Dialog Syabab Hizbut Tahrir Dengan Anggota PKS, Part II

Beberapa waktu yang lalu saya membuat postingan yang sama “Dialog Syabab Hizbut Tahrir Dengan Anggota PKS” dan kini saya kembali mem-posting hal yang sama. Seandainya jika dia tidak menfitnah saya, maka postingan kedua ini insya Allah tidak akan saya publikasikan. Namun karena syabab Hizbut Tahrir ini membuat status di facebook yang menfitnah saya, maka postingan ini adalah sebagai tabayyun saya atas seluruh umat Islam tentang fitnah yang sudah biasa dilakukan oleh Hizbut Tahrir dan para syabab Hizbut Tahrir.

image

Diskusi ini adalah bermula ketika Syabab Hizbut Tahrir (Riyan Zahaf) membuat sebuah status di Facebook:

Baca lebih lanjut

Iklan

Pendeta Mengaku Saudaranya Ustadz di Bukittinggi, Langsung “Ditelanjangi” Jamaah

image Gerah dengan ulah misionaris evangelis, warga suku Minang, Sumatera Barat yang tergabung dalam Majelis Kajian Islam Pondok Kelapa (MKIPK), Jakarta Timur,  kemarin  mengundang Aksi Nico, seorang misionaris,  untuk melakukan debat.

Di dampingi istrinya, Nico memenuhi undangan pengurus MKIPK. Berdasarkan penuturannya, Nico mengklaim memiliki kakak seorang ustadz yang terkemuka di Bukittinggi.

”Abang saya Ustadz Nazaruddin. Masyarakat Bukittinggi pasti mengenal Ustadz Nazaruddin. Dia ustadz terkenal seperti halnya Ustadz Yusuf Mansur dan Aa Gym,” tambah Nico. Baca lebih lanjut

Hindari Debat, Berbahasalah Yang Bijak

"Yang paling dibenci Nabi dan paling jauh jaraknya dari beliau pada hari Kiamat adalah para penceloteh yang banyak bicara."

Hidayatullah.com—Salah satu tontonan terbanyak di TV kita saat ini selain ghibah (gossip, red) adalah berdebat. Anggota DPR berdebat dengan LSM, Polisi berdebat dengan pengacara, dan beberapa pihal lain.

Akibat berdebat, baru-baru ini seorang pengacara ternama hampir saja berduel. Gara-gara berdebat pula, tahun 2003, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea “menyerang” dan memukul kepala koordinator ICW Danang Widyoko di sebuah acara Today’s Dialog di Metro TV. Tak hanya memukul, sang menteri juga dinilai menghina Danang dengan kata-kata.

Islam mengenal istilah jidal. Para ulama menafsirkannya dengan perdebatan dalam hal-hal yang tidak berguna atau tidak bermanfaat. Jidal adalah termasuk dalam perdebatan yang dilarang adalah semua perdebatan yang menyebabkan kegaduhan, mudharat kepada orang lain atau mengurangi ketentraman. Sementara perdebatan yang baik dan masih diperbolehkan adalah perdebatan untuk menjelaskan kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras penantangnya lagi lihai bersilat lidah’.” (HR Bukhari [2457] dan Muslim [2668]). Baca lebih lanjut

Kenapa Agama Harus Diatas Negara?

Melihat tayangan debat Cawapres tadi malam benar-benar mengasyikkan (walaupun nggak bener2 asyik sih). Saya tergelitik saat pertanyaan tentang agama dan negara.
Saat saya mendengar Cwpres Budiono, menjawab masalah itu, saya agak bisa berfikir realistis apa yang dikatakannya.

Tetapi ketika Cwpres Wiranto, saya bingung. Indikasinya, dia ingin membawa ranah negara tidak ada sangkut pautnya dengan agama! Ini membingungkan, dilain pihak tokoh-tokoh Islam banyak yang sepakat dengan pasangan JK-Win, tetapi argumentasi Wiranto seperti itu malah membuat banyak orang geram. Wiranto seperti phobia dengan Islam “yah pada intinya agama merupakan hal yang berbeda dengan negara” kurang lebih seperti itu. Ini jelas jika JK-Win berkuasa, maka hukum-hukum Syari’at Islam akan ditiadakan alias dibasmi. Bank-bank berdasarkan syari’at Islam juga akan cenderung dipadamkan. Mukinkah seperti itu?

Kalau Cwpres Prabowo, cenderung sama dengan Cwpres Budiono.

Pada intinya, semua Cwpres ingin mengatakan seperti yang dikatakan Budiono “Agama itu dilangit, diatas negara” Tetapi untung saja Budiono langsung cepat-cepat menyatakan “Kita mengaplikasikan ajaran agama walaupun tidak menerapkannya kepada negara”

Kalau dipikir-pikir. Sebenarnya apakah benar agama itu diatas negara? Atau lebih mulia dibanding negara? Padahal pada dasarnya yang diatas dan dimuliakan itu yah Allah. Makanya Allah menurunkan agama kebumi untuk dijalankan syari’atnya. Lah untuk dijalankan syari’at-Nya, bukankah sudah seharusnya berada sejajar dengan negara! Karena kemulian negara adalah yang berpegang teguh kepada agama.

Inilah kita, yang memuliakan agama tetapi negaranya bobrok! Berarti ada yang salah pada diri kita (mungkin). Padahal seharusnya sebuah pemerintahan bisa menjadi mulia jika mereka menerapkan syari’at agama. Karena agama itu sendiri adalah sebuah “negara” maka mari berbuat kemuliaan bersama-sama.

Kita sibuk mencercah ekonomi neolib yang ditujukan untuk Budiono, padahal sanggahan dari ketiga Cwpres semuanya berdasar pada Liberal. Lah apa bedanya dari ketiga Cwapres tersebut?

Ah pusing! Yah pokoknya tsami’na wa’ata’na yaa qiyadah. 😀