Novel Islami Banyak Diminati

Tasikmalaya- Novel berunsur Islami diminati banyak warga kota Tasikmalaya, terbukti lumayan larisnya buku-buku bertema aitu di salah satu toko buku di Kota Tasikmalaya.

"Banyak yang mencari novel Islami di sini, bahkan hampir setiap hari," kata Hilman (29), yang dibenarkan istrinya Yusmawati (31) penjual buku bekas dan baru, di pasar Pancasila, Kota Tasikmalaya, Sabtu.

Dikatakan Hilman masyarakat yang datang ke toko buku miliknya kebanyakan mencari novel islami daripada buku pelajaran atau majalah.

Ia menjelaskan maraknya masyarakat yang mencari novel islami sejak mulai ramainya novel islami "Ayat-ayat Cinta" karya Habiburahman yang diangkat ke layar lebar itu.

"Sejak adanya film ayat-ayat cinta, sampai sekarang banyak yang mencari novel islami," kata Hilman.

Yusmawati menambahkan, awal 2009 jumlah novel islami yang dibeli dalam sehari bisa mencapai tiga sampai empat buah.

Selain "Ayat-ayat Cinta," novel lain yang diburu adalah "Ketika Cinta Bertasbih", "Musafir Cinta", bahkan novel "Laskar Pelangi."

"Yang beli novel islami itu bukan remaja tapi usia 30 tahun keatas," katanya. (antara)

Sasaran Dakwah Ikhwan

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)

Sasaran Dakwah Ikhwan

1. Memberi keyakinan dan memperbaiki pemahaman kaum muslimin terhadap Islam, menjelaskan da’wah al-Qur’anul Karim secara gamblang dan jelas, menampilkan isinya secara mulia sesuai dengan ruh zaman, menyingkap kandungan al-Qur’an beruapa kehebatan dan keindahannya, serta menolak semua kebatilan dan kedustaan yang diarahkan kepadanya.

2. Menghimpun kaum muslimin dalam beramal di atas prinsip-prinsip al-Qur’an yang mulia dengan mempengaruhi pengaruh al-Qur’an secara mendalam dan kuat di dalam jiwa.

3. Mengabdi pada masyarakat dan membersihkan mereka dengan memerangi kebodohan, penyakit, kemiskinan, kehinaan, dan memotivasi kebajikan, kemanfaatan umum dalam segala bentuknya.

4. Memfokuskan perhatian terhadap keluarga, melalui tuntunan sebagai berikut: Baca lebih lanjut

Menulis Novel Atau Cerpen Islam Tetap Bid’ah dan sesatkah?

Pada suatu kali saya sedang mengisi sebuah kajian para anak-anak SMA, tentang materi bahayanya pergaulan bebas dalam remaja. Seperti biasa, sikap anak-anak SMA pasti akan cepat tertidur plus borring jika kita membawakan materi-materi yang menurut mereka tidak sesuai dengan kebiasaan mereka, apalagi bertolak-belakang dengan kebiasaannya. Jadi hanya satu yang harus saya kerjakan, membuat para siswa ini bahagia dan akhirnya merenungi apa yang mereka lakukan adalah kesalahan. Memberikan pemahaman bukan penekanan. Memberikan pengetahuan, bukan justifikasi. Alhasil, setiap materi yang saya lakukan alhamdulillah, insya Allah menjadi terapresiasikan dengan baik.

Sesi tanya jawab adalah sesi yang mengasyikkan, sesi yang lebih dari 70% waktu yang saya khususkan. Mulai dari masalah pacaran, masalah pergaulan, masalah jalan-jalan, orang tua dan segudang permasalahan siswa yang biasa-biasa saja. Tetapi sebuah pertanyaan muncul dari seorang aktivis lembaga dakwah sekolah. Sebuah pertanyaan yang membuat saya tergugah. Yaitu sebuah pertanyaan “Ustad, apakah benar. Menulis novel ataupun cerpen adalah perbuatan yang sia-sia? Dan merupakan bid’ah yang sesat!” Saya benar-benar tergugah, tergugah untuk pentingnya menjawab keraguan-keraguan ini, Sebuah pertanyaan yang pernah saya dapatkan di sebuah media chatting juga, termasuk salah satu blog yang berisi tentang sia-sia dan keharamannya menulis Novel maupun Cerpen Islami. Apakah benar?
Baca lebih lanjut