Kepahlawanan M Natsir Masih Relevan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan kepahlawanan mantan perdana menteri M Natsir masih relevan untuk diteladani hingga kini.

Dalam pidatonya pada acara syukuran masyarakat Sumatera Barat atas penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada M Natsir di Gedung Serba Guna PT Semen Padang di Padang, Sabtu (13/12) malam, Presiden Yudhoyono menegaskan, keputusan pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada M Natsir sangat tepat meski diakui terlambat dilakukan.

Sikap M Natsir yang sejak awal sepak terjangnya menunjukkan sikap anti-kolonialisme dan imperialisme yang tegas, menurut Presiden, adalah salah satu pertimbangan kuat untuk menganugerahkan gelar pahlawan nasional.

"Ketika dominasi penjajah amat kuat di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, beliau dengan tegas memperlihatkan sikap anti-kolonialisme. Itulah yang mendasari mengapa saya putuskan memberi gelar pahlawan nasional," tutur Kepala Negara.

Sikap M Natsir yang anti-penjajahan itu, lanjutnya, masih relevan untuk diaktualisasikan saat ini melalui semangat mewujudkan tatanan dunia yang lebih adil. "Sekarang, ketika kita sudah merdeka, kita ingin tatanan dunia yang adil, bukan dikontrol oleh kekuatan tertentu," ujar Presiden Yudhoyono. Baca lebih lanjut

Iklan

PKS Akan Pertemukan Ahli Waris Soeharto dan Soekarno

Jakarta – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan mempertemukan ahli waris pemimpin bangsa untuk mewujudkan rekonsiliasi. Mereka yang diundang dalam acara itu antara lain adalah ahli waris mantan Presiden Soeharto dan ahli waris mantan Presiden Soekarno.

Pertemuan para ahli waris pemimpin tersebut merupakan lanjutan iklan Hari Pahlawan PKS yang menuai badai kritik. Menurut Mahfud, tidak ada kesalahan dalam iklan PKS yang memasukkan Soeharto sebagai salah satu pahlawan dan guru bangsa. Soeharto ditampilkan dalam iklan itu sebagai upaya PKS untuk melakukan rekonsiliasi bangsa.

Baca lebih lanjut

Loyalis Senang Soeharto Diakui PKS

Dalam Tayangan Iklan Politik

JAKARTA – Iklan PKS yang menyebut Soeharto sebagai guru bangsa dan pahlawan disambut gembira oleh loyalis penguasa Orde Baru itu. Mereka menilai iklan tersebut membuktikan kesadaran baru bahwa banyak program dan hasil-hasil pembangunan yang dihasilkan Soeharto selama kepemimpinannya.

’’Jangan menyoroti sisi negatif saja, karena banyak juga program dan hasil pembangunan yang positif. Semua harus dihargai secara wajar," kata mantan Menko Kesra Haryono Suyono di Lampung kemarin (11/11).

Mantan kepala BKKBN itu mengakui, sebagai manusia, Soeharto mungkin memiliki salah. Namun, dia meminta masyarakat menerapkan falsafah Jawa yang dianut Soeharto, mikul dhuwur mendhem jero (menghormati jasa, memaafkan kesalahan).

’’Ini usaha bagus untuk menghargai sesepuh dan jasa Pak Harto dihargai secara pantas, secara wajar. Saya harapkan PKS mengiklankan Pak Harto dengan maksud positif, bukan agar Pak Harto kembali dicaci-maki," kata mantan menteri asal Pacitan itu.

Baca lebih lanjut

Kontras: PKS Cari Simpati, Momen Tidak Tepat

Jakarta – Ajakan rekonsiliasi PKS dengan menampilkan mantan presiden Soeharto di jajaran pahlawan dan guru besar dinilai hanya untuk meraih simpati dan mendulang suara. Momennya sangat tidak tepat.

"Rekonsiliasi antara siapa dengan siapa? Apa yang persis mau direkonsiliasi? Momennya tidak sangat tidak tepat," kata Koordinator Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Usman Hamid, Kamis (13/11/2008).

Menurut dia, iklan itu lebih sebagai upaya mencari simpati, meraih suara lebih dengan segmen yang seluas-luasnya. "Jauh dari upaya menggelar rekonsiliasi yang jujur," ujarnya.

Usman mengatakan, generasi baru dan generasi lama telah membangun moralitas politik reformasi dengan penegakan hukum. Hukum itu dibuat untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang beradab agar tidak ada dendam.

Baca lebih lanjut

PKB Bela PKS Soal Iklan Soeharto ‘Pahlawan’

Jakarta – Tidak hanya Partai Golkar, PKB pun ikut sumbang suara seputar iklan PKS yang menjadikan Soeharto sebagai ’guru bangsa dan pahlawan’. Bagi PKB, PKS mungkin ingin menunjukkan Soeharto berjasa untuk Indonesia dan bukan sebagai pahlawan.

"Mungkin yang ditampilkan PKS peran Soeharto bukan sebagai pahlawan. Mungkin PKS melihat Pak Harto banyak memberi sesuatu yang berharga bagi bangsa kita. Kalau sebagai pahlawan, memang Pak Harto belum ditetapkan sebagai pahlawan," kata Sekjen DPP PKB kubu Muhaimin Iskandar, Lukman Edy.

Hal ini disampaikan Lukman di sela-sela acara Simposium Nasional Kebangkitan Indonesia dengan tema ’13 agenda kebangkitan bangsa untuk kemandirian dan kedaulatan Indonesia’ di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (11/11/2008).

Ketika ditanya apakah Soeharto layak menjadi pahlawan, pria yang juga menjabat Menneg PDT ini hanya melempar senyum.

Hasyim Asy’ari

Baca lebih lanjut

Tiga Pahlawan Baru Warnai Hari Pahlawan Nasional

Tunjangan Masih Kalah dengan Guru

Tiga pahlawan baru dikukuhkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Jumat lalu, 7 November. Mohammad Natsir, Abdul Halim Iskandar, dan Sutomo menambah daftar nama pahlawan nasional menjadi 144. Sayang, perjuangan mereka dihargai ala kadarnya oleh pemerintah.

BANYAK kisah sedih dari keluarga pahlawan. Tidak sedikit istri maupun anak-anak pahlawan yang hidupnya serbasusah. Pemerintah sebenarnya sudah berusaha memberikan tunjangan bagi keluarga pahlawan. Hanya, nominal dalam paket tunjangan pahlawan itu masih belum bisa dikatakan layak secara finansial. Seakan-akan tak sebanding.

Hari ini tepat setahun sejak kali pertama pemerintah memberikan penghargaan kepada erhadap para pahlawan atas jasa-jasa mereka. Pada 10 November 2007, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah menyatakan bahwa setiap bulan keluarga pahlawan dan para perintis kemerdekaan Indonesia mendapatkan bantuan dana Rp 1,5 juta per bulan. Lebih kecil daripada gaji guru dengan pangkat terendah yang di APBN 2009 dipatok Rp 2 juta per bulan.

Baca lebih lanjut

Akhirnya, Bung Tomo mendapat Gelar Pahlawan Nasional

JAKARTA(Busby SEO Test) – Upaya merebut status pahlawan bagi Bung Tomo sama berliku dengan jalan perjuangannya. Setelah Departemen Sosial menyebutkan bahwa Bung Tomo tidak masuk daftar sebelas nama yang diusulkan mendapat gelar pahlawan nasional kepada presiden pada Jumat (1/11), kemarin pernyataan itu dianulir. Menkominfo Mohammad Nuh memastikan bahwa nama Sutomo alias Bung Tomo ada di dalam daftar tersebut.

Nuh menyatakan, pada 9 November nanti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan satu gelar kepahlawanan Bung Tomo kepada keluarga arek Suroboyo itu. Nuh mengatakan, dirinya mendapat informasi tersebut langsung dari Presiden SBY sebagai pemegang hak prerogratif pemberian gelar pahlawan nasional. ’’Presiden sudah sampaikan ke saya bahwa Bung Tomo akan diresmikan sebagai pahlawan nasional,’’ tegasnya kemarin.

Informasi terbaru itu tentu saja melegakan masyarakat yang sudah lama menanti gelar kepahlawanan dari tokoh yang terkenal dengan semboyan rawe-rawe rantas, malang-malang putung itu. Sebab, Departemen Sosial, yang berwenang mengusulkan kandidat pahlawan nasional, sehari sebelumnya masih menutup-nutupi informasi tersebut.

Depsos memang telah mengusulkan sebelas nama calon pahlawan nasional kepada SBY. Saat nama Bung Tomo ditanyakan, pihak Depsos tutup mulut. Karena itu, muncul spekulasi bahwa nama Bung Tomo kembali terlewat. Baca lebih lanjut