Media Massa Tertipu Pejuang Kemerdekaan Palsu

ilyas karimBeberapa masyarakat khususnya media massa terkecoh beserta pernyataan Ilyas Karim yang menyatakan seakan-akan pengibar bendera pusaka pertama. Padahal, pria bercelana pendek dalam foto pengibaran itu dikenal bernama Suhud, bukan Ilyas Karim.

Menanggapi kekeliruan ini, sejarawan Asvi Marwan Adam memohon terhadap media massa supaya lebih teliti lagi kedepannya dalam mengabarkan sejarah. Lantaran, kesalahan dalam menampilkan informasi dirasa Asvi bakal membelokkan sejarah.

“Yang salah itu yaitu wartawan yang pertama kali menyebarluaskan sebenarnya Ilyas Karim merupakan pengibar bendera pusaka pertama. Mestinya, wartawan itu kroscek lagi kepada beberapa narasumber maupun sejarawan demi mencari tahu kebenarannya,” ucap Asvi sesaat berbincang, Kamis (25/8/2011).

Asvi menyatakan telah meragukan testimoni Ilyas Karim ketika berdialog di salah satu stasiun televisi pada tahun lalu. Berdasarkan ia, pernyataan Ilyas sangat banyak yang bertentangan dengan sejarah. Baik saat perjalanan ke Rengasdengklok maupun juga ketika prosesi pengibaran bendera pusaka merah putih pertama kali.

Baca Selengkapnya >>>

Iklan

Download Media Convert Master (Untuk convert Video)

image Bingung cari-cari software untuk convert video, hal ini juga pernah saya alami dahulu. Bingung sekalu cara untuk bisa meng-convert video kedalam FLV, atau sebaliknya, atau kebingungan juga untuk cari bagaimana convert 3gp agar bisa ditonton di DVD/VCD Player dirumah, apalagi jika itu video hasil rekaman kita saat bersama keluarga. Tentunya sangat sayang sekali bukan untuk dilewatkan.

Baca lebih lanjut

Akhirnya Luna Maya Memenangkan “Pertempurannya” Dengan Infotainment

Berita yang sedang Hot… Hotnya antara kasus Luna Maya dengan “wartawan” Infotainment akhirnya menjadi polemik juga diantara para ulama! Karena akhirnya akan memunculkan fatwa haram MUI tentang Infotainment. Dan juga, dikalangan wartawan sebenarnya secara tidak langsung “wartawan” media Infotainment tidak pernah bahkan tidak diakui sebagai wartawan oleh banyak kalangan wartawan. Bukan karena apa-apa sih, hanya memang wartawan yang beneran tidak mau imagenya menjadi jelek dikarenakan ulah para “wartawan” media infotainment yang sukanya bergosip ria. Sudah sangat jelas sekali, bahwa berghibah (gosip) itu seburuk-buruk manusia. Karena dalam Islam bergosip itu sama halnya dengan memakan bangkai saudara sendiri (emang Sumanto apa? :D). Tapi yah kalau bisa (Luna Maya) tidak perlu menghujat, mencaci, memaki, mencela, dan Me..Me…Me… lainnya. Harus sabar……. 🙂

Jakarta – Fatwa haram terhadap tayangan infotainment yang dikeluarkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun bedanya MUI belum berani keluarkan fatwa.

Baca lebih lanjut

Iklan PKS yang “Berhasil”

Beberapa waktu saya sedang konkow-konkow dengan para kuli tinta. Sudah kebiasaan, sejak jadi wartawan dulu kebiasaan itu masih melekat. Walaupun sekarang sudah menjadi “orang biasa” yang “biasa” juga menulis. Beberapa kali teman-teman media melontarkan beberapa topik yang segar dan “mungkin” juga masih segar. Saat enak-enaknya minum susu kopi (Susu kopi apa kopi susu yah? Ah, yang terpenting sama nikmatnya), seseorang nyeletuk “Lagi-lagi PKS berhasil. Mulai dari dulu PKS memberikan sensasi di media yang membuat “gerah” dan mendapatkan sambutan pula”. Ada beberapa yang tersenyum, ada juga yang tidak menunjukkan ekspresi sama sekali.

Tak lama ada sambutan jawaban dari yang lain. “Iya, saya juga salut sama tim media PKS yang bisa begitu eye catching dalam mengemas sesuatu. Ini jangan-jangan tim media PKS memang orang media “beneran”” tak lama sambutan jawaban dari wartawan lain juga datang “Iya, tapi tuh iklannya ada iklannya Soeharto. Apa nggak munafiq tuh PKS, dulu aktivisnya menurunkan. Sekarang jadi Guru Bangsa atau Pahlawannya”. Jawab dari yang nyeletuk pun terlontar “Ah, biasa aja tuh. Yang terpenting bagi kita untuk dicermati adalah, bagaimana mereka mengemas tema-tema yang bisa mengena. Herannya, ini partai kecil kok yah punya ide-idenya cemerlang. Bisa bikin pada “bangun” semua. Yah contohnya aja, Tifatul Sembiring melontarkan wacana pemimpin muda. Tuh partai-partai sudah kebakaran jenggot. Dan iklan yang ini juga, banyak yang kebakaran jenggot juga. Meski nggak punya jenggot kayak Tifatul Sembiring, juga kebakaran jenggot” Hehehee, banyak yang pada ketawa. Baca lebih lanjut

Din : Tak Ada Alasan Untuk Menolak RUU Pornografi

Penolakan terhadap RUU tentang Pornografi sebenarnya tidak perlu dilakukan, apabila masyarakat mempunyai komitmen yang kuat untuk perbaikan bangsa dimasa depan. Tidak dipungkiri, terdapat fakta-fakta yang memperlihatkan adanya kerusakan moral bangsa akibat persebaran pornografi di media massa oleh industri hiburan.

Penolakan terhadap RUU tentang Pornografi sebenarnya tidak perlu dilakukan, apabila masyarakat mempunyai komitmen yang kuat untuk perbaikan bangsa dimasa depan. Tidak dipungkiri, terdapat fakta-fakta yang memperlihatkan adanya kerusakan moral bangsa akibat persebaran pornografi di media massa oleh industri hiburan.

"Ini yang menjadi keprihatinan kita yang harus diatasi oleh sebuah UU. Oleh karena seharusnya kita tidak perlu keberatan terhada pengaturan industri hiburan yang berbau seks, dan tayangan porno yang jelas-jelas merusak generasi muda dan anak-anak kita, sehingga sebenarnya tidak perlu ada pro kontra lagi," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam kesempatan acara buka puasa bersama media dan ormas Islam, di kediamanannya, Jakarta Selatan, Ahad malam. Baca lebih lanjut

Raib, Polling FPI di Liputan6

Polling “pembubaran” FPI di Liputan6.com tiba-tiba “raib”. Sebelumnya, hasil polling di situs stasiun TV itu justru tak menginginkan FPI dibubarkan!

Hidayatullah.com–Tanpa ada pemberitahuan yang jelas, polling pembubaran FPI di Liputan6.com tiba-tiba “raib”. Sebagaimana diketahui sebelumnya situs ini menyediakan polling terbuka untuk menjaring sikap masyarakat tentang keberadaan Front Pembela Islam (FPI) terkait kasus Monas.

“Catatan aksi kekerasan Front Pembela Islam (FPI) cukup panjang. Terakhir, para anggotanya terlibat penyerangan Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Beberapa pihak meminta FPI dibubarkan. Setujukah Anda jika FPI diburkan?” Begitu Liputan6.com mengawali polling.

Pasca kasus Monas, 1 Juni 2008 lalu, setidaknya ada empat media online membuat polling serupa. Selain Liputan6.com, ada situs detik.com, situs milik PBNU, www.nu.or.id dan Republika online.

Yang mengagetkan, umumnya hasil polling keempat media itu menunjukkan ketiksetujuan responden membubarkan FPI.

Pantauan www.hidayatullah.com Selasa pagi, 10 Juni 2008 hasil polling Liputan6.com menunjukkan, 59% (atau 89.126 pembaca tak menginginkan FPI dibubarkan). Hanya 41%, atau 62.093 pembaca meminta FPI dibubarkan. Sisanya 272 (0%), menyatakan abstain. Baca lebih lanjut