Indonesia Dilecehkan Oleh Demo Pro Panji Gumilang

imgKetua Tim Investigasi Aliran Sesat (TIAS) Hedi Muhammad menilai aksi demo yang dijalankan oleh massa pendukung Panji Gumilang di Mabes Polri semacam bukti keberadaan Negara Islam Indonesia(NII).

“Sekian besar massa dari OTB (Organisasi Tanpa Bentuk) yang menyebut diri Masyarakat Indonesia Membangun pimpinan Panji Gumilang, yang siang baru saja berdemo di Mabes Polri serta menuntut pembebasan Abdul Halim yang adalah Menteri Sekretaris NII gadungan yang dipimpin Panji Gumilang, sekaligus menuntut supaya Panji Gumilang dibebaskan dari segala dakwaan, merupakan bukti langsung terkait keberadaan NII Panji Gumilang,” kata Hedi Muhammad ketika dikonfirmasi, Kamis (14/7/2011) malam.

Berdasarkan Hedi, gerakan itu tak mungkin dapat dikumpulkan beserta jumlah yang sangat banyak serta solid tanpa adanya penggalangan massa yang serius. Ia menduga sebenarnya para pengikut aksi itu bukanlah para santri dari Pondok Pesantren Al-Zaytun.

Baca Selengkapnya >>>

Mengebiri Tokoh Ulama Nasionall

Dari iklan PKS tentang Sumpah Pemuda, yang menampilkan Kh. Ahmad Dahlan, Kh. Hasyim Asy’ari, Ir. Soekarno, Moehammad Natsir. Harus dituntut oleh PBNU dan Ortom Muhammadiyah. Sungguh memilukan, tokoh-tokoh ormas Islam terbesar tersebut lebih terasa ingin menjadikan tokoh-tokoh nasional itu adalah milik mereka sendiri. Dan lebih terasa aroma ketaklidan kepada ulama serta ashabiah dalam golongan. Ketika seorang tokoh sudah diklaim sebagai milik Nasional, maka semua boleh mengaguminya.

Lalu apakah dengan menampilkan sosok tokoh nasional tersebut PKS hanya menjadikan tokoh nasional tersebut sebagai komoditas politik? Pertanyaan yang aneh! Bagaimana tidak, sudah seharusnya dan kewajiban kita semua termasuk partai-partai di Indonesia ini untuk menampilkan sosok-sosok pahlawan nasional. Sosok yang dapat menjadi tauladan dan panutan semua rakyat.

Saya jadi ingat ketika kuliah, dari ribuan Mahasiswa baru yang mengikuti mentoring. Hanya 10% saja yang tahu siapa itu Kh. Ahmad Dahlan dan Kh. Hasyim Asy’ari. Inilah bukti nyata bahwa tokoh nasional tersebut tidak setenar Imam Bonjol, Sultan Agung, Cut Nyak Din, dll. Tetapi ketika ada yang mempelopori untuk memperkenalkannya dengan slogan-slogan yang mengagumkan. Ternyata malah diprotes oleh orang-orang yang “merasa” berhak memiliki.

Baca lebih lanjut

Sistem Demokrasi: Apakah Sesuai Syariah?

Apakah sistem Demokrasi dan partai itu termasuk dalam ajaran Islam? Lalu bagaimana dengan Partai yang mengatasnamakan memperjuangkan Syariat Islam tapi juga memperjuangkan sistem Demukrasi?

Suhartanto
tantoeni@yahoo.co.id
Jawaban

Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dunia politik adalah dunia yang sarat jargon dan ungkapan yang bernada bombastis, karena memang watak dunia politik adalah bagaimana mengajak dan mengumpulkan pendukung.

Sudah barang tentu sebuah jargon yang diusung tidak selamanya sesuai dengan definisi dan kriteria baku yang dikenal. Namanya juga iklan, biasanya agak bombastis dan tidak selalu seperti apa adanya. Maka kita keliru kalau menilai suatu jargon politik dengan pengertian baku yang ada di buku pelajaran.

Jargon Demokrasi

Dan salah satu jargon yang sekarang ini sedang ngetrend adalah jargon demokrasi. Sehingga semua orang berkata tentang demokrasi. Tapi masing-masing punya pengertian dan maksud yang berbeda. Istilah boleh sama, tapi definisi dan esensi bisa saja berbeda.

Bukankah seorang Soekarno juga mengusung istilah demokrasi? Namun di sisi lain, banyak kalangan yang menilainya juga sangat diktator. Setidaknya untuk kurun dan kalangan tertentu.

Bukankah Soherto juga mengusung istilah demokrasi? Namun semua kita tahu bahwa istilah demokrasi yang dimaksud oleh seorang Soeharto tentu sangat berbeda dengan istilah yang dimaksud oleh Soekarno.

Hasilnya, kita boleh bilang bahwa meski jargon demokrasi itu digunakan semua orang, tapi isi, esensi, makna dan batasannya bisa saja sangat berbeda.

Dan tentunya kita tidak bisa menyamakan istilah demokrasi yang diusung seorang Soekarno dengan demokrasi yang digagas oleh Seoharto. Dan keduanya bisa saja sangat berbeda dengan istilah demokrasi yang kita kenal sebagai penjabaran trias politika yang ada dalam kamus atau buku sejarah.

Mengapa Istilah Demokrasi Laris Manis?
Baca lebih lanjut