Lebih Baik Mengkaitkan Peledakan Dengan Pemilu, Daripada dengan Islam!

Peledakan besar terjadi di dua hotel bintang lima di kompleks Mega Kuningan, yakni Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton merupakan serangan manusia yang abnormal. Kontroversi-pun mencuat, memaksa para pemimpin negara ini berkomentar, memaksa para mantan calon presiden-pun juga berkomentar. Hal yang membuat saya lega adalah pernyataan SBY bahwa bom itu terkait dengan Pemilu, tidak terkait dengan agama (red, Islam). Berbeda dengan komentar dua mantan Capres yang lebih menyudutkan Teroris bermuatan agama (red, Islam). Hal ini membuktikan bahwa SBY masih memandang Pemilu sebagai faktor utama kekacauan peledakan tersebut. Dan tidak langsung menuduh faktor agama dibalik ini semua. Jelas sekali ini membuktikan bahwa SBY masih memandang norma keislaman-nya sehingga tidak mengkait-kaitkannya dengan "islam". Mungkin hal ini karena SBY berada pada koalisi partai Islam yang mendukungnya. Ada sedikit kejelasan bahwa SBY, sekarang lebih hormat terhadap umat Islam ketimbang capres yang lainnya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kemenangan KarSa Buktikan Quick Count Tak Selalu Tepat

Surabaya – Hasil penghitungan cepat atau quick count perolehan suara Pilgub Jatim putaran kedua yang dilakukan tiga lembaga survei benar-benar di luar prediksi.

Jika pada penghitungan cepat, 4 November lalu pasangan Khofifah-Mudjiono (KaJi) berhasil mengungguli Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) dengan selisih suara antara 1-2 persen.

Dari penghitungan cepat yang dilakukan Lembaga Survey Indonesia (LSI), pasangan
KaJi memperoleh suara sebanyak 50, 44 persen, dan KarSa mendapat 49,56 persen.

Sedangkan versi Lingkaran Survei Nasional yang mereka lakukan di 400 TPS di seluruh Jatim, KaJi meraup 50,76 persen dan KarSa meraih 49,24 persen.

Baca lebih lanjut

PM GAM: Penerapan Syariat Islam Bukan Prioritas GAM

Perdana Menteri GAM Malik Mahmud menyatakan, penerapan syariah Islam dalam proses penegakan hukum untuk kasus pelanggaran kesusilaan dan tindak pidana, bukan skala prioritas pihak GAM, sebab masih ada prioritas-prioritas lain yang harus didahulukan.

“Masalah syariat Islam untuk sekarang bukanlah prioritas kita, kita masih ada prioritas yang harus didahulukan,”katanya disela-sela Konferensi Internasional Membangun Perdamaian Abadi di Aceh, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin(14/08).

Menurutnya, jika mengikuti perjuangan GAM sejak dulu, perjuangan tersebut bukan berdasarkan agama, dan hingga sekarang masih tetap sama.

Lebih lanjut Mahmud menegaskan, penggunaan syariah Islam di Aceh, ide awalnya bukan dari pihak GAM, hal itu terwujud dikarenakan sejak dahulu agama Islam sudah berkembang dengan pesat di Aceh.

Ia menambahkan, penerapan syariah dilaksanakan berdasarkan adat-istiadat yang berlaku dan diterapkan di Aceh.

“Itu bukanlah yang diinginkan oleh seluruh masyarakat, Islam di Aceh adalah Islam tradisional, tetapi syariat Islam itu bukanlah seperti yang ada di Aceh,” tandasnya.(novel)