Masjid Liberal Belanda Bangkrut, Apalagi Keimanannya?

image AMSTERDAM–Masjid Polder di Amsterdam terancam harus gulung tikar karena kekurangan dana. Masjid ini dikenal sebagai pusat kegiatan bagi kelompok Islam liberal di negara tersebut. Untuk bisa bertahan, dalam waktu dua minggu ini pengelola masjid harus mendapatkan uang 50 ribu Euro (sekitar Rp 650 juta), untuk membayar tunggakan sewa gedung.

Masjid Polder dibuka satu setengah tahun yang lalu. Beda dengan masjid-masjid di Belanda mereka membolehkan wanita dan pria sholat berjamaah dalam satu ruangan. Selain itu, Bahasa Belanda dipakai sebagai bahasa pengantar. Saat ini di Belanda, kebanyakan masjid menggunakan Bahasa Arab atau Maroko.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kenapa Agama Harus Diatas Negara?

Melihat tayangan debat Cawapres tadi malam benar-benar mengasyikkan (walaupun nggak bener2 asyik sih). Saya tergelitik saat pertanyaan tentang agama dan negara.
Saat saya mendengar Cwpres Budiono, menjawab masalah itu, saya agak bisa berfikir realistis apa yang dikatakannya.

Tetapi ketika Cwpres Wiranto, saya bingung. Indikasinya, dia ingin membawa ranah negara tidak ada sangkut pautnya dengan agama! Ini membingungkan, dilain pihak tokoh-tokoh Islam banyak yang sepakat dengan pasangan JK-Win, tetapi argumentasi Wiranto seperti itu malah membuat banyak orang geram. Wiranto seperti phobia dengan Islam “yah pada intinya agama merupakan hal yang berbeda dengan negara” kurang lebih seperti itu. Ini jelas jika JK-Win berkuasa, maka hukum-hukum Syari’at Islam akan ditiadakan alias dibasmi. Bank-bank berdasarkan syari’at Islam juga akan cenderung dipadamkan. Mukinkah seperti itu?

Kalau Cwpres Prabowo, cenderung sama dengan Cwpres Budiono.

Pada intinya, semua Cwpres ingin mengatakan seperti yang dikatakan Budiono “Agama itu dilangit, diatas negara” Tetapi untung saja Budiono langsung cepat-cepat menyatakan “Kita mengaplikasikan ajaran agama walaupun tidak menerapkannya kepada negara”

Kalau dipikir-pikir. Sebenarnya apakah benar agama itu diatas negara? Atau lebih mulia dibanding negara? Padahal pada dasarnya yang diatas dan dimuliakan itu yah Allah. Makanya Allah menurunkan agama kebumi untuk dijalankan syari’atnya. Lah untuk dijalankan syari’at-Nya, bukankah sudah seharusnya berada sejajar dengan negara! Karena kemulian negara adalah yang berpegang teguh kepada agama.

Inilah kita, yang memuliakan agama tetapi negaranya bobrok! Berarti ada yang salah pada diri kita (mungkin). Padahal seharusnya sebuah pemerintahan bisa menjadi mulia jika mereka menerapkan syari’at agama. Karena agama itu sendiri adalah sebuah “negara” maka mari berbuat kemuliaan bersama-sama.

Kita sibuk mencercah ekonomi neolib yang ditujukan untuk Budiono, padahal sanggahan dari ketiga Cwpres semuanya berdasar pada Liberal. Lah apa bedanya dari ketiga Cwapres tersebut?

Ah pusing! Yah pokoknya tsami’na wa’ata’na yaa qiyadah. 😀

Ilusi Negara Islam, Sebuah Serangan Liberal Garis Keras

(Kritik untuk Buku “Ilusi Negara Islam”)
Oleh *Sapto Waluyo (Direktur CIR)

Seorang tokoh kharismatik dari pelosok desa Buduran,
Bangkalan, Madura, K.H. Amjad al-Munawwir, berkunjung ke rumah dinas
Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid (HNW), suatu malam.
Tidak tanggung-tangung, pimpinan pesantren Al-Muhajirin itu
membawa serta isteri, anak dan keluarga besarnya yang tinggal di
Jakarta. Mereka mengendarai tiga mobil berisi penuh penumpang dari
kawasan Tanjung Priok menuju kompleks Widya Chandra hanya dengan satu
tujuan untuk menanyakan langsung: Apa benar mantan Presiden PKS itu
menganut paham Wahabiyah?
Hidayat menjawab dengan tenang seperti pertanyaan serupa yang
diterimanya lewat SMS, email atau posting Facebook, bahwa kaum Wahabi
mengharamkan partai politik. Sedangkan, ia pernah menjadi pendiri dan
ketua partai. Jadi, “nggak nyambung lah nyaw “, kata anak muda zaman
sekarang. Baca lebih lanjut