Inilah ZULHAMLI ALHAMIDI, Kader PKS Jambi (maaf atas su’udzhon kami)

Sudah belasan tahun saya mengenal sosok dan pribadi Zulhamli Alhamidi tanpa pernah menemukan kesalahannya sedikitpun kecuali satu kali ini saja. Saya prihatin dan bertanya-tanya apakah manusia memang tidak boleh khilaf suatu saat? Tulisan ini saya niatkan dalam rangka memenuhi salah satu hak-hak ukhuwwah beliau sebagai saudara saya sesama muslim.

Uda Zul, begitu panggilan akrabnya di kalangan anak-anak Rohis sejak jadi aktivis da’wah di kampus UNJA. Saya pun sekampus dengan beliau, cuma saya FE 93 sedangkan beliau Fapet 94. Tapi sejak sama-sama ngantor di Fraksi PKS, saya ikut memanggilnya Uda Zul karena memang usia beliau lebih tua 1 tahun dari saya. Saya juga satu majelis ta’lim dengan istri beliau, Mbak Lisa.

Da Zulhamli adalah anggota dewan paling miskin di DPRD Kota Jambi menurut ekspos LHKPN versi BPK tahun 2004 dengan asset pribadi ‘hanya’ Rp.3,5 juta saja (diikuti 3 rekan F-PKS lainnya yang sama-sama termasuk paling miskin, selain mas Hizbullah). Berita itu juga bikin polemik di koran lokal saat itu, karena Uda Zul memang sangat sederhana. Selain masih tinggal numpang di rumah mertua walau sudah punya 2 anak, Da Zul juga punya motor ‘butut’ yang selalu menemaninya ke manapun. Bahkan motor tua milik Da Zul sempat menginspirasi saya untuk bikin puisi (maaf file-nya belum ketemu). Dan motor tuanya itu sempat patah jadi dua saat suatu malam beliau ditabrak oleh pemuda yang sedang ngebut di dalam gang dalam perjalanan beliau menuju tempat Mabit ikhwan. Baca lebih lanjut

Iklan

Awas, Kalian Kader PKS!

Media memang sangat berperan penting dalam segala hal pemberitaan. Media juga merupakan titik awal “serangan udara” jika ingin membuat propaganda-propaganda untuk menyerang sesuatu. Atau mungkin memberitakan sesuatu.

Peran media memang tidak bisa dipungkiri telah membawa dampak yang besar dalam kehidupan kita. Tiada hari tanpa pemberitan, dan tiada berita tanpa peristiwa. “good news is bad news, bad news is good news” adalah yang sudah biasa dalam pemberitaan. Maka dari itu Islam mengatur semua langkah kita dalam memberitakan sesuatu. Menyangkut kader PKS yang sering menjadi “rujukan” para kuli tinta tersebut. Peristiwa di Jambi yang beru-baru ini sangat menghebohkan kita. Bagaimana tidak, wakil rakyat dari FPKS DPRD Jambi tertangkap razia saat berada dipanti pijat. Dia adalah Zulhamli Alhamid

Beberapa media memberitakan dengan gencar, “FPKS Tertanggkap Mesum Di Panti Pijat”, “Anggota DPRD Digerebek Di Panti Pijat”, “Kader PKS Tertangkap Basah Berbuat Maksiat” beberapa judul-judul berita tersebut menggemparkan orang yang melihat, dan terkesan ingin membaca lebih lanjut walaupun hanya sekedar judul yang dibaca. Dari judul saja, orang sudah bisa langsung menyimpulkan bahwa anggota FPKS sedang berbuat mesum dipanti pijat. Pemberitaan-pemberitaan tersebut walaupun sudah diklarifikasikan oleh pihak DPD PKS Jambi atas perilaku Zulhamli Alhamid yang tidak terbukti berbuat mesum tersebut tetaplah bukan menjadi hal yang kuat untuk dijadikan pembelaan kepada kadernya.

Baca lebih lanjut

Para Korban SMS Merah mulai pulih

Jambi (ANTARA News) – Kondisi lima warga Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi yang menjadi korban jatuh pingsan setelah menerima pesan singkat (sms) telepon selular (Ponsel) atau "Ring in the red", mulai pulih.

Berdasarkan keterangan dari perawat RSU Kabupaten Bungo yang dihubungi Sabtu malam, mengatakan, kondisi kelima korban yang dirawat di RSU sejak dua hari lalu mulai pulih.

"Kondisi kelima korban mulai pulih, mungkin sehari atau dua hari ini bisa pulang," ungkap salah seorang perawat Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit itu.

Menurut keterangan dokter, kata perawat itu, para korban yang dirawat itu karena ketakutan yang berlebihan setelah mendapat informasi isu kematian penerima telepon selular (ponsel) atau pesan singkat yang berwarna merah.

"Isu berlebihan itu membuat mereka ketakutan luar biasa," ujarnya.

Sementara itu, tiga dari lima korban yaitu Eva Susanti, Riska, dan Ansori, mengakui, ketika menerima pesan singkat melihat ponselnya warna merah dan bergambar bintang-bintang.

"Ketika saya melihat ponsel saya berwarna merah, saya langsung jatuh pingsan. Sekarang badan saya masih lemas," kata Eva Susanti.

Hal yang sama juga diakui Ansori, ketika ponselnya berdering yang disimpan di dalam lemari melihat pancaran cahaya merah, sehingga membuat dia ketakutan dan jatuh pingsan.

Di Kota Jambi juga mengguncang isu kematian akibat Infra merah ponsel yang berlebihan dengan "kartu maut" nomor 0866 dan 0666.

Masyarakat Jambi sampai kini resah akibat isu itu terus berkembang dari mulut ke mulut agar para pemilik ponsel tidak mengangkat ponselnya ketika berdering dengan nomor masuk 0866 dan 0666 itu.(*)