Adu Keras Azan, Sita Speaker Masjid

JEDDAH – Tak perlu adu keras suara saat mengumandangkan azan. Bisa-bisa, itu justru mengganggu. Dengan pertimbangan itulah, pemerintah Arab Saudi mulai menertibkan pengeras suara masjid. Setidaknya, seratus loudspeaker dari 45 masjid di barat Provinsi Baha terpaksa dipereteli aparat.

Instruksi penertiban pengeras suara masjid mulai di Riyadh, Madinah, hingga wilayah lain di negara kerajaan itu dikeluarkan Menteri Urusan Islam Saleh Al-Asheikh. Para pengawas yang turun ke lapangan meminta para imam di Madinah memberitahu jamaahnya bahwa mulai saat ini mereka hanya diperbolehkan menggunakan speaker internal.

Seperti dilaporkan Saudi Press Agency, hasil survei Kementerian Urusan Islam menyebut, di sejumlah tempat ditemukan masjid yang pengeras suaranya melebihi standar. Menurut sumber kementerian, ada beberapa masjid yang pengeras suaranya bisa terdengar hingga radius lima kilometer. Akibatnya, azan masjid di sekitarnya tidak bisa didengar. Hanya azan di Provinsi Qassim yang suaranya lebih pelan daripada wilayah lain.

Rencananya, inspeksi tersebut dilakukan secara berkala untuk menertibkan persaingan pengeras suara masjid di Arab Saudi. Hingga kini tidak dilaporkan adanya protes dari jamaah masjid yang speaker-nya disita oleh pemerintah. (cak/ami)

Iklan

Khawarij: Antara Stigma dan Kajian Sunnah

Oleh: Muhammad Arifin Ismail, M.A, M.Phil *

Akhir-akhir ini istilah khawarij menjadi stigma dan olok-olok untuk meyatakan kepada setiap kelompok yang dianggap “keras” dalam Islam. Tak pelak, para pejuang mujahidin seperti Hamas pun, bisa disebut khawarij. Padahal dalam sejarah tamadun Islam, khawarij merupakan gerakan yang mempunyai sifat-sifat tertentu dengan definisi tertentu. Oleh sebab itu setiap Muslim, apalagi pemimpin gerakan Islam, jangan terlalu mudah untuk menghukum sesuatu gerakan menjadi khawarij sebelum mengenal metodologi pemikiran mereka.

Imam Syahrastani dalam kitab al Milal wan Nihal menyatakan bahwa khawarij adalah: ”semua kelompok masyarakat yang keluar daripada ketaatan kepada kepemimpinan (imam) yang sah dan yang sudah disepakati oleh mayoritas umat Islam, samasa kelompok tersebut terjadi pada masa kepemimpinan sahabat khulafaurrasyidin, atau masa kepemimpinan tabi’in (pengikut sahabat), atau masa kepemimpinan umat Islam di setiap zaman ”( Syahrastani, Kitab Al Milal wanNihal , jilid 1, hal..129 ).

Sejarah Khawarij

Sejarah mencatat bahwa kaum khawarij muncul setelah peristiwa ”tahkim” antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, sebagai upaya mencari jalan damai dalam mengakhiri peperangan Siffin. Baca lebih lanjut

Apakah benar penganut Majelis Rasulullah sesat?

Artikel Ini Telah Dihapus


Atas Taujih dari beberapa ustad, dipandang dari beberapa kemaslahatan, maka saya hapus artikel ini. Berikut petikan taujih Ustad Agung kepada saya ketika melihat artikel yang saya buat.Akhi, ana sarankan antum hapus saja artikel antum yang mengenai ini. Ana melihat sedikit kemaslahatan yang dapat dipetik dari artikel antum. Ana tahu antum ingin membuat kebaikan atas artikel ini. Namun, dari beberapa komentar yang masuk. Ana malah melihat banyak yang belum begitu mampu untuk menelaah apa yang antum tuliskan.

Akh, antum ingin membuat orang tersadar dengan artikel antum. Tetapi dari komentar-komentar yang masuk, bukan kesadaran yang dapat dipetik hikmahnya. Tetapi malah menyekat persaudaraan sesama umat Islam. Antum coba baca dengan hati, setiap komentar-komentar tersebut adalah seorang yang merasa tersakiti hatinya. Dan ini sama saja antum menzhalimi perasaan mereka.

Walaupun ada oknum (blog Artikelislami) dari penganut Majelis Rasulullah. Tetapi jangan sampai kita membalas rasa sakit hati kita atas fitnahan-fitnahan yang melanda kita dan ulama-ulama yang kita hormati. Biarkan saja, fitnah tampil terus untuk menjadi sebuah contoh yang nyata tentang bentuk-bentuk fitnah yang selalu melanda umat Islam.

Antum jangan egois, ingin dia (Blog Artikelislami) menghapus yang telah diposting. Biarkan saja. Islam itu memberikan dua pilihan. Mau berbuat baik atau buruk. Kedua-duanya ada akibat yang akan diberikan Allah kepada kita. Maka dari itu antum tidak perlu susah-susah untuk menyuruh menghapus postingannya.

Untuk nasehat kepada dia adalah sekedar memperingatkan saja, jangan sampai kapasitas antum melebihi itu. Sudah seharusnya, jamaahnya sendiri yang memberikan nasehat kepada dia. Bukan antum. Ketika antum memberikan nasehat lebih dari kapasitas, akhirnya yah seperti artikel antum ini. Banyak yang mengira antum membenci Majelis Rasulullah. Padahal maksud antum adalah hanya untuk memperingatkannya. Sesungguhnya sifat manusia itu tidak akan pernah mau divonis bersalah, dia atau bahkan teman-temannya. Mereka akan cenderung membela jamaah mereka daripada menelusuri akar permasalahannya.

Jadi berdoa saja akh, semoga yang melakukan kesalahan itu sadar atas kesalahan yang dia perbuat. Dan antum jadilah seperti air, yang dengan kesabarannya meneteskan setiap butir-butirnya hingga merubah batu yang tadinya padat dan berbentuk tidak biasa akhirnya menjadi luarbiasa enak dilihat. Itulah akh, kesabaran kita. Kesabaran yang berpuluh-puluh tahun kita pupuk lama. Jangan sampai antum kehilangan kesabaran akh. Karena kesabaran itu tidak mengenal batasan.

Ana melihat antum beberapa hari ini I’tikaf bawa laptop malah jarang melihat antum tilawah dan menambah hafalan Qur’an dan hadits akh? Antum ini ijin sama istri meninggalkan anak, untuk menambah setiap pahala-pahala antum. Jangan antum terlalaikan menjawab komentar-komentar yang tidak enak dibaca. (Saya cuma cengar-cengir).

Sudah akh. Tafadhol antum pilih sendiri mau hapus artikel antum apa nggak. Ana hanya memberikan masukan saja akh. Tapi jangan lupa bisa terjadi akibat yang lebih besar dari letupan kecil seperti ini akh. Mungkin dia (blog Artikelislami) tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukan fitnah atas pemahamannya sendiri. Tetapi bukan berarti antum juga harus berpaham seperti itu. Mari kita berkhusnudhon kepada mereka atas segala macam tindakan yang mereka lakukan kepada kita, baik dan buruknya. Tidaklah seorang yang difitnah, dicaci dan dimaki menjadi lebih buruk. Melainkan kembali kepada diri mereka sendiri. Ingatlah Al Hujuraat ayat 11 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

(Dalam hati, saya berfikir apakah tidak ada ustad yang seperti ini di Majelis Rasulullah yah? Hingga mad’unya harus tega dan mudah sekali menfitnah dan menyesatkan orang diluar jamaah mereka. Wallahu’alam)

Dengan ini, saya menghapus artikel “Apakah benar penganut Majelis Rasulullah sesat?” Saya meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti atas artikel yang saya buat.

Hal yang menyangkut Blog Artikelislami —-> htp://artikelislami.wordpress.com/2008/04/30/benarkah-pks-mirip-indosat/#comment-254 (Alhamdulillah, atas rahmat Allah. Akhirnya Admin Blog sedikit tersadar, namun masih disayangkan, walaupun saya bukan dari Hizb Salafi,  postingan yang lain seperti ini masih nampak —> htp://artikelislami.wordpress.com/2008/03/09/salafy-masonic/#comment-663 semoga  kesadarannya utuh untuk membangun pondasi umat Islam)
Kami berlepas diri atas fitnah dan hujatan yang dilayangkan kepada PKS dan ulama-ulama yang kami hormati.Tapi alhamdulillah, sisi baiknya adalah, akhirnya ada juga Penganut Majelis Rasulullah yang hanif, dan selalu berlemah lembut kepada sesama muslim. Tanpa bahasa kasar, merasa paling pintar dan tawadhu’ dalam bahasanya. Syukron atas seseorang yang mengirim email kepada saya dengan kelembutan dan kesantunan bahasanya. Dan merasa bertanggung jawab atas apa yang diperbuat oleh saudaranya. Insya Allah keberkahan menyelimuti kita semua yaa Akhi. Intinya adalah kita harus Mengembalikan Jati Diri Bangsa ini dengan tidak menfitnah, menghujat siapapun yang berbeda dengan pemahaman kita, selama pemahaman itu bersifat furu’.