Bagaimana Ulama Mensikapi Khilaf Fiqih?

Para ulama menyatakan agar masalah khilafiyah disikapi dengan bijak, dan tidak diperlakukan sebagai hal yang harus diingkari,sehingga perpecahan bisa dihindari.

Di kalangan awam, seringkali masalah khilaf fiqih menjadi pemicu pembid’ahan atau hajr (pemutusan hubungan). Bahkan tak jarang, mereka menilai permasalahan khilaf (masalah yang diperselisihkan hukumnya oleh para ulama mu’tabar) sebagai masalah kemungkaran, yang harus ditentang dengan keras, sebagaimana menghadapi masalah-masalah yang telah disepakati keharamanya oleh para ulama.

Dengan sikap demikian, tak jarang timbul perpecahan dan sikap saling membenci antara pengikut madzhab-madzhab fiqih yang ada, hingga terjadilah bentrok fisik antar mereka.

Tentu, hal inilah yang tidak diinginkan para ulama, hingga mereka memberi nasehat kepada umat, bagaimana seharusnya menyikapi khilaf fiqih. Berikut adalah petikan perkataan beberapa ulama mengenai penilaian mereka tentang perbedaan masalah fiqih.

Al Hafidz Imam As Suyuthi (911H),”Telah terjadi khilaf masalah furu’ sejak zaman sahabat-radhiyallahum wa ardhahum-, dan mereka adalah sebaik-baik umat, begitu pula dengan para imam tabi’in setelah mereka beserta para ulama, salah seoarang dari mereka tidak memusuhi yang lainnya, tidak menyakiti dan salah satu dari mereka tidak menuding yang lainnya salah atau tidak mampu.” Baca lebih lanjut

Iklan

Hujatan terhadap Dakwah Al-Banna

Metode yang ditempuh harakah Ikhwan dalam hal ini, juga telah dijelaskan oleh Muhammad Fathy Utsman dalam kitabya "As-Salafiyah fi al-Mujtama’at al-Mu’ashirah, Manhajiyatu al-Ustadz Hasan al-Banna min Khilal Mudzakkiratihi" (Salafiyah di Era Masyarakat Modern, Manhaj Ustadz Hasan al-Banna dalam Memorandumnya).

Dalam buku itu disebutkan:
"Sejak usia muda, Hasan al-Banna sangat memegang teguh amalan sunnah, hingga dalam hal pakaian. Ketika masih menjadi pelajar di sekolah pendidikan guru, beliau mengenakan ‘imamah, memakai sandal untuk ihram waktu haji, sorban yang beliau simpangkan di atas jubah, dan memelihara janggut.

"Ketika direktur madrasah bertanya tentang pakaian tersebut kepadanya, Hasan al-Banna menjawab, sebagaimana tertulis dalam mudzakkirahnya, ’Pakaian seperti ini adalah sunnah.’ Sang kepala sekolah lalu menimpali, ’Apakah engkau sudah mengamalkan semua sunnah-sunnah Rasul, sehingga tidak tersisa kecuali sunnah dalam berpakaian?’

"Al-Banna mengatakan, ’Saya belum mampu melakukan semua sunnah, dan kita memang sangat kurang dalarn hal tersebut. Akan tetapi apa yang kita mampu melakukannya, hendaknya kita lakukan."

Di awal da’wahnya di Ismai’iliyah, beliau menghadapi perpecahan klasik antara ansharu sunnah (kelompok pendukung sunnah) dan Thuruqiyah (kelompok pengikut tarekat sufi). Baca lebih lanjut

Cara Menyikapi Khilafiyah dalam Jama’ah

Assalamu ’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Semoga senantiasa pak ustadz dalam ridho Allah. Sering terjadi pertengkaran dalam jama’ah di masjid kami di mana jama’ahnya sangat majemuk. Bila hal seperti itu terjadi maka jama’ah biasanya akan minta pertimbangan dan pendapat kepada saya tentang bagaimana perkara yang sebenarnya. Dalam hal inilah kadang saya merasa bingung untuk memberi jawaban supaya kedua belah pihak dapat saling memahami, sedangkan saya sendiri berada dalam mazhab Syafi’i dan mazhab yang lain kurang saya kuasai. Bagaimana menurut bapak sikap yang saya ambil supaya keutuhan dalam jama’ah kami tidak sampai retak? Atas jawabannya diucapkan syukron katsiro.

Wassalamu ’alaikumwarohmatullohi wabarokatuh.

Awal Juhri Hasibuan
ajuhri
Jawaban

Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Manfaatkanlah masalah ini dengan cara yang sebaik-baiknya. Ambil hikmah yang paling positif dari setiap masalah. Beruntung anda bila mendapatkan kepercayaan dari jamaah di masjid, berarti mereka tidak memandang anda sebelah mata. Buktinya anda dijadikan rujukan dari masalah yang muncul di tengah mereka, terutama dalam masalah perbedaan masalah khilafiyah.

Padahal tidak mudah untuk mendapat kepercayaan seperti yang sekarang anda miliki. Karena itu kami memandang bahwa saat inilah anda punya kesempatan untuk berperan dengan lebih baik lagi.

Kalau kebetulan anda sudah banyak mengusai pendapat-pendapat dari ulama kalangan mazhab Syafi’i, sekarang tantangan buat anda adalah mempelajari perbandingan mazhab. Ilmu seperti ini terus-terang saja, memang jarang diajarkan. Madrasah, pesantren atau para ustadz biasanya hanya mengajarkan fiqih lewat satu mazhab saja, tanpa ada pembanding.

Tapi bukan berarti cara demikian salah. Cara mengajarkan fiqih dengan satu mazhab saja sebenarnya juga dibutuhkan. Karena akan lebih praktis, mudah dan cepat. Kita tidak memperdebatkan masalah yang terlalu detail yang dipertentangkan oleh para ulama. Buat para pemula, atau kalangan yang homogen dalam masalah mazhab, cara ini sungguh sangat efektif dan mudah dilaksanakan. Apalagi SDM yang kebanyakan tersedia memang yang demikian ini.

Akan tetapi dalam konteks yang berbeda, seperti yang sekarang anda hadapi, rasanya tidak salah bila kita juga mulai belajar ilmu fiqih yang lebi luas dan dalam, tidak hanya berdasarkan satu mazhab saja, tetapi ditambah dengan perbandingannya. Istilah kerennya: muqaranatul-mazahib. Baca lebih lanjut