Antum pake dalil seharusnya yang membolehkan "meminum khamr untuk kesehatan" (Menghalalkan Demokrasi tetapi Prinsipnya haram). Nah sekarang dalilnya mana? Kalau antum pake dalil dengan hadits yang antum sebutkan malah menjadikan senjata makan tuan dari golongan antum yang senang mengharamkan sesuatu tetapi dilakukannya sendiri 😀
hadits diatas malah menjadikan pemimpin-pemimpin seperti Ustad Ismail Yusantu menjadi "tersangka" dalam dalil yang antum sebutkan. Hehehe 😀
Antum jangan berkelit akh, hal ini sama saja dengan bersilat lidah seperti biasanya yang ana jumpai. 😀
Sistem demokrasi itu tidak dihormati dengan cara-cara "fisik" tetapi menghormatinya dengan sesuai prosedur demokrasi. Ibaratnya antum berada dirumah seseorang, maka antum harus mengikuti cara-cara yang dipakai oleh pemilik rumah. Walaupun tidak setuju dengan cara-cara seperti itu, pasti tetap akan antum lakukan. Atau jika memang tidak mau maka harus keluar dari rumah itu (Indonesia).
Nahkan, sudah jelas sekali. Kalau Hizbut Tahrir sendiri mengikuti cara-cara demokrasi yang mereka haramkan. Mulai dari mendaftarkan sebagai organisasi Islam kemasyarakatan sampai cara-cara mengadukan perso’alan hukum ke pengadilan. SEMUA ITU CARA-CARA SISTEM DEMOKRASI YANG DIPAKAI.
Insya Allah ana mengenal tabiat-tabiat kader HT karena ana sendiri dulu juga berada disitu. Sampai sekarang masih ada saksinya kalau ana pernah ngikut HTI,Blog beliau juga sampai sekarang masih sangat aktif kalau mencela-cela partai Islam diluar Hizbut Tahrir.
Seringkali berbohong dalam berhujjah, atau bahkan berdusta untuk memenangkan sebuah perdebatan. Beliau jika bertemu dengan saya diblog, tidak pernah menjawab. Karena memang mungkin takut dusta-dustanya terbongkar 😀
Saya tidak ingin menuduh antum berdusta, tetapi cara-cara debat/dialog antum ternyata juga hampir semuanya sama 😀
Mari kita dialog dengan sehat. Mencari kebenaran dan bukan mencari pembenaran. Jika salah katakan dimana letak kesalahannya dan jika benar katakan itu benar. Jangan malu mengakui kebenaran, karena jika itu terjadi maka akan terus terbutakan oleh keburukan!
Saya sudah mengemukakan semua dalil-dalil yang sesuai dengan konteks kepemimpinan, tetapi antum menyatakan bahwa semuanya salah dan tidak pernah ada dalam takwil sirrah manapun. Masya Allah, ini adalah kedustaan yang nyata. Masa seorang muslim berdusta? Na’udzubillah tsumma na’udzubillah!
Semoga Allah membukakan pintu taubat bagi para pendakwah yang senang berdusta. Amien
Wallahu’alam

 

Riyan Zahaf

Akhi Fajar Agustanto:
@Fajar Agustanto:
Ane tidak mengatakan antum berdusta, insyaAllah riwayat yang antum kemukakan tersebut memang benar adanya dari kitab-kitab shirah. Tetapi, yang ane kritisi disini adalah pemahaman takwil antum terhadap …nash-nash tersebut, dimana antum memahami bahwa:
"Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam adalah pemimpin (pemuka) orang-orang musyrik di mekah."
Ane memahami bahwa dalil-dalil tersebut adalah bukti bahwa rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam adalah orang yang memiliki kapasitas sebagai pemimpin, tetapi rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bukanlah pemimpin (pemuka) masyarakat musyrik di Mekah. Dasar pemahaman ane ini adalah karena, tidak ane jumpai perkataan yang terkait dengan takwil antum tersebut. Di dalam kitab shirah yang disusun oleh Prof. Dr. muhammad rawwas qal’ahji, dikemukakan (ane kutib secara ringkas):
———————–
"1. Menyiapkan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa salam menerima kepemimpinan.
Merupakan suatu keharusan mempersiapkan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa salam secara khusus-utamanya kebiasaan-kebiasaan terpuji yang diciptakan oleh Allah Subhana wa Ta’ala untuknya dalam rangka menyempurnakan kemampuannya dengan sungguh-sungguh "SEBELUM BELIAU DISERAHI KEPEMIMPINAN". Persiapan-persiapan ini meliputi:
a. Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa salam menggembala kambing.
…………………..dst
b. Banyak melakukan Safar
…………………..dst
c. Mengalami mimpi yang nyata (Ru’yah ash-shadiqah)
…………………..dst
d. Pepohonan dan bebatuan memberi salam kepada beliau
…………………..dst
e. Senang mengasingkan diri
…………………..dst"
———————-
Kemudian terkait dengan jawaban antum, atas pernyataan ane yang berbunyi:
"Dari dalil ini terkait dengan permulaan dakwah beliau shallallaahu ‘alaihi wa salam secara terang-terangan. Awalnya saja, sudah semikian keras penolakan masyarakat Mekah, kecuali sebagian kecil. Bagaimana mungkin, Nabi shallalllaahu ‘alaihi wa salam diangkat sebagai pemimpin orang-orang musyrik Mekah??"
Akhi, benar yang mengatakan pada saat turunnya ayat ke 1 surah Al-Lahab itu adalah abu lahab bukan mayoritas masyarakat Mekah. Tetapi, yang menolak da’wah nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam bukan hanya Abu Lahab. Pada saat muncul perkataan tersebut, mayoritas yang hadir lainnya hanya DIAM, tetapi sebagai tanda persetujuan terhadap apa yang dikemukakan oleh Abu Lahab. Hal ini menandakan bahwa mayoritas yang hadir lainnya masih mengikuti pemikiran Abu Lahab yang membenci da’wah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam.
Yang ane pahami, perkataan ane tersebut lebih sesuai dengan fakta, dan terdapat Ayat dan pendapat ulama yang menyatakan sedikitnya pengikut beliau shallallaahu ‘alaihi wa salam di Mekah. Secara fakta:
1)jumlah yang menghadiri bai’atul aqabah 1 adalah sekitar 12 orang laki2.
2)jumlah yang hijrah ke habasyah sekitar 83 orang.
3)jumlah yang menghadiri bai’atul aqabah 3 adalah sekitar 72 orang laki dan 2 perempuan.
Bukankah, ketika ditotalkan, angka-angka tersebut jauh lebih kecil dari tentara musyrikin pada saat perang Badar (1000 orang) apalagi terhadap jumlah total masyarakat musyrik Mekah pada waktu tersebut??
Kemudian, dari ayat surah al-anfal ayat 26:
وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الأرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah SEDIKIT, LAGI TERTINDAS di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur"[QS:8.26]
Al Qur’an, menggunakan kata "Qalilu" (sedikit) terhadap pengikut nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam pada saat di Mekah, dimana ayat ini diturunkan di Medinah. Al Hafidz Imam ibnu katsir rahimahullah menafsirkan:
—————-
"Allah Subhana wa Ta’ala, Segala Puji bagi-Nya, mengingatkan orang-orang yang beriman hamba-Nya akan segala Rahmat dan Kemurahan-nya pada mereka. Ketika mereka dulu masih berjumlah sedikit, dan Dia membuat mereka berjumlah banyak. Dan ketika mereka dulu lemah dan dipenuhi rasa takut, kemudian Dia membuat mereka menjadi kuat dan menang. Dan ketika mereka dulu tertindas dan miskin, dan kemudian Dia menjamin mereka rezeki dan nafkah. Dia memerintahkan mereka untuk bersyukur kepada-Nya, dan menta’ati-Nya, dan melaksanakan apa yang Dia perintahkan.
Ketika orang-orang beriman masih di mekah, jumlah mereka sedikit dan menjalankan agama mereka secara diam-diam, tertindas dan takut kepada kezaliman orang musyrik, majusi dan nasrani yang kemungkinan menculik mereka dari tempat mana saja di bumi Allah Subhana wa ta’ala. Mereka yang memusuhi adalah musuh Islam, khususnya ketika Muslim dalam keadaan lemah dan sedikit. Kemudian, Allah mengizinkan orang-orang beriman untuk berhijrah ke al Madinah, dimana Allah Subhana wa ta’ala mengizinkan mereka untuk tinggal di tempat yang lebih aman. Allah Subhana wa Ta’ala membuat orang-orang di Medinah sebagai kawan mereka, memberikan perlindungan, dan mendukung mereka selama perang Badar dan perang lainnya. Mereka adalah kaum yang menolong muhajirin dengan memberikan harta dan nyawa mereka sekalipun dalam rangka keta’atan kepada Allah Subhana wa ta’ala dan rasul-Nya.
—————-
Terkait hadist riwayat Imam ahmad dan Tabhrani tersebut, hadist tersebut ditujukan kepada semua kaum muslimin. Yang hikmahnya adalah :
1) haram mengikuti kezaliman penguasa
2) tidak menjadi pejabat, polisi, tentara, dan hakim penguasa yang zalim.
Adapun apa yang dilakukan HT dan TPM untuk mempertahankan UU yang melarang penodaan dan penistaan agama adalah tidak menggunakan cara-cara Demokrasi, dan tidak ditujukan untuk memuliakan demokrasi (sistem kufur). Itu semua adalah dalam rangka nasehat kepada penguasa untuk mempertahankan UU yang sesuai dengan Syara’, sambil terus menasehati mereka agar menerapkan Sistem yang sesuai syara’ secara keseluruhan, yaitu sistem Khilafah ala al-minhajun-nubuwwah. Nabi Musa ‘alaihis-salam meminta Fir’aun untuk membebaskan Bani Isra’il tidak dalam kerangka menghormati Kekufuran Fir’aun. Ja’far bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu meminta perlindungan keselamatan dari kejaran musyrikin kepada Raja Najasyi, bukanlah dalam kerangka menghormati Sistem kufur di kerajaan Najasyi. Begitupula, HT dan TPM tidak mengikuti kemungkaran penguasa dengan mendukung UU yang melindungi penodaan dan penistaan agama tersebut, karena dengan UU tersebut, ahmadiyyah dan ajaran sesat penghina Islam akan sulit untuk eksis.
Kalau antum mantan HT, tapi ternyata tidak ada bekas sedikitpun pemikiran HT di dalam pendapat antum. Diskusi tentang Demokrasi sistem kufur ini memang tidak bisa nyambung antara antum dan ane. Karena antum sendiri membenarkan hukum kufur Demokrasi, sedangkan ane menolaknya. Lebih baik diskusi tentang Demokrasi sistem kufur ini di threat atau status yang lain saja. Kalau antum mengatakan (INGAT DEMOKRASI), maka ane mengatakan kepada ane dan antum agar ingat kepada Allah (Dzikrullah) dan ingat kepada kematian (Dzikrul-maut).
Alamat blog antum apa? Terima kasih juga, syukran Jazzakalaahu khaair.
Allaahu’alam bi-ash-showwab.

 

Fajar Agustanto

‎@Riyan Zahaf: Akhi… afwan tidak perlu bersilat lidah terus!
Dikalimat mana saya mengatakan bahwa Rasulullah menjadi Pemimin (pemuka) orang Quraisy?
Antum sendiri yang berprasangka seperti itu. Saya hanya ingin mengungkapkan fakta bahwa Ra…sulullah sebelum menjadi Pemimpin kaum muslimin sudah menjadi "Pemimpin"! Ingat tanda petiknya.
Pentakwilan bahwa Rasulullah pernah memimpin peletakan Hajar Aswad, memimpin penggembalaan adalah salah satu contoh yang benar dalam sirrah. Seperti yang dinyatakan dalam kitab Sirrah Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy ataupun Ibnu Hisyam!
Kalau antum menyalahkan apa yang saya tulis, berarti antum menyalahkan Sirrah yang ditulis oleh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy dan Ibnu Hisyam!
Bukti-bukti kepemimpinan Rasulullah itu sudah ada sejak beliau dilahirkan. Apakah ketika saya menyatakan jika keluarga Rasulullah adalah menempati posisi tertinggi diantara Bani yang lain, berarti keluarga Rasulullah itu adalah Pemimpin (pemuka) seluruh bani? Tidak! Tetapi mereka adalah keluarga yang dihormati, yang mempunyai kredibilitas yang disegani oleh kelompok lain! Jadi naif sekali ketika kita menafikkan bukti-bukti "kepemimpinan" Rasulullah disaat beliau belum diamanahkan menjadi Rasul!
Kutipan antum, menjadi senjata makan tuan sendiri akhi. Antum menuduh lagi! (menuduh terus neh hehehe). Antum menyatakan takwil saya tidak ada dalam penulisan sirrah Prof. Dr. muhammad rawwas qal’ahji:
"1. Menyiapkan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa salam menerima kepemimpinan.
Merupakan suatu keharusan mempersiapkan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa salam secara khusus-utamanya kebiasaan-kebiasaan terpuji yang diciptakan oleh Allah Subhana wa Ta’ala untuknya dalam rangka menyempurnakan kemampuannya dengan sungguh-sungguh "SEBELUM BELIAU DISERAHI KEPEMIMPINAN". Persiapan-persiapan ini meliputi:
a. Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa salam menggembala kambing.
…………………..dst
b. Banyak melakukan Safar
…………………..dst
c. Mengalami mimpi yang nyata (Ru’yah ash-shadiqah)
…………………..dst
d. Pepohonan dan bebatuan memberi salam kepada beliau
…………………..dst
e. Senang mengasingkan diri
…………………..dst"
———————-
Inilah buktinya (COPY PASTE DARI TULISAN SAYA DIATAS)
1. Allah menurunkan Rasulullah sebagai "pemimpin" itu bukan simsalabim, tetapi ada proses untuk menuju kepemimpinan beliau. Di Sirrah nabawiyah/ Tarekh sudah digambarkan dengan jelas dan gamblang bagaimana seorang Rasulullah menjadi seorang pemimpin sebelum diamanahi untuk mendakwahkan Islam.
2. Islam datang dengan persiapan, Syari’at datang dengan penuh kematangan. Syari’at Islam tidak bisa dijalankan manakalah setiap orang Islam belum mengerti tentang syari’at Islam, apalagi qanun dalam syari’at!
3. Tidaklah patut orang yang tidak pernah mendapatkan/menjalani sebagai pemimpin lalu langsung diamanahi dengan kepemimpinan yang besar kecuali kehancuran yang akan kita dapatkan, apalagi rasa malu dengan olok-olokan "ITUKAH YANG KALIAN BANGGA-BANGGAKAN"
4. Mulai dari periode kelahiran Rasulullah. Allah telah memberikan jiwa kepemimpinan kepada beliau (Rasulullah Muhammad Saw) dengan menjadikan beliau lahir didalam keluarga yang terhormat, keluarga yang nasabnya sangat baik dan mempunyai posisi tinggi didalam bani yang lain.
5. Dalam ke-Yatim-an Rasulullah, Allah telah memberikan rencana yang sangat "cantik", dengan menjadikan Rasulullah Yatim, maka tidak akan ada orang yang akan menuduh ajaran yang dibawanya (Islam) sebagai produk dari Ayah/ibunya. Ini jelas kepemimpinan beliau dalam mengelola dakwah beliau adalah hasil dari "penempaan" dan pembelajaran beliau saat ke-yatim-annya.
6. Ketika bersama kakeknya (Abdul Mutthalib) Rasulullah belajar banyak kepemimpinan, sehingga tak salah ketika kakek beliau (Abdul Mutthalib) berkata "biarkan dia! Karena demi Allah sesungguhnya ia mempunyai karakter tersendiri." Nah, karekter itu tidak dibentuk dengan serta merta "JADI", tetapi itu ditempa dengan kuat oleh pendirian. Tentu semua hal ini tidak terlepas dari "tangan-tangan" Allah.
7. Orang Mekkah saat itu sudah mempercayai Rasulullah untuk "memimpin" penggembalaan kambing milik seluruh penduduk Mekkah. Maka dari itu ketika itu Rasulullah bersabda "bahwa tidak seorangpun dari seorang Nabi kecuali ia telah mengembala kambing, kemudian beliau saw. di Tanya: dan anda bagaimang wahai Rasulullah? Beliau saw. menjawab: saya juga” (Muwattha’ oleh Imam Malik, Jilid: 2, Hal: 971, “hal ini adalah termasuk al Balaghat”.).
8. Ketika peletakan Hajar Aswad, semua bani berseteru ingin mendapatkan kehormatan untuk meletakkannya, perseteruan itu hingga sampai akan terjadi peperangan diantara para bani, tetapi apa yang terjadi, semua bani itu setuju ketika Rasulullah Muhammad Saw, yang "MEMIMPIN" untuk meletakkan Hajar Aswad, bahkan mereka berkata " dia adalah orang yang terpercaya dan jujur, kami rela dengan keputusannya" Peristiwa peletakkan Hajar Aswad ini menjadikan tolak ukur bagaimana Rasulullah mampu "MEMIMPIN" setiap Bani yang berseteru kala itu. Sehingga dengan Kepemimpinan beliau (Rasulullah), memerintahkan untuk setiap Bani memegang setiap sudut kain yang diatasnya diletakkannya Hajar Aswad oleh Rasulullah kala itu.
Dengan kepemimpinan beliau tersebut (sebelum diamanahi mendakwahkan Islam), Rasulullah sudah menjaga darah orang Arab untuk berseteru saling menumpahkan dara.
9. DAN ANTUM HARUS MEMBACA DULU SEBELUM MENJAWAB PERTANYAAN. DENGAN INI ANTUM JELAS TIDAK MEMBACA DENGAN BENAR APA YANG SAYA TULISKAN.
Jadi dimanakah letak kesalahan saya yang menyatakan bahwa Rasulullah sudah ditempa menjadi "pemimpin" sebalum diamanahi Allah untuk menjadi pendakwah Dien Islam?
Konteks yang ingin disampaikan oleh Prof. Dr. muhammad rawwas qal’ahj adalah, bahwa Rasulullah sebelum menjadi pemimpin umat Islam, beliau sudah ditempa terlebih dahulu oleh Allah sebagai "pemimpin". Hal ini sama dengan apa yang saya sampaikan. Berarti tidak ada kesalahan, kecuali antum yang mencari-cari kesalahan dan bertaklid pada TEKSTUAL sebuah kalimat semata!
————————————————————————————

Tentang Abu Lahab:
Antum menyatakan bahwa :
Akhi, benar yang mengatakan pada saat turunnya ayat ke 1 surah Al-Lahab itu adalah abu lahab bukan mayoritas masyarakat Mekah. Tetapi, yang menolak da’wah nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam bukan ha…nya Abu Lahab. Pada saat muncul perkataan tersebut, mayoritas yang hadir lainnya hanya DIAM, tetapi sebagai tanda persetujuan terhadap apa yang dikemukakan oleh Abu Lahab. Hal ini menandakan bahwa mayoritas yang hadir lainnya masih mengikuti pemikiran Abu Lahab yang membenci da’wah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam.
Jawaban saya:
Dengan ini antum jelas tidak memahami perjalanan dakwah Rasulullah dalam Sirrah! Seperti yang saya sudah sampaikan sebelumnya:
5. Antum tidak mengetahui Tahapan (marhalah) dakwah Rasulullah sehingga antum menyatakan dengan langsung bahwa kaum quraisy dan bani yang lain tidak menerima dakwah Rasulullah. Padahal ada masa-masa dimana dalam Sirrah dijelaskan ada beberapa tahapan sebelum Rasulullah berkata seperti itu!
Sekarang duluan mana, perkataan Rasulullah tentang ke-Rasulan-Nya dengan ketika beliau menggembalakan kambing dan ketika beliau memimpin peletakan hajar aswad?
Yang antum pahami sebagai fakta, malah membuat kita tertawa geli. Karena fakta yang antum kemukakan itu adalah tidak sesuai dengan masa/waktu dalam dakwah Rasulullah sebelum dan sesudah beliau diperintahkan untuk menyampaikan dakwah-Nya secara terang-terangan.
Antum menyampaikan dalil tidak sesuai dengan jedah waktu yang seharusnya diceritakan terlebih dahulu. Antum melompat-lompat dalam menceritakan sirrah. Sehingga sangat terkesan menutup-nutupi kebenaran. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah!
Saya tidak menyangkal bahwa pengikuti Rasulullah itu sedikit. Tetapi konteksnya sudah jelas, bahwa sebelum medakwahkan Islam, Rasulullah sudah dipercaya oleh orang-orang Quraisy, bahkan telah memimpin pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ada kala itu. Ibaratnya Rasululllah itu ketua panitia. heheheh!! 😀
Masa ketua panitia kok dianggap pemimpin negara (pemuka), aneh2 saja!
Pahami sirrah dengan seutuhnya, jangan dipenggal-penggal bagai katak yang melompat-lompat kearah yang tak jelas!
————————————————————————————-
Terkait Hadits Imam Ahmad:
"Sungguh, akan ada para pemimpin (penguasa) yang berbohong dan zalim. Siapa saja yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan golonganku dan aku
bukan golongannya: ia tidak akan menemaniku di Telaga al-Kautsar. Sebaliknya, siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka, ia termasuk golonganku dan
aku termasuk golongannya: ia akan menemaniku menikmati Telaga at-Kautsar"(HR Ahmad).
Hal ini seperti yang antum katakan:
Terkait hadist riwayat Imam ahmad dan Tabhrani tersebut, hadist tersebut ditujukan kepada semua kaum muslimin. Yang hikmahnya adalah:
1) haram mengikuti kezaliman penguasa
2) tidak menjadi pejabat, polisi, tentara, dan hakim penguasa yang zalim.
Maka sesungguhnya haram mengikuti segala prosedur demokrasi, baik mulai pengaduan kepengadilan, membuat organisasi massa seperti Hizbut Tahrir, dan segala hal dari keputusan pemimpin yang dianggap seperti hadits diatas sudah selayaknya tidak di ikuti. Apalagi menjadi PNS, wah jelas ini haram bangets! 😀
Tetapi nyatanya juga tidak bisa bukan!!!
Akhi, cara seperti apakah yang dilakukan HTI dan TPM tanpa melalui prosedur Demokrasi? (TOLONG JAWAB YAH)
Tetapi buktinya juga jelas, Hizbut Tahrir menjadi salah satu organisasi yang juga memperjuangkan Undang-Undang Tersebut di Majelis Konstitutsi. Bukankah hal itu jelas prosedur untuk memasuki "rumah" hukumnya Demokrasi!
Hehehe. Dari dulu nasehatin orang terus, kayak sudah paling bener aja Hizbut Tahrir ini!
Jadi, kalau menasehati penguasa itu yah harus dengan cara-cara pemerintah yah? Tentunya dengan cara mengikuti segala prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah. Seperti mengikuti cara-cara hukum Demokrasi! 😀
Bedakan Hizbut Tahrir dengan Nabi Musa dan Ja’far bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu. Mereka jelas, tidak mengikuti cara-cara raja yang diperintahkan oleh Raja. Mereka bahkan berani menentangnya dan keluar dari negeri tersebut (Nabi Musa). Ja’far bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu, tidak pernah menundukkan tanda menghormat yang jelas menyalahi tauhid, padahal hal tersebut bisa mendapatkan hukuman mati. Tetapi mereka tidak mematuhi perintah-perintah tersebut!
Nah kasus ini berbeda dengan Hizbut Tahrir yang "menghalalkan Khamr untuk kesehatan". Nah mohon jangan samakan Hizbut Tahrir dengan kedua orang-orang yang mulia tersebut. Karena hal itu jelas sangat bertentangan dan berbeda sekali!
Setiap orang tidak boleh mengontrol pikiran orang lain. orang berhak menentukan apa yang dia pikirkan.
Maka dari itu, saya keluar. Karena banyak hal yang tidak sesuai dengan pernyataan Hizbut Tahrir sendiri! Ibarat orang telanjang, Hizbut Tahrir itu mengingatkan orang lain agar menutup aurat. Anehkan!?
Saya juga tidak terpengaruh (seutuhnya) oleh pemikran Syaikh Imam Hasan Al banna, tidak terpengaruh dengan pemikiran (seutuhnya) Syaikh Sayyid Quthb, (seutuhnya) Syaikh Yusuf Qaradhawi, tetapi saya terpengaruh oleh hal yang memang itu bisa diterima oleh apa yang saya pikir! Saya tidak ingin menjadi bebek-bebek harakah! Bisa jadi pemikirannya saya terima, boleh jadi tidak. Boleh jadi saya juga menerima pemikiran ulama yang lain yang bersebrangan dengan beliau-beliau.
Perbedaan saya dengan antum. Saya memperjuangkan hukum kufur untuk masuk kewilayah qanun syari’ah (walaupun) tidak bernama syari’ah Islam. Tetapi antum menafikkan hak prerogratif Allah dalam menentukan kemenangan. Dan rasa-rasanya Hizbut Tahrir sudah semakin menjadi "Nabi" baru yang suci dan tidak mempunyai dosa apapun. Padahal bejibun juga!
Sebelum berdiskusi tentang Demokrasi sistem kufur atau bukan, sebaiknya lihat threat saya yang lama diblog saya—-> https://suara01.wordpress.com/2010/04/07/kumpulan-tanya-jawab-masalah-demokrasi-haram-atau-tidak/
Dengan mempertanyakan blog saya, berarti antum dengan jelas tidak membaca dialog kita dengan serius, sehingga banyak sekali pernyataan antum yang akhirnya kembali menohok diri antum dan hizbut tahrir! Hal ini selalu sama dengan yang saya temui ketika berdialog dengan ikhwah-ikhwah di HTI. Saya lebih senang dengan ikhwah Hizby Salafy, ketika mereka tidak bisa menjawab maka mereka tidak akan bersilat lidah yang menambah malu diri mereka sendiri! Jika memang saya salah, saya akan mengakui kesalahan tersebut, tetapi jika kebenaran diakui sebuah kesalahan maka saya siap menjadi perisai kebenaran!
Wallahu’alam

Afwan Akhi tambahan yang terlewat!
Ini kalimat antum "… Kalau antum mengatakan (INGAT DEMOKRASI), maka ane mengatakan kepada ane dan antum agar ingat kepada Allah (Dzikrullah) dan ingat kepada kematian (Dzikrul-maut)."
Afwan akhi, antum kok… susah bener yang diajak fokus? Antum hanya membaca berdasarkan teks, tidak dicerna apalagi diperhatikan maksud-maksud yang ingin saya sampaikan. Ini menjelaskan antum berdebat dengan hawa nafsu dengan emosi! Hem…
————————————————-
Awal-awal kenapa saya menyatakan
"(INGAT DEMOKRASI)" itu bukan penekanan terhadap kita untuk mengikuti Demokrasi. Tetapi untuk menyadarkan antum, kalau yang kita bahas itu hukum undang-undang demokrasi, bukan qonun Syari’at Islam.
Lihat pernyataan saya, setelah itu pernyataan antum dan akhirnya kenapa ada kata (INGAT DEMOKRASI):
Saya (Fajar Agustanto):
Dalam hukum, pelaku hukum itu terbagi menjadi dua. Yaitu Pelaku aktif dan pasif, pelaku aktif itu adalah Polisi, Jaksa, Hakim, Pengacara. Sedangkan pelaku hukum pasif itu adalah Seluruh orang yang berada pada wilayah hukum.
Antum (Riyan Zahaf):
Pertanyaan ane, hukum apa yang menjadi dalil buat antum?? apakah bersumber dari Fiqh Islam, yaitu Qur’an, Sunnah shahihah, Ijma’ Shahabat dan Qiyash Syar’i, atau dari teori hukum Barat Kufur? Di dalam Islam, justeru dipisahkan kedudukan pelaku hukum antara rakyat yang mengalami pemaksaan dan kezhaliman hukum kufur demokrasi dengan penguasa yang menerapkan hukum kufur demokrasi. Pemisah diantara mereka adalah mengikuti dan menta’ati pemimpin yang zhalim atau menasehati dan berusaha sedapat mungkin (mastatho’tum) untuk iftiraq (memisah) dari mereka.
Saya (Fajar Agustanto):
Sekarang masalah Hukum:
Tentu saya menyatakan itu "Dalam hukum, pelaku hukum itu terbagi menjadi dua. Yaitu Pelaku aktif dan pasif, pelaku aktif itu adalah Polisi, Jaksa, Hakim, Pengacara. Sedangkan pelaku hukum pasif itu adalah Seluruh orang yang berada pada wilayah hukum."
Adalah pengertian hukum positif yang legal di Indonesia, dan itu adalah hukum produk demokrasi!
Hehehe…. Afwan akhi. Ana kok selalu geli yah jika berdebat dengan orang seperti antum. Kayaknya nggak nyambung dengan tema yang dibicarakan.
JELAS-JELAS yang diatas adalah HUKUM DEMOKRASI
Kita membahas orang-orang yang memperjuangkan Syari’at Islam tetapi mereka Mengharamkan Demokrasi. Sedangkan falsafah hukum demokrasi itu seperti yang saya sebutkan. (INGAT DEMOKRASI)
Antum (Riyan Zahaf):
"… Kalau antum mengatakan (INGAT DEMOKRASI), maka ane mengatakan kepada ane dan antum agar ingat kepada Allah (Dzikrullah) dan ingat kepada kematian (Dzikrul-maut)."
———————————————————————————–
Dengan kalimat (INGAT DEMOKRASI) saya itu ingin menekankan bahwa FOKUS PEMBICARAAN KITA ITU MENGENAI HUKUM DEMOKRASI YANG DIJADIKAN CARA MEMPERJUANGKAN UNDANG-UNDANG!
Bukan perbandingan antara Demokrasi dengan Islam. Hehehe… ini menjadi semakin lucu akhi. Antum benar-benar tidak fokus dalam pembicaraan. Sehingga ngalor-ngidul bingung mau jawab apa, sampai akhirnya jawabannya ngawur seenaknya!
Saya tidak menyuruh antum untuk menjalankan Demokrasi. Tidak, saya menghargai prinsip antum. Nah untuk menghargai prinsip itulah saya ingin menekankan.
KALAU TIDAK SETUJU DENGAN PRINSIP DEMOKRASI, MAKA JANGAN BERJUANG MELALUI CARA-CARA DARI PROSEDUR DEMOKRASI. MEMPERJUANGKAN DENGAN MELALUI MEKANISME SISTEM PROSEDUR PELAPORAN MAHKAMAH KONSTITUSI ITU SAMA HALNYA MENGAKUI DEMOKRASI ITU SENDIRI.
LALU APA BEDANYA DENGAN YANG BERADA DIPARLEMEN?
Dan walaupun antum tidak mengakui hukum demokrasi, suka atau tidak secara otomatis antum telah menjalankan sistem demokrasi. Itu sesuai dengan falsafah yang saya utarakan diatas! Yaitu:"Dalam hukum, pelaku hukum itu terbagi menjadi dua. Yaitu Pelaku aktif dan pasif, pelaku aktif itu adalah Polisi, Jaksa, Hakim, Pengacara. Sedangkan pelaku hukum pasif itu adalah Seluruh orang yang berada pada wilayah hukum."
Selama saya belajar hukum positif negara ini, tidak ada satupun orang yang diluar parlemen yang mampu merubahnya. Dan yang bisa merubahnya adalah orang-orang yang berada di Parlemen. Kecuali melakukan kudeta, itupun kalau berhasil!
Jadi kalau ada yang ingin merubah Undang-Undang Negara ini dengan cepat tanpa melalui parlemen. Yah indikasinya akan melakukan kudeta kalau sudah mempunyai jumlah massa yang kuat!

 

Riyan Zahaf

‎@akhi Fajar Agustanto:
Alhamdulillah, antum telah menetapkan kesimpulan bahwa:
1)"Saya tidak menyangkal bahwa pengikuti Rasulullah itu sedikit. Tetapi…"
2)"Ibaratnya Rasululllah itu ketua panitia."
…Itu sudah cukup buat ane. Jabatan Walikota dan Gubernur bukanlah seperti ketua panitia. Karena itu, Harokah Islam tidak harus menjadi walikota atau gubernur dulu, sebelum menjadi memimpin Daulah Islam.
HT dan TPM (sebenarnya termasuk MMI dan FPI) memiliki tanggung jawab mempertahankan UU tersebut melalui perannya sebagai menasehati penguasa dan amar ma’ruf nahi munkar, bukan berarti menerima sistem Kufur Demokrasi ini.
HT juga berjuang untuk mengambil alih kekuasaan tidak dengan cara Demokrasi, dan cara kekerasan.
Dengan mempertimbangkan tanggapan antum, ane tidak akan memperpanjang diskusi ini lagi. Karena, antum sudah menganggap ane:
1)"BOLOT"
2)"Menafikkan riwayat sebelum diangkat kenabian"
3)"Saya tidak ingin menuduh antum berdusta, tetapi cara-cara debat/dialog antum ternyata juga hampir semuanya sama"
4)"Sehingga sangat terkesan menutup-nutupi kebenaran"
Ane memang bolot, dan ilmunya belum cukup untuk berdiskusi dengan antum, terlebih lagi dengan statement negative antum ke ane.
"Salam Revolusi, dan Syukran Jazzakallaahu khaair telah menanggapi tulisan ane, dan..
allaahu’alam bi-ash-showwab.
Assalammu’alaikum warrahmatullaahi wabarakaatuh.

 

Fajar Agustanto

‎@Riyan Zahaf: Akhi, dalam sebuah dialog/diskusi/berdebat itu ada etika atau adabnya. Tidaklah seorang memutuskan dialog dengan sepihak tanpa persetujuan kedua-belah pihak. Hal ini sama saja membuat rancu seperti antum membuat rekomendasi k…esimpulan sendiri. Dan itu jelas mendzhalimi pihak yang lain. Antum membuat propaganda dengan kesimpulan sepotong-sepotong, hal ini jelas HARAM dalam adab berdialog!
Komentar antum:
Alhamdulillah, antum telah menetapkan kesimpulan bahwa:
1)"Saya tidak menyangkal bahwa pengikuti Rasulullah itu sedikit. Tetapi…"
2)"Ibaratnya Rasululllah itu ketua panitia."
…Itu sudah cukup buat ane. Jabatan Walikota dan Gubernur bukanlah seperti ketua panitia. Karena itu, Harokah Islam tidak harus menjadi walikota atau gubernur dulu, sebelum menjadi memimpin Daulah Islam.
Jawaban Saya:
Antum hanya memotong sebagian apa yang saya ucapkan. Disini antum tidak adil dan berbuat dzalim dalam mengambil rujukan yang saya tulis dari maksud yang terkandungnya.
Antum membuat kesimpulan sendiri dan membenarkannya sendiri padahal tidak ada dalil yang menguatkan apa yang ingin antum katakan! Hakekat yang ingin saya katakan adalah:
"JIKA SESEORANG INGIN MEMIMPIN HAL YANG BESAR, MAKA MEREKA HARUS BISA MEMIMPIN YANG KECIL"
Jadi, teks UPDATE saya diatas itu bukan berarti HARUS atau WAJIB, tetapi terdapat konteks yang terkandung dalam apa yang saya ucapkan. Jika seorang Imam Syafi’i berkata "Jikalau memang orang yang mencintai ahlul ba’it itu adalah syi’ah, maka sayalah syi’ah itu"
Apakah antum langsung menganggap Imam Syafi’i penganut syi’ah? Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.
Dengan begini saya semakin yakin, karakter kader Hizbut Tahrir memang seperti antum semua. Yaitu: Suka menyimpulkan sendiri tanpa tahu maksud yang terkandung. Jelas ciri-ciri seperti ini sama dengan yang dilakukan oleh Murji’ah yang jelas-jelas Jumhur ulama sebagian besar menyesatkannya
————————————————————————————
Komentar antum:
HT dan TPM (sebenarnya termasuk MMI dan FPI) memiliki tanggung jawab mempertahankan UU tersebut melalui perannya sebagai menasehati penguasa dan amar ma’ruf nahi munkar, bukan berarti menerima sistem Kufur Demokrasi ini.
HT juga berjuang untuk mengambil alih kekuasaan tidak dengan cara Demokrasi, dan cara kekerasan.
Jawaban Saya:
Antum selalu muter-muter jika ditanya hal ini. Berusaha bersilat-lidah, hal ini selalu saya temui ketika berdialog dengan kader Hizbut Tahrir. Saya tidak kaget lagi.
Padahal jelas-jelas setiap orang yang berakal akan mengetahui cara-cara Hizbut Tahrir itu sudah masuk dan mengikuti sistem haram demokrasi kufur yang mereka fatwa-kan sendiri. Dengan begini, Hizbut Tahrir jelas "MENJILAT LUDAH MEREKA SENDIRI!"
Mana mungkin tidak mengikuti Demokrasi, sedangkan cara-cara Hizbut Tahrir melakukan segala upayanya dalam hukum melalui sistem demokrasi? Inilah yang sering menjadi "LELUCON YANG TIDAK LUCUNYA SEBAGIAN BESAR PARA PRAKTISI HUKUM"
Akhi, sebaiknya antum menjawab pertanyaan ini dulu sebelum menyudahi diskusi kita! Karena sebagian besar syabab Hizbut Tahrir itu senang bertanya, tetapi kalau dikasih pertanyaan sering KABUR!!!
Akhi, cara seperti apakah yang dilakukan HTI dan TPM tanpa melalui prosedur Demokrasi? (TOLONG JAWAB YAH)
———————————————————————————–
Komentar antum:
HT juga berjuang untuk mengambil alih kekuasaan tidak dengan cara Demokrasi, dan cara kekerasan.
Jawaban Saya:
Tidak ada satupun cara Revolusi dengan damai didunia ini. Rasulullah sendiri tidak pernah melakukan cara-cara tersebut. Cara yang dilakukan oleh Rasulullah adalah Reformasi, bedakan antara revolusi dan reformasi.
Jika tidak ingin mengambil alih dengan cara demokrasi yang sesuai dengan hukum di Indonesia ini, sangatlah kecil kemungkinannya kecuali dengan jalan kekerasan. Jika 70% orang tidak memilih, dan sisanya memenangkan pemilihan. Maka sisanya itulah yang berkuasa. Itu tidak mengurangi legalitas dari suara yang tidak memilih. Hanya mengurangi kredibilitas saja.
Dan tolong sebutkan Hizbut Tahrir sudah menerapkan cara-cara Qonun Syari’ah versi Hizbut Tahrir itu dimana? (Tolong jawab yah)
————————————————————————————
Komentar Antum:
Dengan mempertimbangkan tanggapan antum, ane tidak akan memperpanjang diskusi ini lagi. Karena, antum sudah menganggap ane:
1)"BOLOT"
2)"Menafikkan riwayat sebelum diangkat kenabian"
3)"Saya tidak ingin menuduh antum berdusta, tetapi cara-cara debat/dialog antum ternyata juga hampir semuanya sama"
4)"Sehingga sangat terkesan menutup-nutupi kebenaran"
Jawaban Saya:
1. Saya menganggap "Bolot" itu karena antum tidak menguasai materi yang saya ajukan. Sehingga antum memang terkesan bersilat ludah ingin membenarkan pendapat antum, padahal dalil-dalil antum sudah saya sanggah dengan dalil yang lain. Tetapi antum tetap memaksakan dalil yang tidak pada konteks ara pembicaraan. Tentu hal ini seperti "Bolog" (Yang dibicarakan kemana, jawabnya kemana). Dan mohong di ingat bahwa apa yang saya bicarakan itu bukan tujuan menjatuhkan antum. Tetapi ingin agar antum FOKUS dalam berdialog, tidak ngalor-ngidul temanya. Jika salah katakan salah, jika benar katakan benar!
2. "Menafikkan riwayat sebelum diangkat kenabian", hal ini sudah sangat jelas, antum memang menafikkan riwayat Rasulullah. Karena antum memakai dalil dengan sirrah yang meloncat-loncat. Bukankah wajib kita membicarakan sirrah dengan dasar urutan yang harus kita sampaikan dulu. Antum menafikkan tentang ketika Rasulullah memimpin peletakan hajjar aswad dan memimpin para penggembala, antum terkesan menutup-nutupi kebenaran sirrah tersebut dengan meloncati sirrah yang lain.
3. "Saya tidak ingin menuduh antum berdusta, tetapi cara-cara debat/dialog antum ternyata juga hampir semuanya sama", Karena saya memang sering berdialog dengan syabab Hizbut Tahrir, dan cara-cara antum itu juga sama. Bukankahh wajar jika saya berstatment seperti itu. Kecuali jika antum berbeda cara-caranya, tidak curang dalam berdiskusi, fokus, apalagi mengambil sepotong-sepotong dalil yang dijadikan hujjah. Jika tidak ingin saya berstament seperti itu. Maka mohon berhujjalah dengan sebenar-benar dalil, fokus dalam diskusi, dan tidak mengambil sepenggal-sepenggal dalil!
4. "Sehingga sangat terkesan menutup-nutupi kebenaran": Bukankah memang benar, antum menutup-nutupi kebenaran. Antum menganggap takwil saya salah, padahal takwil itu adalah copy paste dari kitab Sirrah. Bukankah jelas antum tidak membaca sirrah yang saya maksud dan berusaha menutup-nutupi kebenaran dari takwil tersebut!
Jika ingin memulai diskusi, maka mulailah dengan hujja yang baik dan benar. Dari awal saya menggunakan dalil sirrah tetapi antum tidak memberikan dalil sirrah sama sekali kecuali sedikit sirrah yang dipenggal-penggal. Antum menafikkan realitas sirrah Rasulullah dengan memotong-motong sesuai hawa nafsu antum. Bukankah berdebat itu dengan hujjah yang benar dan dalil yang sesuai tema diskusinya! Masa diskusi masalah kepemimpinan, yang dibahas masalah makar orang quraisy, kan nggak sesuai tema dan mengada-adakan dalil. 😀
————————————————————————–
Saya tidak menganggap antum bolot fisik, tetapi saya hanya menganggap antum "Bolog" pemikiran. Karena jawaban antum itu sendiri yang membuat saya berfikiran seperti itu. Saya tidak ingin berkomentar negatif jika dialog kita memang benar-benar terarah dengan benar sesuai dengan menunjukkan dalil yang sesuai tema. Bukan mengada-adakan dalil!
Ada beberapa pertanyaan yang belum antum jawab. Saya harap antum tidak bersegera mengakhiri diskusi kita ini, jika kita sudah memulai diskusi maka kita berdua yang harus mengakhiri dengan kesepakatan-kesepakatan kedua belah pihak. Tidak seenaknya sendiri mengakhirinya!
Wallahu’alam.

 

Daftar Pertanyaan Yang Belum Antum jawab:
1. Apa bedanya orang yang berteriak anti demokrasi tetapi mereka juga menggunakan barang-barang Demokrasi yang mereka haramkan! Bukankah segala pledoi dari pasal-pasal hukum Demokrasi itu untuk "meri…ngankan" bahkan "membebaskan" orang dari jeratan hukum Demokrasi.
Lalu apa bedanya dengan orang yang membolehkan Demokrasi?
2. Jadi bagaimana bisa seorang yang mengharamkan Qanun Demokrasi tetapi memakainya untuk dijadikan pembelaannya? Ini ibaratnya seorang minum khamr dengan alasan agar bisa kuat.
3. Antum pake dalil seharusnya yang membolehkan "meminum khamr untuk kesehatan" (Menghalalkan Demokrasi tetapi Prinsipnya haram). Nah sekarang dalilnya mana?
4. Dikalimat mana saya mengatakan bahwa Rasulullah menjadi Pemimpin (pemuka) orang Quraisy?
5. Jadi dimanakah letak kesalahan saya yang menyatakan bahwa Rasulullah sudah ditempa menjadi "pemimpin" sebalum diamanahi Allah untuk menjadi pendakwah Dien Islam?
6. Sekarang duluan mana, perkataan Rasulullah tentang ke-Rasulan-Nya dengan ketika beliau menggembalakan kambing dan ketika beliau memimpin peletakan hajar aswad?
7. Akhi, cara seperti apakah yang dilakukan HTI dan TPM tanpa melalui prosedur Demokrasi? (TOLONG JAWAB YAH)
Itulah daftar-daftar pertanyaan yang antum lalui dari beberapa kali dialog diatas. Semoga bisa dijawab terlebih dahulu.
Saya rasa antum sudah sepakat (walaupun mungkin malu mengakui) kalau Rasulullah sebelum memimpin Umat Islam sudah ditempa kepemimpinannya sebelum menjadi nabi. Itu seperti pernyataan antum sendiri diatas.
Tidak perlu malu mengakui salah, apalagi malu mengakui kebenaran. Allah sangat membenci orang-orang seperti itu.
Tetapi setiap pertanyaan tentu wajib dijawab, kecuali memang mengakui "TIDAK BISA MENJAWAB", maka dialog insya Allah sudah selesai.
Dan saya akan langsung postingan dialog kita ini di blog yang saya kelola.
—————————————————————————
Cerita sedikit:
Saya pernah bertemu salah satu ustad/ketua DPD II HTI di sebuah kabupaten. Beliau insya Allah sudah kenal dengan saya. Ketika beliau berkunjung di Markaz partai Islam, tak sengaja beliau bertemu dengan saya, spontan beliau bertanya: "Loh antum sekarang disini?"
Jawab saya sambil tersenyum: "Dari dulu ana disini ustad!"
Lalu beliau berkata "yah, pokoknya setiap muslim itu bersaudara, harus menjaga ukhuwah dan menjaga aib saudaranya yang lain"
Saya jawab: "benar ustad, selama saudara yang lain tidak membabi buta tandzhirnya, selama tidak senang men-fitnah, meng-Ghibah saudara yang lainnya. Ada hak disitu saling, menjaga ukhuwah. Tetapi ketika itu di-nafikkan atas hak tersebut. Maka kita boleh membalasnya dengan setara balasan, tetapi memang Allah menyukai orang yang sabar"
Dan beliau tersenyum "kecut". 😀
Setelah itu ada dialog silahturahim dengan ketua DPD Partai Islam tersebut, ngobrol ngalor-ngidul. Dan saya ingat sesuatu yang membuat beliau tertunduk (entah malu atau marah). Salah satu ustad dari Partai Islam tersebut berkata, "Kita ini sering di fitnah, di-ghibahi oleh orang-orang kafir dan munafik. Dan hal itu sudah biasa, tetapi ketika kita difitnah dan dighibahi malah cenderung dilecehkan oleh saudara muslim kita. Hati ini sangat sakit. Sungguh disetiap harakah/organisasi memiliki keputusan tertentu yang sudah diambil dengan matang dan penuh perhitungan. Maka selayaknya harakah/organisasi yang lain memaklumi jika ada perbedaan, bukan malah difitnah, dighibahi dan dilecehkan. Tetapi alhamdulillah selama ini Partai Kita Semua ini tidak pernah membalasnya, apalagi sampai ditampilkan di situs-situs kita. Kita ikhlas dengan perjuangan kita tanpa harus mengharap orang lain berterima kasih kepada kita. Ukhuwah Islam akan terjaga manakalah setiap hak saudaranya saling dipegang teguh"
Dan itulah perbedaan saya dengan ketua Partai Islam tersebut, jika beliau ikhlas untuk menerima fitnahan, cela’an, ghibahan tersebut, tetapi bagi saya tidak. Harus ada tabayyun dan muhasabbah dari organisasi yang suka menasehati itu. Jangan sampai mereka adalah orang yang "telanjang" tetapi memaksa orang untuk menutup aurat! Allah murka terhadap orang seperti itu!
Saya sebagai individu mengkritik organisasi yang anti kritik, di Situs Hizbut Tahrir sering sekali saya kritisi dengan akhsan dengan dalil yang sesuai. Tetapi tidak pernah ditampilkan, tetapi ketika saya berkomentar dengan menjanjung-nyanjung Hizbut Tahrir komentar saya di approve. Hehehe, ini organisasi kok senang disanjung!
Yah, bagi kader dakwah, sanjungan itu malah akan melemahkan perjuangan itu sendiri!
Wallahu’alam

02 Agustus jam 15:11

Setelah saya tunggu 3 tiga hari atas kesepakatan saya jika tidak dijawab, maka saya publikasikan dialog ini diblog saya. Dan ternyata… lagi-lagi mereka “MELARIKAN DIRI”

Postingan Mengenai Hizbut Tahrir yang lainnya:

Dewan Masjid Manchester (Afzal Khan): Hizbut Tahrir Tidak Mewakili Umat Islam Mayoritas

Hizbut Tahrir Berulah Lagi, Menghina Muslim Yang Lainnya "Jawaban Atas Fitnah"

HIzbut Tahrir Menyesatkan Hamas

Daftar Pertanyaan Yang Belum Dijawab Kader Hizbut Tahrir

Apakah benar kader HTI munafiq?

Iklan

31 Tanggapan

  1. […] This post was mentioned on Twitter by suara, suara. suara said: Dialog Syabab Hizbut Tahrir Dengan Anggota PKS: Ini adalah dialog yang saya lakukan dengan seorang (insya Allah) s… http://bit.ly/aSrXKL […]

  2. kalo ada lima orang saja kayak akh Fajar, bisa rame indonesia ini ..he2

    Jawab Abu Jaisy:
    Hehehe… tukang ngeyel yang ketemu tukang ngeyel. 😀

  3. kan perangkat demokrasi yang dipakai oleh mereka yg menyebut dirinya HTI adalah perangkat yang dipakai dalam keadaan darurat. jadi nggak papa tuh nggak ngakuin negaranya tapi perangkatnya tetap dipake. darurat hukumnya.

    Jawab Abu Jaisy:
    Jadi Rukhso ala Hizbut Tahrir yah bu. Hehehe 😀

    • Comentar hapus by admin
      PERATURAN BLOG PADA POJOK KIRI ATAS —-> (NB: PENDUSTA/PENIPU JUGA DILARANG BERKOMENTAR), Deteksi NO IP SAMA!

  4. pks itu tetap partai islam kah? katanya sudah jadi partai terbuka? yang benar yang mana nih? jangan jangan cuman partai yang pandai memelintir kata kata, sikut sana sini, jual agamanya demi cari uang recehan, saya jadi malu dulu pernah memuji muji pks , mudah mudahan Allah SWT mengampuni keteledoran saya dulu.

    Jawab Abu Jaisy:
    Hehehe… pertanyaannya kemana jawabannya kemana hehehe (SAMA SAJA) 😀

    • jawab saja akhi…
      agar semuanya jelas.

      Jawab Abu Jaisy:
      Pertanyaan yang sudah dijawab, akan dirujuk kepada jawaban yang sudah pernah ada.

  5. Marhaban Yaa Ramadhan

    Mohon Maaf Lahir dan Bathin
    (Link ada di URL, edit by admin)

    Kunjungan balik yach 🙂 ws

  6. Sudah kebiasaan Syabab Hizbut Tahrir itu. Kalau bicara seenaknya, tapi nggak tahu apa yang dibicarakan.

    Diatas adalah contoh-contoh syabab Hizbut Tahrir yang seringkali dipermalukan karena seenaknya kalau ngomong.

    Apakah kalian (Hizbut Tahrir) masih saja menjadi harakah tukang fitnah sana sini, seperti halnya mulut-mulut keji kalian menfitnah Syeikh Osama!

    Fitnah-fitnah kalian akan hancur dengan sendirinya atas kedunguan kalian!

    • masya Allah…
      wahai hamba Allah ‘tubu ilallahi taubatan nasuha’
      menghina n memfitnah saudara sendiri antum tuu..
      jangan pandang harokah tapi pandanglah ke KAFFAHANNYA..
      berdakwah harus sesuai metode rasulullah bukan yang lain.

      Jawab Abu Jaisy:
      Mohon dibaca seluruhnya dulu yah sebelum emosi-emosian kayak gini. Janganlah kita beragama hanya karena semangat, emosi dan prasangka saja. Tetapi agama dibangun dengan ilmu dan pemahaman.
      Mohon nama antum yang sebenarnya. Biar kita bisa saling kenal.

    • Comentar hapus by admin
      PERATURAN BLOG PADA POJOK KIRI ATAS —-> (NB: PENDUSTA/PENIPU JUGA DILARANG BERKOMENTAR), Deteksi NO IP SAMA!

    • Comentar hapus by admin
      PERATURAN BLOG PADA POJOK KIRI ATAS —-> (NB: PENDUSTA/PENIPU JUGA DILARANG BERKOMENTAR), Deteksi NO IP SAMA!

  7. Abu Jaisy:
    (Edit by admin) URL saya tempatkan ditempat semestinya. Jangan menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya.
    Oh iya, coba search Adivictoria diblog ini, kayaknya dia pernah kesini. Dan tahukah anda, kalau blog yang anda agung-agungkan tidak meng-aprove seorang mantan HTI yang curhat diblognya. Hehehe….. 😀 (Lebih parah tuh, senang membohongi orang sama seperti situsnya Hizbut tahrir. Kalau dikritik sedikit langsung disembunyikan, tetapi kalau diagung-agungkan langsung di approve. Hehehe… kasihan. GILA PUJIAN 😀 )

    Mana bisa orang yang berpenyakit hati apalagi mempunyai sifat munafiq dijadikan dalil atas hujjahnya dengan analisisnya terhadap PKS, tentu orang seperti ini (seperti Hizbut Tahrir), merupakan bukan orang-orang yang adil dalam berpendapat. Dan selalu memenggal sepotong-sepotong kalimat tanpa menjelaskan substansinya dengan jelas! Orang-orang mukhtalifun seperti ini jelas sangat dibenci atas kekejiannya berbuat tidak adil dalam membuat segala keputusan

    Insya Allah disini tidak ada yang tidak di Approve selama kata-katanya baik, dan mempunyai argumen yang baik. Dan itu tentu menakutkan bagi Syabab Hizbut Tahrir Indonesia. Karena semua kalimatnya akan terekam disini dan tentunya di Akhirat kelak. Jadi mereka tidak bisa bersilat lidah lagi, susah untuk berbuat bohong lagi, karena semua sudah terdokumentasi. 😀

    • Jangan membanggakan organisasi akhi..
      tapi banggakanlah ide2 yang dibawa. semua fiqrah dan thoriqoh yang ditabani HT insyaallah shahih dari Alqut’an dna sunnah.. ideologiskah fiqrah dan thoriqoh harokah tsb? kaffah kah harokah tsb????
      LATALBISUL HAQQO BIL BATIL…

      Jawab Abu Jaisy:
      Insya Allah saya tidak pernah membanggakan organisasi apalagi ashabiyah. Saya selalu berpedoman seluruh harakah Islam itu mempunyai kebaikan satu sama lainnya. Maka dari itu tidak perlu menyesat-nyesatkan harakah yang lainnya jika tidak sesuai dengan harakah kita.
      Antum menyuruh saya untuk tidak boleh membanggakan Harakah. Sedangkan antum sendiri malah meninggikan Hizbut Tahrir. (hehehe ada-ada saja 😀 )

      • Comentar hapus by admin
        PERATURAN BLOG PADA POJOK KIRI ATAS —-> (NB: PENDUSTA/PENIPU JUGA DILARANG BERKOMENTAR), Deteksi NO IP SAMA!

  8. Abu Jaisy:

    (Edit By admin) Maaf, kata-kata seperti itu tidak layak diucapkan oleh seorang muslim. Dan itulah kenapa saya moderasi, karena menghindari bahasa-bahasa “jorok” seperti itu.

  9. hmm,dulu saya juga ikut kajiannya HTI. yah mungkin saja,pemahaman yang di ajarkan para syabab itu teralalu ngikut pada kitab-kitab yang di kaji. padahal dalam kitab yang di kaji adalah hasil pemikiran dari penulis. yah mungkin itu itjihad tapi yah tak seharusnya di jadikan patokan atau dasar untuk memperjuangkan sesuatu.

    pendapat untuk enggan memasuki wilayah pemirantahan atau takut terjerumus juga tampaknya sulit di terima. yah karena dengan menghindar atau takut terjerumus,justru memberi kesempatan pada orang-orang yang nggak amanah. nah kalau udah terjadi,bisa-bisa mereka membungkam arena dakwah kita.

    mungkin itu saja dari saya,afwan kalau ada kata-kata yang kurang berkenan

    • afwan….
      sebuah kebenaran janganlah dicampur adukkan dengan kebatilan. islam digabung dengan demokrasi gak akan nyambung.. dan Allah juga mengatakan bahwa janganlah kalian mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan.jzk
      itu alasan mengapa HT tidak masuk dalam parlemen.

      Jawab Abu Jaisy:
      Masalah Demokrasi sudah ada diblog ini, silahkan merujuk kepada tema yang sebenarnya. Atau bisa disini langsung —> Kumpulan Tanya-Jawab Masalah Demokrasi (Haram Atau Tidak?) agar bisa klop
      Dan wajib dibaca dulu sebelum berkomentar. Karena komentar yang pada intinya sudah pernah dijawab tidak perlu dijawab lagi. Terima kasih kunjungannya.
      Mohon nama antum yang sebenarnya. Biar kita bisa saling kenal.

  10. terus pks sendiri bagaimana..????????

    apakah sudah pasti jauh lebih baik dari Hizbut tahrirkah..???

    maaf saya orang awam yang ingin tau

    terima kasih ^_^

    Jawab Abu Jaisy:
    Hehehe… disini tidak membahas siapa yang lebih baik. Saya sendiri dan ikhwah PKS semua insya Allah menganggap seluruh harakah/organisasi Islam mempunyai kebaikan masing-masing disatu-sisinya. Jadi, alhamdulillah PKS tidak menganggap diri yang paling baik, tetapi hanya berharap menuju perbaikan untuk kebaikan.

    Nah, berbeda dengan Hizbut Tahrir. Gerakan ini senang sekali mengeklaim sesat atas keputusan gerakan Islam yang lain. Yah, kata lainnya adalah “Hizbut Tahrir kurang kerjaan, akhirnya kerjaannya tukang ngurusin gerakan Islam yang lainnya”
    😀

  11. PKS ok HTI oke..mereka saudara saya.

    Jawab Abu Jaisy:
    Iya, semuanya saudara. Asal jangan “Asal” serampangan menyesatkan umat Islam yang lain. Semoga HTI kembali kedalam Syari’at Islam. Amien

    • Insya Allah HT tidak pernah keluar dari syariat islam.
      fiqrah n thoriqah nya selalu didasarkan pada alqur’an,sunah,ijmak sahabat dan qiyas.
      BERSATULAH WAHAI KAUM MUSLIM DALAM NAUNGAN DAULAH ISLAM DALAM KEPEMIMPINAN KHILAFAH ISLAMIYAH.

      Jawab Abu Jaisy:
      Amien. Yaa Rabb!

  12. Mampir di Edit by admin (linknya saya taruh URL) kanca2x, tambah wawasan. HT, PKS, Salafy, BIN apakah berhubungan…?

  13. […] waktu yang lalu saya membuat postingan yang sama “Dialog Syabab Hizbut Tahrir Dengan Anggota PKS” dan kini saya kembali mem-posting hal yang sama. Seandainya jika dia tidak menfitnah saya, maka […]

  14. […] saya berdialog dengan syabab Hizbut Tahrir di Dialog Syabab Hizbut Tahrir Dengan Anggota PKS, Part I dan Part II. Dari situ sudah sangat jelas, bahwa memang Syabab Hizbut Tahrir tidak pernah mau […]

  15. setiap orang punya pilihan dalam hidop. kita tidak bisa memaksakan kehendak.berdebat baik. tidak berdebat juga baik, kita punya akal .strategi mana yang kita gunakan.demokrasi baik. tidak demokrasi juga baik alaternatifnya apa?alterbnatif yang kita pilih cara menempuhnya gimana?semua tidak ujug22ada proses perjuangannya.tahapan22 harus ada.masyarakat di siapkan. bukan gembar gembor kilafah22 tanpa mem persiapkan.

  16. jika anda semua nyaman dengan demokrasi itu juga salah. karenan. tak ada perjuangan untuk membentuk sistem yang lebih baik.manusia wajib usaha terus menerus dalam segala hal termasuk menciptakan sistem baru pengganti demikrasi atau apalah namanya. yang penting tuhan memerintahkan iktiar333

  17. ahhhh…..debat lagi, debat lagi….tapi kenapa di sebarluaskan, kalau memang HTI itu seperti apa yang di katakan sebaiknya memberi nasehat kepada mereka, kalau mereka tetep ngeyel ya udah gk usah di sebarluaskan begini….begitupun dengan HTI kalau di nasehati terima dengan baik lalu sama tabayun….begini cuman jadi ajang saling mengejek……jalan keluarnya gk ada, yang ada cuman saling menjatuhkan.

  18. saya telah membaca dari awal dialog antara HTI dan PKS yang penulis dialog mengatakan dirinya selaku bagian dari PKS walaupun belum menjadi kader,,
    mempedebatkan suatu hal untuk kepuasan dirinya sendiri adalah perdebatan yang tidak bermanfaat dan hanya membuat salah satu pihak, bahkan keduanya saling menghujat..
    masa sesama kaum muslim menghujat atau mengejek saudranya sendiri,,
    mohon ampunlah kepada Allah untuk menghilangkan niat berdebat untuk memancing emosi seseorang,,
    buka mata, buka hati untuk mencari kebenaran dengan penuh kesabaran,ilmu dan sopan santun ..
    saya justru menilai teman dari yang mengaku dirinya bagian dari PKS sangat terpancing emosi,,
    dan mengakhiri perdebatan dengan dendam,
    astaghfirullah,,

    sadarilah kesalahan sendiri walaupun rasanya seperti memakan buah berduri,,
    saya bukan anggota HTI dan saya juga bukan anggota PKS,
    saya hanya orang yang penuh kekhilafan dan berusaha mencari kebenaran lewat kesabaran..
    saya mohon ampun kepada Allah,
    dan mohon maaf kepada pembaca komentar saya,
    jika ada pihak yang merasa disalahkan,

    Jawab Abu Jaisy:
    🙂
    Syukron telah berkomentar.
    Tapi saya tidak pernah mendedam kok. Itu masih ada dialog ke II

  19. asw. kalo anda emang anggota PKS seharusnya anda menyimak pendahulu anda Hasan AL bana yang jelas menegaskan jauhilah perdebatan
    perlu diketahui semua umat islam..
    seharusny akhi bersyukur akhi berjuang dalam islam tidak sendiri.
    dalam PKS pengkaderan dari mulai pengenalan ttg marifatullah -makna syahadatain, dll
    ga jauh beda dg HTI dari mulai bahas Aqidah-Fikroh,dll
    harokah (pergerakan) baik HT,PKS, salafi dll hanyalah sebuah wajihah(tempat) perjuangan islam
    tapi tujuan kita tetap satu mengembalikan masyarakat islam kepada keislamannya
    jika hal ini dibaca oleh kaum non muslim akan menjadikan mereka tersenyum karena umat islam hanya sibuk mencari kekurangan pergerakan satu dengan yang lain tanpa melihat ke depan seharusnya kita berdebat dengan org2 yang non muslim ntu.. karena manusia itu dhoif, ga ad yang sempurna, berusahalah untuk tidak mengubar2 aib saudara sesama islam, selama pergerakan dalam manhaj alquran dan hadis tak perlu dipusingkan kecuali aliran2 yg mengaku islam tapi jelas2 keluar dari alquran dan hadis silahkan akhi berdebat, karena kalo mereka tak bisa dperangi dengan kekerasan tapi pola pikirnya dibenarkan… ayo kita sama2 bergabung dg JT,HT,PKS,salafi berdakwah dg cara masing2 untuk ALLAHU ghoyatuna.. afwan ana sebgai sdra sesama muslim bukan menggurui hanya mengingatkan karena terinspirasi dari Q.S.al-hujurat (maka damaikanlah saudaramu..)

  20. ana malah jadi curiga sama akhi benar anggota PKS ato akhi cuma 1 dari 1000 org yang suka mengacaukan pergerakan islam dg menyelidiki kekurangan 1 dg yang lain dg alih2 sbg slh 1 anggota merka.. mungkinkah akhi justru (org2 liberalisme atopun misionaris ntu) karena stiap org yang mengenal Allah bukan karena harokah akan memilih bersaudara bukan mencari2 hal spt ni…
    apa ada buktinya jg akhi anggota PKS?? karena database anggota dg kader ntu sbnrya ga berbeda
    akhi blg bkn kader cm anggota brarti akhi ga tau kaderisasi d PKS,liqo nya pun akhi berarti ga ikut jg karena PKS punya sistem kaderisasi yang kokoh ga semua manhaj dijelaskan pada org yang hanya dekat dengan PKS bahkan ketika jadi kaderpun harus melalui tahap yg panjang,,,
    ana tak mau su’udzhon tapi berspekulasi
    ana yakin Akhi bukan dari PKS akhi hanya ingin hancurkn islam dengan mengadu domba islam..
    🙂

    • Akhi Rama, sebaiknya antum lebih menyimak dialognya. Bukan menghakimi! Ikhwan tidak pernah menghakimi, beda jika HT! Ikhwan tidak berprasangka, beda dengan HT!

    • Comentar hapus by admin
      PERATURAN BLOG PADA POJOK KIRI ATAS —-> (NB: PENDUSTA/PENIPU JUGA DILARANG BERKOMENTAR), Deteksi NO IP SAMA!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: