Persepektif Partai Bentukan Ikhwanul Muslimin di Mata Profesor Azyumardi Azra

Oleh Azyumardi Azra

partai kebebasan dan keadilan Jumpa lagi dengan Essam el-Haddad; kali ini dalam Forum Demokrasi bertajuk ‘Sustaining Democracy in the Arab World’ yang diselenggarakan International Institute for Democracy Assistance (IDEA) di Madrid, Spanyol, 27-28 November 2011. Sebelumnya 6-8 April 2011, saya pertama kali bertemu dengan el-Haddad dalam diskusi meja bundar di kantor pusat International IDEA di Stockholm—membahas tentang gejolak transisi Mesir pasca-Mubarak.

Sejak pertama bertemu, percakapan saya sangat mengalir dengan el-Haddad, tokoh muda al-Ikhwan al-Muslimun (IM), penyandang gelar PhD dari Universitas Birming ham, Inggris. Ia juga menjabat ketua Dewan Penyantun Islamic Relief yang bermarkas di London. Kehangatan dalam percakapan, bukan hanya karena saya bisa bercerita panjang lebar padanya tentang banyak tokoh el-Haddad lain—dan juga warga keturunan Hadharim Indonesia—tapi karena pembicaraan saya yang ‘nyambung’ tentang IM. Saya memang sudah lama mengkaji IM—sejak mengambil MA Kajian Timur Tengah di Columbia University, New York (1986-88) dalam perspektif perbandingan dengan masyarakat Muslim Asia Tenggara.

Baca Selengkapnya >>>

Iklan

Lebih Baik Mengkaitkan Peledakan Dengan Pemilu, Daripada dengan Islam!

Peledakan besar terjadi di dua hotel bintang lima di kompleks Mega Kuningan, yakni Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton merupakan serangan manusia yang abnormal. Kontroversi-pun mencuat, memaksa para pemimpin negara ini berkomentar, memaksa para mantan calon presiden-pun juga berkomentar. Hal yang membuat saya lega adalah pernyataan SBY bahwa bom itu terkait dengan Pemilu, tidak terkait dengan agama (red, Islam). Berbeda dengan komentar dua mantan Capres yang lebih menyudutkan Teroris bermuatan agama (red, Islam). Hal ini membuktikan bahwa SBY masih memandang Pemilu sebagai faktor utama kekacauan peledakan tersebut. Dan tidak langsung menuduh faktor agama dibalik ini semua. Jelas sekali ini membuktikan bahwa SBY masih memandang norma keislaman-nya sehingga tidak mengkait-kaitkannya dengan "islam". Mungkin hal ini karena SBY berada pada koalisi partai Islam yang mendukungnya. Ada sedikit kejelasan bahwa SBY, sekarang lebih hormat terhadap umat Islam ketimbang capres yang lainnya.

Baca lebih lanjut