10 Alasan Kenapa Saya Keluar Dari PKS (Tanya –Jawab)

Sangat banyak sekali pertanyaan-pertanyaan mantan kader PKS yang “out” dari kepartaian, namun dari beberapa pertemuan dan rangkaian analisa sendiri, saya menyimpulkan beberapa pertanyaan yang sering dijadikan sebagai “senjata” bagi mereka yang katanya lebih “bersih” ketika sudah keluar dari PKS. Inilah beberapa pertanyaan tersebut:

1. Saya keluar dari PKS karena PKS sudah tidak Islami lagi, mereka sudah berubah haluan dari Islam ke Nasionalis!

Jawaban:

Baca lebih lanjut

Partai Demokrat Protes Isu Jilbab untuk Black Campaign

JAKARTA – Kubu capres-cawapres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono tidak nyaman dengan isu jilbab yang mencuat akhir-akhir ini. Partai Demokrat menganggap pihak yang mengembuskan isu jilbab untuk black campaign telah memolitisasi dan merendahkan agama tertentu.

Kubu SBY-Boediono kemarin (29/5) menghelat konferensi pers khusus untuk merespons isu tersebut. Pernyataan disampaikan oleh Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Sekjen Partai Demokrat Marzuki Ali, dan anggota tim sukses Rizal Mallarangeng.

Menurut Anas, agama harus ditempatkan dalam posisi terhormat. "Kami mengimbau siapa pun untuk tidak memolitisasi agama. Jangan dijadikan alat politik, apalagi hanya alat kampanye untuk kepentingan politik jangka pendek," tutur Anas di Kantor Bravo Media Center (BMC) kemarin. (tom/noe/agm)

LSI, PKS Partai Islam terbesar dan Paling Islami

Selain sebagai partai Islam yang memiliki elektabilitas tertinggi, Partai Keadilan Sejahtera juga dinilai paling Islami. PKS mengalahkan Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Persatuan Pembangunan.

Oleh : Eman Mulyatman

Jakarta-Hasil survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) menemukan Partai Demokrat unggul. Demokrat dalam survei mengalahkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Golkar. Sementara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di posisi empat, yang menempatkannya sebagai partai Islam terbesar.

Berdasarkan survei itu, LSI menyimpulkan tak ada partai Islam yang bisa dikategorikan partai besar, yakni memiliki suara lebih dari 10 persen. Partai Islam kebanyakan berada di papan tengah, dengan PKS memuncakinya.

Sejarah pemilu juga menunjukkan, partai Islam belum pernah menjadi kekuatan mayoritas di pentas politik nasional. Partai nasionalis masih menempati posisi papan atas, dibandingkan partai Islam yang berada di level menengah. Kecenderungan ini, diprediksi masih akan berlanjut pada pemilu tahun ini Baca lebih lanjut

Ikrar Pemilu Damai Jangan Cuma Hiasan

Koordinator Nasional Komite Pemilih Indonesia, Jeirry Sumampouw, di Jakarta, Senin (16/3), menyatakan, `Ikrar Kampanye Pemilu Damai` oleh para elit partai politik (parpol), Senin (16/3), hendaknya jangan cuma ` hiasan` atau seremonial, tetap tak berwujud konkret di lapangan.

"Sebagai seruan moral, ikrar kampanye Pemilu damai itu memang perlu dan penting dilakukan. Tetapi sering kita menyaksikan di berbagai tingkatan pemilu, semangat ikrar kampanye damai lebih sering menjadi `hiasan` atau seremonial di awal kampanye yang tidak punya dampak apa-apa terhadap perilaku kampanye parpol," ujarnya.

Terutama, katanya, berkaitan dengan ulah para pendukung fanatik parpol tertentu, yang membuat penyelenggaraan kampanye sering ternoda serta merusak citra demokrasi itu sendiri. "Hal ini terjadi karena ikrar kampanye pemilu damai cenderung sangat elitis, hanya di tataran segelintir elite pengurus parpol, seingga tidak diketahui dan dipahami oleh para pendukung atau peserta kampanye di lapangan," ungkapnya.(Kampanye Damai Pemilu Indonesia 20009) Baca lebih lanjut

Repot, Demonstrasi Kemanusiaan Kok Dikira Kampanye!

JAKARTA – Partai politik harus berhati-hati menggelar demonstrasi. Sedamai apa pun, bila dicurigai sebagai kampanye terselubung, demo tersebut bisa menjadi urusan hukum.

Itulah yang kini menimpa PKS. Demo aksi solidaritas Palestina pada Jumat (2/1) lalu berbuntut panjang. Gara-gara menyertakan atribut tanda gambar dan nomor urut partainya dalam aksi tersebut, Presiden PKS Tifatul Sembiring diadukan Panwaslu DKI Jakarta ke Polda Metro Jaya. Aksi partai yang dipimpinnya itu dituding sebagai kampanye terselubung di luar jadwal.

Rencananya, kepolisian hari ini memanggil Tifatul Sembiring untuk dimintai keterangan. ’’Sebagai warga negara yang baik, insya Allah saya pasti datang,’’ kata Tifatul di Jakarta kemarin (14/1). Bersama-sama dia, Ketua DPW PKS DKI Jakarta Triwisaksana dan Ketua DPD PKS Jakarta Pusat Agus Setiawan juga siap memenuhi panggilan itu.

Apa status mereka saat ini? ’’Di dalam surat panggilan, kami disebut sebagai tersangka,’’ jawabnya. Sebenarnya, itu adalah panggilan kedua. Pada panggilan pertama, Senin (12/1), Tifatul tidak bisa memenuhi karena baru saja kembali ke Jakarta dari acara konsolidasi partainya di Bandung. Baca lebih lanjut

Oknum Kader PAN Memperkosa Penyanyi Dangdut

Penyanyi Dangdut Diah Kristin alias Titin Kharisma mendatangi Kepolisian Resort Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (17/12) dengan didampingi ibu dan kakaknya. Sang Artis yang terkenal lewat tembang SMS versi house music ini melaporkan atas tindakan penyekapan dan pemerkosaan yang dilakukan oleh KA, seorang pengusaha dan pengurus harian Partai Amanat Nasional (PAN) Sidoarjo.

Warga Desa Punggul, Gedangan, Sidoarjo, ini mengatakan bahwa awalnya dia diajak untuk mempromosikan album pertamanya. Tetapi, ketika pelaku dalam kondisi mabuk membawanya kesebuah hotel di Surabaya, Jawa Timur, dengan dijaga dua pengawal pribadinya. Hingga terjadilah peristiwa pemerkosaan tersebut. Selain KA, korban perkosaan tersebut menyebutkan beberapa anggota Dewan Pimpinan Daerah Partai Amanat Nasional (PAN) juga terlibat dalam aksi pemerkosaan terjadi.

Dengan adanya laporan tersebut, polisi cepat bertindak. Namun karena lokasi pemerkosaan tersebut bukan didaerah Sidoarjo, melainkan di wilayah kepolisian Surabaya. Maka Polres Sidoarjo tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya melimpahkan kasus tersebut kepada wilayah hukum kepolisian Surabaya. Sangat ironis, disaat setiap partai-partai dalam masa kampanye berebut simpati masyarakat. Tetapi oknum kader PAN tersebut malah berbuat tindakan asusila yang menjijikkan tersebut. Apakah ini cerminan kader partai yang akan dipilih untuk menjadi wakil rakyat? Semoga masyarakat tidak salah pilih dalam Pemilu 2009 nanti.

Caleg PKNU Dibaiat Antikorupsi

JAKARTA – Peringatan hari lahir kedua Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, dimanfaatkan untuk membaiat para calon anggota legislatif (caleg). Baiat itu diikuti 4.200 caleg DPR dan DPRD se-Indonesia.

Acara baiat itu dipimpin KH Mas Subadar dan KH Ubaidillah Faqih. Para caleg disumpah untuk tidak melakukan tindak pidana korupsi, suap, dan tindakan tercela lain. ’’Kalau sampai ada anggota legislatif dari PKNU korupsi, sebelum KPK memanggil, kami yang pertama mengusutnya,’’ kata Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKNU Choirul Anam dalam sambutannya kemarin (23/11). Baca lebih lanjut

PKS Tegaskan Kontroversi Iklan Tokoh Nasional Tak Perlu Terjadi

Jakarta- Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI Fahri Hamzah menegaskan, kontroversi iklan PKS sebenarnya tidak perlu terjadi, karena tokoh nasional bukan milik kelompok atau golongan di masyarakat.

"Kami menganggap perdebatan mengenai hal itu tidak diperlukan," kata Fahri dalam dialektika demokrasi di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Jumat.

Dia mengemukakan, perdebatan terkait iklan PKS yang menampilkan tokoh-tokoh nasional mencerminkan kurang kedewasaan dalam berpolitik. Karena itu, sebaiknya perdebatan dihentikan.

Dia mengungkapkan, PKS ingin menggalang rekonsilisasi dari iklan yang menampilkan tokoh nasional sekaligus menempatkan mereka sebagai guru bangsa.

Anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPR, Marwan Jafar mengkritik iklan PKS yang menampilkan tokoh NU, Muhammadiyah dan juga mantan Presiden Soeharto.

Dia menganggap, tindakan PKS tidak sesuai etika politik karena mengambil tokoh nasional dari partai lain untuk menarik simpati publik.

Yah, Beginilah sudah dengk dijadikan dasari: Iklan Kementerian Pemuda dan Olahraga Diduga Kampanye

JAKARTA – Iklan Kementerian Pemuda dan Olahraga yang belakangan kerap muncul di media televisi diduga sejumlah kalangan sarat kepentingan politik. Mengapa? Sebab, iklan tersebut dinilai terlalu menonjolkan sosok Menpora Adhyaksa Dault yang notabene calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Karena dinilai sebagai kampanye terselubung itulah, maka sejumlah Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah melaporkan dugaan pelanggaran tersebut kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Karena iklan tersebut, caleg nomor satu PKS di dapil Sulawesi Tengah *** itu dituding menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi melalui iklan tersebut.

Baca lebih lanjut

PKS Akan Pertemukan Ahli Waris Soeharto dan Soekarno

Jakarta – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan mempertemukan ahli waris pemimpin bangsa untuk mewujudkan rekonsiliasi. Mereka yang diundang dalam acara itu antara lain adalah ahli waris mantan Presiden Soeharto dan ahli waris mantan Presiden Soekarno.

Pertemuan para ahli waris pemimpin tersebut merupakan lanjutan iklan Hari Pahlawan PKS yang menuai badai kritik. Menurut Mahfud, tidak ada kesalahan dalam iklan PKS yang memasukkan Soeharto sebagai salah satu pahlawan dan guru bangsa. Soeharto ditampilkan dalam iklan itu sebagai upaya PKS untuk melakukan rekonsiliasi bangsa.

Baca lebih lanjut