Meskipun Menang, Belanda Harus Angkat Koper

image JOHANNESBURG, KOMPAS.com — Belanda sudah pasti lolos ke final Piala Dunia 2010. Namun, mereka tetap harus angkat koper karena harus mencari hotel baru.

Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) membenarkan bahwa anak-anak asuh Bert Van Marwijk menginap di Hotel Sandton Hilton, Johannesburg, hanya sampai Senin (5/7/2010) atau sehari sebelum semifinal lawan Uruguay. Untuk laga itu, Belanda masih bisa tidur nyenyak karena FIFA menyediakan penginapan untuk kedua tim yang akan berlaga di Cape Town itu pada malam sebelum dan sesudah pertandingan.

Baca lebih lanjut

Iklan

Masjid Liberal Belanda Bangkrut, Apalagi Keimanannya?

image AMSTERDAM–Masjid Polder di Amsterdam terancam harus gulung tikar karena kekurangan dana. Masjid ini dikenal sebagai pusat kegiatan bagi kelompok Islam liberal di negara tersebut. Untuk bisa bertahan, dalam waktu dua minggu ini pengelola masjid harus mendapatkan uang 50 ribu Euro (sekitar Rp 650 juta), untuk membayar tunggakan sewa gedung.

Masjid Polder dibuka satu setengah tahun yang lalu. Beda dengan masjid-masjid di Belanda mereka membolehkan wanita dan pria sholat berjamaah dalam satu ruangan. Selain itu, Bahasa Belanda dipakai sebagai bahasa pengantar. Saat ini di Belanda, kebanyakan masjid menggunakan Bahasa Arab atau Maroko.

Baca lebih lanjut

Kebangkitan Nasional: Antara realitas dan pembohongan publik!

Kelahiran organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 sesungguhnya amat tidak patut dan tidak pantas diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena organisasi ini mendukung penjajahan Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, a-nasionalis, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya merupakan anggota Freemasonry Belanda (Vritmejselareen).

Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam yang dilakukan oleh para penguasa sekular. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.

Mengapa BO yang terang-terangan antek penjajah Belanda, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, a-nasionalis, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, dan anti-agama malah dianggap sebagai tonggak kebangkitan bangsa? Ini jelas kesalahan yang teramat nyata.
Baca lebih lanjut