K-Link VS Habbatusaudah

Baru-baru ini saya didatangi oleh seorang teman yang silahturahim ke rumah. (Singkat cerita), tidak beberapa lama dari ngobrol si teman ini ingin mempersentasikan sebuah obat alami yang tanpa efek samping dan pasti menyebuhkan berbagai penyakit (katanya karena dari klorofil yang alami, makanya bisa menyembuhkan semua penyakit). Beberapa obat ditunjukkan kepada saya, dan juga bagaimana keuntungan ketika bergabung di MLM-nya. Mulai dari sistem downline yang katanya lebih baik dari semua MLM (Multi Level Marketing) dan bla..bla…bla.

Dari beberapa MLM yang pernah saya ikuti, saya agak malas untuk ikut MLM kembali. Tetapi teman saya ini meyakinkan saya begitu kuat, sampai siap untuk membayarkan uang registrasi atau gratis registrasi karena dia yang bayar, jika saya mau bergabung. Karena beberapa pengalaman akhirnya saya bilang "Iya akh, nanti ana pertimbangkan. Antum tidak perlu langsung membayarkan registrasi buat ana".

Setelah berdiskusi dengan istri, maka kami sepakat untuk akhirnya tidak ikut bergabung di MLM tersebut. Tetapi bukan mutlak, karena saya perlu referensi orang yang memang bidang keilmuannya sesuai dengan medis dan pembisnis MLM, untuk dimintai pendapat. Akhirnya saya harus googling, karena paman google inilah yang sering memberikan jawaban atas ketidaktahuan saya. Maka ketemulah thread kaskus yang membahas masalah K-Link. Antara pro dan kontranya. Baca lebih lanjut

Iklan

Terima kasih atas pertolongan-Mu yaa Rabb

Jundullah baru

Jaisy Muhammad Alif

Sebuah pengalaman yang insya Allah tak akan pernah terlupakan. Pengalaman yang akan menjadi cerita, kelak saat si kecil beranjak dewasa.

Sejak divonis oleh dua dokter dan satu bidan. Bahwa kelahiran anak pertama kami, harus melalui operasi cesar. Karena bayinya lebih besar dari perkira’annya. Bayi yang berada di kandungan istri saya beratnya sekitar 3,8 kilogram. Jadi menurut dua dokter yang biasa kami temui (control) menyatakan bahwa, bayi kami harus di operasi. Tidak mungkin akan melahirkan secara normal. Sebuah tantangan yang berat, karena istri saya ingin agar melahirka secara normal. Tetapi, kami terus berdoa agar dimudahkan oleh Allah.

Dalam beberapa hari, istri saya pun merasa sudah tidak kuat menahan rasa sakit, karena kemungkinan si kecil ingin segera keluar. Menurut perhitungan, memang seharusnya anak kami sudah lahir, tapi kenyataan memang perhitungan manusia tidak bisa menjadi patokan. Setelah itu, kami pun bergegas kerumah sakit. Tepatnya di RSUD Sidoarjo. Kami langsung menuju UGD (Unit Gawat Darurat) yang setelah itu langsung di tempatkan di ruang kehamilan. Saat di cek lagi, ternyata bayi saya tidak sebesar yang diberitahukan dua dokter tersebut. Jika di dokter yang biasa kami temui mereka menyatakan bahwa berat bayi dalam kandungan saya sekitar 3,8 kg. Tetapi di RSUD, setelah di cek berat badannya tidak sampai 3,8 kg. Bahkan dokter RSUD menyatakan sekitar 3,5 kg. Hati ini langsung bersyukur, karena kemungkinan besar proses kelahiran anak saya bisa normal.
Baca lebih lanjut