Arab Saudi: Politik Abu Lahab di Perang Gaza

Seorang pengasuh berusaha membuktikan dirinya lebih sayang ketimbang seorang ibu, dengan menyanyikan lagu nina bobo. Melalui cara itu, ia mengesankan dirinya sebagai pengasuh yang baik. Namun anak itu mengetahi betul bahwa ia sering dipukul oleh sang pengasuh saat ayah dan ibunya tidak berada di tempat. Oleh karenanya,

ia tentu tidak akan menyukai nina bobok yang didendangkan sang pengasuh, bahkan dendangan itu malah menyakitinya. Setengah jam setelah mendengarkan lagu yang dinyanyikan pengasuhnya, anak kecil itu meneriakkan, "Cukup sudah nina bobo-nya! Sekarang, tutup mulutmu dan jangan sakiti telingaku. Aku ingin tidur!" Itulah ungkapan Pemred Koran Kayhan, Hossein Shariat Madari, yang ditujukan kepada Raja Arab Saudi, Abdullah, dalam menyikapi Zionis Israel.

Raja Abdullah di hadapan kejahatan buas Rezim Zionis Israel terhadap rakyat tertindas dan tak berdosa Gaza tidak hanya menutup mulutnya rapat-rapat. Bahkan berdasarkan fakta yang ada seperti yang ditegaskan Presiden Rezim Zionis Israel, Simon Peres, dan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert, Arab Saudi menyokong pembantaian terhadap rakyat Gaza. Selama perang 22 hari, Arab Saudi melarang dan mengharamkan setiap aksi unjuk rasa rakyat menentang agresi Israel.

Sehari setelah gencatan senjata (19/01/2009), Raja Arab Saudi dalam pidatonya di pertemuan ekonomi kepala-kepala negara Arab di Kuwait berusaha menutupi kerjasamanya dengan Rezim Zionis Israel dalam pembantaian rakyat Gaza. Dikatakannya, "Satu tetes darah Palestina lebih mahal dari seluruh kekayaan dunia." Media-media yang berafiliasi dengan pemerintah Arab Saudi seperti televisi Al Arabiah, mempublikasikan secara besar-besaran pernyataan nina bobo Raja Abdullah itu, dan menganalisanya secara menggelikan. Baca lebih lanjut

Iklan