Pangeran Saudi Mengaku Salafi Sering Mengganggu Arab Saudi

al nour partyNegara Teluk tidak akan mendukung Salafi di Mesir, seorang pangeran Saudi dari Raja Arab Saudi Abdullah mengatakan pada hari Minggu.

"Jika mereka menerima uang dari Arab Saudi, itu hanya ditujukan kepada Salafi Saudi, bukan dari pemerintahan Saudi," kata Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari miliarder al-Waleed bin Talal, dan ketua Program Teluk Arab untuk Pembangunan organisasi PBB (AGFUND).

pada pertemua Dewan Arab untuk rencanan pembangunan di Kairo pada hari minggu, ia menambahkan bahwa "Arab Saudi sendiri tidak terlepas dari gangguan Salafi, yang saat ini menganggu seluruh dunia."

Baca Selengkapnya >>>

Iklan

Ada Romantisme Dalam Aksi Demonstrasi Mesir, Aktivis Anti Pemerintahan Mesir Menikah Disaat Aksi

imagePerubahan tak dapat menunggu. Jangan lewatkan waktu, demikian yang diungkapkan grup Disko R&B asal kota Bologna, Change, di antara sebuah lagu klasik bertitel Don’t Wait Until Night. Hal itu disadari betul oleh Ahmad Zaafan (29 tahun), masyarakat Kairo, Mesir.

Lelaki ini menyatakan khawatir mengenai kondisi negaranya. Sepanjang lahir ke muka bumi hingga sekarang ini menjadi seorang psikolog, tidak lebih dari sosok Husni Mubarak-lah yang menjadi afiliasi Zafaan mengenai kekuasaan. Ketika Negara lain merasakan transisi demokrasi, Zaafan cuma dapat mendengarkan sumpah jabatan Mubarak setiap lima tahun sekali.

Beserta segala keadaan tersebut, Zaafan tak dapat menunggu lagi. Gelora perubahan sangat kuat buat ia bendung. Alhasil, ruang perawatan dia tinggalkan demi mendatangi barak kesehatan sukarela di tengah Lapangan Tahrir, Kairo.

Baca Selanjutnya >>>

Semakin Besar Demonstrasi Mendukung Mesir Terbebas Dari Tirani Pemerintahan Mubarak, Termasuk Dari Berbagai Negara

imageRibuan  orang di segenap negara melakukan demonstrasi dekat di kedutaan besar Mesir buat menyokong protes yang tengah dilaksanakan atas Presiden Hosni Mubarak, seiring beserta demonstrasi besar di Mesir hari Jumat.

Di Turki, kelompok-kelompok orang berkumpul di luar Kedutaan Besar Mesir di Ankara buat mengungkapkan solidaritas beserta pengunjuk rasa di Mesir.

Di London, demonstran memohon pihak berwenang Mesir supaya menghindari penggunaan anarkisme atas demonstran.

Di ibukota Tunisia, Tunis, unjuk rasa sejenis diselenggarakan di depan Kedutaan Besar Mesir buat menyokong penggulingan di Mesir.

Baca Selengkapnya >>>

Dari Tunisia Hingga Mesir, Ikhwanul Muslimin Kekuatan Gerakan Islam Terbesar

imagePengunjuk rasa menaikkan aksinya di Mesir beserta membakar gedung pemerintah di kota pelabuhan Suez, kelihatannya rakyat Mesir bertambah marah dengan pemerintah Presiden Hosni Mubarak.

Pengunjuk rasa melemparkan bom molotov ke arah gedung pada hari Rabu, unjuk rasa besar pula dijalankan di depan markas yang berpengaruh Partai Demokrasi Nasional, AFP memberitakan.

Ribuan rakyat Mesir tumpah ruah ke jalan-jalan di segenap negeri buat melanjutkan demonstrasi yang belum pernah berlangsung sebelumnya, melawan larangan pemerintah buat berunjuk rasa sebelumnya dari Departemen Dalam Negeri.

Baca Selanjutnya >>>

Menikmati Menjadi Muslim

img
Ia mengaku menikmati menjadi pendeta. Sayang, dari lubuk hatinya paling dalam, tak pernah merasakan kebahagiaan. Atas izin Allah, kebahagiaan itu ia temukan dalam Islam

Hidayatullah.com–Suatu hari ketika Idris Tawfiq sedang memberikan kuliah di Konsulat Inggris di Kairo, ia menyatakan dengan jelas bahwa dirinya tidak menyesali masa lalunya; tentang hal-hal yang dilakukannya sebagai seorang penganut ajaran Kristiani dan kehidupannya di Vatikan selama lima tahun.

"Saya menikmati saat menjadi pendeta, menolong orang selama beberapa tahun. Namun jauh di dalam hati saya tidak bahagia, saya merasa ada sesuatu yang salah. Untungnya, dengan izin Allah, beberapa peristiwa dan kebetulan terjadi dalam hidup yang membawa saya kepada Islam," katanya kepada para hadirin yang memenuhi ruang pertemuan di Konsulat Inggris.

Tawfiq kemudian memutuskan berheni menjadi pendeta di Vatikan. Ia lalu melakukan petualangan ke Mesir. Baca lebih lanjut

Ikhwanul Muslimin: Sikap Negara-Negara Arab Soal Gaza Memalukan

Pemimpin Gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir Muhammad Mahdi Akif menyebut sikap negara-negara Arab atas serangan brutal Zionis-Israel terhadap warga Gaza sangat lemah dan memalukan.

Mahdi Aktif hari Ahad (11/1) kemarin kepada televisi al-Alam di Kairo. Mahi mengatakan, dirinya berharap negara-negara Arab dan Islam mengusir Duta-Duta Besar Zionis-Israel dari negaranya masing-masing, menyetop ekspor gas ke rezim ini, mencegah pembantaian rakyat Palestina dan menyatakan solidaritasnya terhadap saudara-saudara muslimnya di Gaza.

Mahdi Akif menambahkan, bersikukuh menghadapi Zionis-Israel menguntungkan negara-negara Arab. Karena Amerika selalu menentang peradaban Islam dan bangkitnya negara-negara Arab.

Menurutnya, semua bangsa di dunia harus menuntut agar para pejabat Israel diadili.

Seraya menyatakan keheranannya mengenai pelarangan bantuan kemanusiaan kepada penduduk Jalur Gaza pemimpin Gerakan Ikhwanul Muslimin membandingkan bagaimana Israel didukung penuh Barat di bidang persenjataan dan materi.

Akif mengatakan, rezim ini bukan sebuah negara, tapi terdiri dari sekumpulan orang-orang ekstrim. Namun di akhir wawancaranya dengan televisi al-Alam Muhammad Mahdi Akif menyatakan bahwa cepat atau lambat Zionis ini akan musnah. [irb/hidayatullah]