Tak Perlu Ragu Lagi Dengan Hidayat Nur Wahid Gubernur DKI Jakarta!

Pilgub Jakartai Hidayat Nur Wahid Tiga jam sebelum berakhirnya masa pendaftaran dalam pemilihan Calon Gubernur Jakarta datang seorang tokoh nasional, Hidayat Nur Wahid. Seorang mantan Ketua MPR-RI yang siap dan bersedia untuk “turun jabatan” untuk mengikuti Pilgub Jakarta guna untuk membangun Jakarta yang lebih baik.

Tidak ada yang menyangka Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menggadang-gadang Bang Sani (Tri Wicaksana) malah berakhir dengan kejutan yang luar biasa dari PKS. Pasangan Hidayat Nur Wahid dengan Didik J Rachbini mendaftarkan diri sebagai pasangan calon dari PKS, hanya berselang tiga jam sebelum berakhirnya pendaftaran Bakal Calon Pilgub DKI Jakarta.

Baca Selengkapnya >>>

PKS Yakin Menang di Pemilukada 2012 Jakarta

imagePartai Keadilan Sejahtera (PKS) menyediakan dua kadernya, yaitu Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Triwisaksana, serta Ketua DPW PKS Selamat Nurdin buat maju dalam Pemilukada DKI 2012. Sewajarnya salah satu calon yang akan diusung, Triwisaksana menyatakan siap buat bertarung dengan calon lainnya.

“Ya Insya Allah kita siap, siap sekali buat maju, siap buat berbakti, serta siap buat bertaruh,” ucap Triwisaksana kepada wartawan di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (15/7/2011).

Baca Selangkapnya >>>

Gubernur Paling Aneh di Indonesia "Bodo Amat"

imageGubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo sangat dikenal masyarakat disebabkan oleh ia dikatakan seorang yang unik. Unik, lantaran dia acapkali memakai bahasa gaul, alias bahasa pasar.

Tidak usah kaget juga saat asal mulutnya meluncur slang-slang aneh. Slang yang dimaksud yaitu ragam bahasa informal yang tak baku serta sifatnya musiman. Kebanyakan, ungkapan tersebut ditemui di kalangan remaja maupun kelompok sosial tertentu.

Sementara pejabat lain memilih memakai ungkapan, istilah maupun jargon-jargon asing, Doktor Ingenieur jebolan Fachbereich Architektur/ Raum Und Umweltplanung-Baungenieurwesen Universitat Kaiserlautern, Jerman tersebut lebih memilih bahasa sendiri. Malahan bukan bahasa formal yang sering digunakan para pejabat.

Baca Selengkapnya >>>

Seorang Ibu Ngamuk, Bakar Mobil Polisi Di Mabes Polri

Kejadian tak diduga terjadi di markas Polri. Seorang ibu membakar sebuah mobil sedan polisi di Markas Besar Kepolisian, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Senin 28 Desember 2009.

Bagian belakang mobil berplat nomo 30-00 yang diparkir di depan Rupatama Polri tiba-tiba mengeluarkan api.

Kondisi mobil yang terbakar itu sontak membuat panik. Polisi berlarian ke arah mobil, mencoba memadamkan api dengan tabung pemadam api. Demikian pula wartawan, yang mendekat ke arah kejadian. Mencari tahu apa yang terjadi.

Baca lebih lanjut

Di Menteng, Patung Obama “Sesembahan” Baru Partai Demokrat

Setelah melihat dialog di TVONE(15/12) masalah kontroversi patung Obama yang berada di Menteng, Jakarta. Dari statement Wakil Ketua DPP Demokrat Bp Mubarok, terkesan sangat mendewakan seorang Barack Obama. Beliau mengatakan bahwa pada intinya sekarang adalah dunia global, kita tidak bisa hidup “sendirian” dalam sebuah negara. Diperlukan kerjasama antar negara, sehingga saling tercipta hubungan baik negara satu dengan yang lainnya. Dengan stetement seperti itu, terlihat bahwa ada muatan politik dibalik pembuatan patung tersebut. Sangat jelas sekali kalau Bp. Mubarok mengharapkan jika nanti dibangun patung Barack Obama kecil, Barack Obama besar bisa mudah diajak diplomasi.

Dengan begitu sangat betul sekali komentar dari tokoh Betawi yang kontra dengan pembuatan patung tersebut. Yang menyatakan kalau itu hanya Proses/Program Carmuk (Cari Muka). Bisa kita bayangkan, kalau hanya sebatas ingin memberikan inspirasi, kenapa harus patung Obama? Padahal kalau dihitung-hitung banyaknya pahlawan di Indonesia dan Amerika, kita tidak kalah banyak, bahkan mungkin jumlahnya lebih banyak pahlawan Indonesia jika pahlawan kartun Amerika itu tidak ikut di daftarkan sebagai pahlawan (red, Spiderman, Super Girl, Superman, dll.). Jangan sampai karena sama-sama Demokrat partainya, sehingga merasa sreg dan ajeg ke-Demokratannya. Dan membela mati-matian sang Obama!

Baca lebih lanjut

Repot, Demonstrasi Kemanusiaan Kok Dikira Kampanye!

JAKARTA – Partai politik harus berhati-hati menggelar demonstrasi. Sedamai apa pun, bila dicurigai sebagai kampanye terselubung, demo tersebut bisa menjadi urusan hukum.

Itulah yang kini menimpa PKS. Demo aksi solidaritas Palestina pada Jumat (2/1) lalu berbuntut panjang. Gara-gara menyertakan atribut tanda gambar dan nomor urut partainya dalam aksi tersebut, Presiden PKS Tifatul Sembiring diadukan Panwaslu DKI Jakarta ke Polda Metro Jaya. Aksi partai yang dipimpinnya itu dituding sebagai kampanye terselubung di luar jadwal.

Rencananya, kepolisian hari ini memanggil Tifatul Sembiring untuk dimintai keterangan. ’’Sebagai warga negara yang baik, insya Allah saya pasti datang,’’ kata Tifatul di Jakarta kemarin (14/1). Bersama-sama dia, Ketua DPW PKS DKI Jakarta Triwisaksana dan Ketua DPD PKS Jakarta Pusat Agus Setiawan juga siap memenuhi panggilan itu.

Apa status mereka saat ini? ’’Di dalam surat panggilan, kami disebut sebagai tersangka,’’ jawabnya. Sebenarnya, itu adalah panggilan kedua. Pada panggilan pertama, Senin (12/1), Tifatul tidak bisa memenuhi karena baru saja kembali ke Jakarta dari acara konsolidasi partainya di Bandung. Baca lebih lanjut

PKS Tegaskan Kontroversi Iklan Tokoh Nasional Tak Perlu Terjadi

Jakarta- Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI Fahri Hamzah menegaskan, kontroversi iklan PKS sebenarnya tidak perlu terjadi, karena tokoh nasional bukan milik kelompok atau golongan di masyarakat.

"Kami menganggap perdebatan mengenai hal itu tidak diperlukan," kata Fahri dalam dialektika demokrasi di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Jumat.

Dia mengemukakan, perdebatan terkait iklan PKS yang menampilkan tokoh-tokoh nasional mencerminkan kurang kedewasaan dalam berpolitik. Karena itu, sebaiknya perdebatan dihentikan.

Dia mengungkapkan, PKS ingin menggalang rekonsilisasi dari iklan yang menampilkan tokoh nasional sekaligus menempatkan mereka sebagai guru bangsa.

Anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPR, Marwan Jafar mengkritik iklan PKS yang menampilkan tokoh NU, Muhammadiyah dan juga mantan Presiden Soeharto.

Dia menganggap, tindakan PKS tidak sesuai etika politik karena mengambil tokoh nasional dari partai lain untuk menarik simpati publik.