Awas, Kalian Kader PKS!

Media memang sangat berperan penting dalam segala hal pemberitaan. Media juga merupakan titik awal “serangan udara” jika ingin membuat propaganda-propaganda untuk menyerang sesuatu. Atau mungkin memberitakan sesuatu.

Peran media memang tidak bisa dipungkiri telah membawa dampak yang besar dalam kehidupan kita. Tiada hari tanpa pemberitan, dan tiada berita tanpa peristiwa. “good news is bad news, bad news is good news” adalah yang sudah biasa dalam pemberitaan. Maka dari itu Islam mengatur semua langkah kita dalam memberitakan sesuatu. Menyangkut kader PKS yang sering menjadi “rujukan” para kuli tinta tersebut. Peristiwa di Jambi yang beru-baru ini sangat menghebohkan kita. Bagaimana tidak, wakil rakyat dari FPKS DPRD Jambi tertangkap razia saat berada dipanti pijat. Dia adalah Zulhamli Alhamid

Beberapa media memberitakan dengan gencar, “FPKS Tertanggkap Mesum Di Panti Pijat”, “Anggota DPRD Digerebek Di Panti Pijat”, “Kader PKS Tertangkap Basah Berbuat Maksiat” beberapa judul-judul berita tersebut menggemparkan orang yang melihat, dan terkesan ingin membaca lebih lanjut walaupun hanya sekedar judul yang dibaca. Dari judul saja, orang sudah bisa langsung menyimpulkan bahwa anggota FPKS sedang berbuat mesum dipanti pijat. Pemberitaan-pemberitaan tersebut walaupun sudah diklarifikasikan oleh pihak DPD PKS Jambi atas perilaku Zulhamli Alhamid yang tidak terbukti berbuat mesum tersebut tetaplah bukan menjadi hal yang kuat untuk dijadikan pembelaan kepada kadernya.

Baca lebih lanjut

PKS Tegaskan Kontroversi Iklan Tokoh Nasional Tak Perlu Terjadi

Jakarta- Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI Fahri Hamzah menegaskan, kontroversi iklan PKS sebenarnya tidak perlu terjadi, karena tokoh nasional bukan milik kelompok atau golongan di masyarakat.

"Kami menganggap perdebatan mengenai hal itu tidak diperlukan," kata Fahri dalam dialektika demokrasi di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Jumat.

Dia mengemukakan, perdebatan terkait iklan PKS yang menampilkan tokoh-tokoh nasional mencerminkan kurang kedewasaan dalam berpolitik. Karena itu, sebaiknya perdebatan dihentikan.

Dia mengungkapkan, PKS ingin menggalang rekonsilisasi dari iklan yang menampilkan tokoh nasional sekaligus menempatkan mereka sebagai guru bangsa.

Anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPR, Marwan Jafar mengkritik iklan PKS yang menampilkan tokoh NU, Muhammadiyah dan juga mantan Presiden Soeharto.

Dia menganggap, tindakan PKS tidak sesuai etika politik karena mengambil tokoh nasional dari partai lain untuk menarik simpati publik.

PKS Kembalikan Dana Gratifikasi Rp 1,9 Miliar

Gratifikasi yang Diterima sejak 2005

JAKARTA – Pada saat banyak anggota DPR yang tersangkut kasus korupsi dan gratifikasi, FPKS (Fraksi Partai Keadilan Sejahtera) tetap berupaya menunjukkan komitmen sebagai partai bersih. Sejak 2005 hingga pertengahan 2008, FPKS mengaku telah mengembalikan dana gratifikasi senilai Rp 1,9 miliar ke KPK.

’’Fraksi kami punya aturan main internal bila ada pemberian yang bernuansa gratifikasi,’’ kata Ketua FPKS Mahfudz Siddiq di gedung DPR kemarin (20/10). Seorang anggota FPKS, jelas dia, bisa menolak langsung pemberian dana gratifikasi itu, asal memenuhi dua syarat.

Pertama, dana tersebut dipastikan kembali kepada pemiliknya. Kedua, anggota bersangkutan yakin dirinya benar-benar tidak ikut tercatat secara administratif sebagai penerima. ’’Soalnya, ada kasus anggota kami menolak, tetap saja tercatat sebagai penerima,’’ ujarnya.

Bila dua syarat itu tidak terpenuhi, lanjut Mahfudz, anggota FPKS diminta menerima gratifikasi tersebut. ’’Selanjutnya, dia wajib segera melaporkan pemberian itu kepada pimpinan fraksi untuk dikembalikan kepada KPK,’’ jelasnya. Baca lebih lanjut