Dewan Masjid Manchester (Afzal Khan): Hizbut Tahrir Tidak Mewakili Umat Islam Mayoritas

image MANCHESTER – Hizb-Ut-Tahrir di Inggris, tepatnya di wilayah Manchester menyebarkan leaflet yang berisi seruan untuk tidak memilih pada pemilu yang akan datang. Selebaran leaflet ini banyak berada di daerah Cheetham Hill dan beberapa daerah utama di Manchester, terutama di Rochdale dan Oldham.

Leaflet tersebut berisi pernyataan bahwa voting adalah "haram" dan pemungutan suara untuk partai dalam sistem sekular Britania akan "menjadi dukungan yang jelas bertentangan dengan Islam."

Namun penasihat Cheetham Hill dan pemimpin anggota terkemuka Dewan Masjid Manchaster, Afzal Khan menentang seruan Hiz-Ut-Tahrir tersebut. Ia mengatakan adalah tugas umat Islam untuk memilih dan membuat suara mereka didengar.

Ia mengatakan: "Selebaran seperti ini muncul setiap tahunnya namun kebanyakan orang mengabaikannya." Baca lebih lanjut

Iklan

Lebih Baik Mengkaitkan Peledakan Dengan Pemilu, Daripada dengan Islam!

Peledakan besar terjadi di dua hotel bintang lima di kompleks Mega Kuningan, yakni Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton merupakan serangan manusia yang abnormal. Kontroversi-pun mencuat, memaksa para pemimpin negara ini berkomentar, memaksa para mantan calon presiden-pun juga berkomentar. Hal yang membuat saya lega adalah pernyataan SBY bahwa bom itu terkait dengan Pemilu, tidak terkait dengan agama (red, Islam). Berbeda dengan komentar dua mantan Capres yang lebih menyudutkan Teroris bermuatan agama (red, Islam). Hal ini membuktikan bahwa SBY masih memandang Pemilu sebagai faktor utama kekacauan peledakan tersebut. Dan tidak langsung menuduh faktor agama dibalik ini semua. Jelas sekali ini membuktikan bahwa SBY masih memandang norma keislaman-nya sehingga tidak mengkait-kaitkannya dengan "islam". Mungkin hal ini karena SBY berada pada koalisi partai Islam yang mendukungnya. Ada sedikit kejelasan bahwa SBY, sekarang lebih hormat terhadap umat Islam ketimbang capres yang lainnya.

Baca lebih lanjut

Pak, kalau PKS nomor berapa ?

Ada suatu hal yang cukup membuat gembira hati ini, ketika menjadi saksi dari PKS di TPS San Francisco Amerika. Menjadi saksi adalah pekerjaan yang cukup melelahkan. Saksi harus full time mengawasi jalannya pemilu di TPS yang menjadi tanggung jawabnya. PKS Amerika dan Kanada mengerahkan kader-kader terbaiknya untuk ditempatkan di 9 TPS di Amerika dan Kanada.

PKS adalah satu-satunya partai politik di Amerika yang menyebarkan kader-kadernya untuk turut membantu secara langsung kelancaran dan kesuksesan PEMILU 2009 ini. Chicago, Washinton DC, Houston, Los Angeles, New York, Ottawa-Kanada, San Francisco, Toronto-Kanada dan VanCouver-Kanada adalah kota-kota besar yang diserbu oleh saksi PKS. Tanggal 9 April, Kamis adalah hari kerja yang mengharuskan mereka untuk mengambil cuti kerja demi tugas yang mulia ini. Baca lebih lanjut

Hizb Salafi Makar Jika Tidak Mengikuti Pemilu

Pemilu yang diadakan di Indonesia ini akan segera dilaksanakan, umat Islam wajib hukumnya untuk segera memilih wakil dan pemimpinnya yang akan duduk di parlemen dalam mewakili umat Islam untuk berbicara dan memperjuangkan permasalahan umat Islam. Hal ini sangat jelas, bahwa pemilu adalah tonggak “peperangan” antara umat Islam dengan para munafik dan kafir.

Mungkin sangat banyak pendukung hizb Salafi menyatakan bahwa keharamannya untuk mengikuti pemilu karena hasil dari produk demokrasi yang berasal dari system kufur. Hal yang sangat perlu dipahami adalah, hizb Salafi juga sangat jelas melarang orang untuk makar terhadap pemerintahan atau terhadap penguasa.

Penguasa dan pemerintahan Indonesia sekarang sedang menghadapi hajat besar, yaitu pemilu. Penguasa dan Pemerintah Indonesia sudah “berfatwah” untuk mengikuti pemilu. Mungkin kita bisa melihat dalil-dalil yang sering dijadikan rujukan para hizb Salafi:

Baca lebih lanjut

Pemilu Peluang Perbaikan

Oleh: Muhith Muhammad Ishaaq
Dosen STID DI Al Hikmah Jakarta

Perimbangan keterwakilan kaum muslimin di parlemen sampai sekarang ini masih jauh dari proporsional dibandingkan dengan non muslim. Kalau jumlah mereka di negeri ini tidak lebih dari 20% maka semestinya jumlah mereka di parlemen tidak lebih dari 20% pula. Tetapi kenyataan proses dan hasil pemilu beberapa kali di negeri ini, kalangan non muslim dapat masuk ke senayan bahkan dengan menaiki kendaraan partai yang beraroma Islam.

Perubahan pola pemilu dari memilih partai menjadi memilih orang, tentu menjadi terobosan baru di negeri ini. Harapan positif dari perubahan ini bagi umat Islam semoga masih terus ada, karena memang umat Islam inilah, umat yang tidak pernah habis harapannya – mereka meyakini bahwa tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang kafir. (QS. Yusuf:78)

Perubahan pemilu kepada pemilihan langsung membuka kepanikan bagi kaum minoritas, mereka akan sulit –secara kultural- mendapatkan suara dari pemilih muslim yang menjadi pemilih mayoritas di negeri ini. Mengandalkan suara dari kelompoknya saja tentu sangat kecil peluang untuk memperoleh kursi parlemen sebagaimana pemilu-pemilu sebelumnya. Baca lebih lanjut

Ikrar Pemilu Damai Jangan Cuma Hiasan

Koordinator Nasional Komite Pemilih Indonesia, Jeirry Sumampouw, di Jakarta, Senin (16/3), menyatakan, `Ikrar Kampanye Pemilu Damai` oleh para elit partai politik (parpol), Senin (16/3), hendaknya jangan cuma ` hiasan` atau seremonial, tetap tak berwujud konkret di lapangan.

"Sebagai seruan moral, ikrar kampanye Pemilu damai itu memang perlu dan penting dilakukan. Tetapi sering kita menyaksikan di berbagai tingkatan pemilu, semangat ikrar kampanye damai lebih sering menjadi `hiasan` atau seremonial di awal kampanye yang tidak punya dampak apa-apa terhadap perilaku kampanye parpol," ujarnya.

Terutama, katanya, berkaitan dengan ulah para pendukung fanatik parpol tertentu, yang membuat penyelenggaraan kampanye sering ternoda serta merusak citra demokrasi itu sendiri. "Hal ini terjadi karena ikrar kampanye pemilu damai cenderung sangat elitis, hanya di tataran segelintir elite pengurus parpol, seingga tidak diketahui dan dipahami oleh para pendukung atau peserta kampanye di lapangan," ungkapnya.(Kampanye Damai Pemilu Indonesia 20009) Baca lebih lanjut

Demokrasi, Barang Curian Milik Islam?

Tohir Bawazir *

Menghargai perbedaan pendapat adalah salah satu akhlak yang sangat dianjurkan dalam Islam. Selagi perbedaan pendapat itu tidak menyangkut hal-hal yang substansial dalam aqidah. Jika menyangkut hal yang sudah qath’i (pasti), ummat Islam harus sudah bersepakat untuk hal itu. Misalnya soal wajibnya sholat, puasa, zakat, haji dan berbagai hukum yang sudah jelas dan terperinci yang sudah diatur dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka tugas kita hanyalah menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya semampu kita. Di sini ummat Islam tidak diberi ruang untuk menyelisihi apa yang sudah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan, banyak ruang gerak yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya untuk mengatur kehidupannya berdasarkan asas manfaat dan maslahat kehidupan, sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan Syariat. Kita juga yakin, kemaslahatan kehidupan sudah pasti akan selaras dan sejalan dengan tuntunan syariat Islam. Termasuk dalam kancah wilayah politik untuk memilih pemimpin dan mekanisme kenegaraan. Baca lebih lanjut