BSMI Akan dilenyapkan dari Indonesia! Mari dukung BSMI

Sebuah SMS dari salah satu rekan dokter dari BSMI, yang menyatakan BSMI akan dieliminasi dari Bumi Indonesia ini. Karena dimemonopoli oleh hanya satu"Lambang Palang Merah" BSMI harus menjadi korban RUU tentang "Lambang Palang Merah" yang akan disahkan. "Mengapa utk menyelesaikan permaslahan kemanusiaan di negeri ini harus dg monopoli??" Mohon disebarkan" (dr Basuki Supartono-ketua BSMI Pusat).

Saya bergindik saat membaca SMS tersebut. Masya Allah, memonopoli sebuah gerakan sosial kemanusiaan. BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) yang notabenenya sudah diakui oleh dunia international harus angkat kaki. Padahal jika ditilik lebih lanjut, gerakan BSMI lebih cepat ketimbang PMI (Palang Merah Indonesia). Sifat koordinasi yang sistematis membuat BSMI lebih unggul dalam bergerak. Terbukti disetiap daerah bencana, kader-kader BSMI dengan cepat menuju plosok-plosok desa yang terpencil. Saya sendiri ketika di Aceh, Jogja, Trenggalek, Jember saat menjadi relawan bencana, selalu yang saya temui dari tim medis dilokasi adalah para kader BSMI. Mereka cekatan dan tanpa ikhlas dalam memberikan pelayanan. Ini terbukti! Fakta, di Jogja BSMI dapat membangun ratusan rumah tahan gempa untuk korban gempa bumi. Di beberapa tempat bahkan ada dua posko BSMI dan PMI yang satu sama lainnya berjarak 2 kilometer. Para korban lebih menyukai berobat di tim medis BSMI, karena pelayanannya yang begitu ramah dan sangat terlihat familiar dengan orang-orang yang datang. Beberapa korban bencana menyatakan lebih senang berobat di BSMI, karena tidak berbelit-belit.

Baca lebih lanjut

Iklan

Hizbut Tahrir Mendesak RUU Pornografi Disahkan

081026cdemo-hti[1]
Medan: Massa Hizbut Tahrir Indonesia di Kota Medan, Sumatra Utara, Ahad (26/10) berunjuk rasa mengecam sejumlah pihak yang menentang dan menghalangi pengesahan Rancangan Undang-Undang Pornografi. HTI menilai RUU Pornografi adalah upaya membendung kerusakan moral bangsa lewat pornografi dan pornoaksi. Karena itu mereka mendesak DPR tidak lagi menunda pengesahan RUU tersebut.

Di Yogyakarta massa HTI juga menggelar unjuk rasa di Jalan Malioboro untuk mendukung disahkannya RUU Pornografi. Mereka menilai RUU ini dapat melindungi kaum perempuan dan anak-anak dari eksploitasi pornografi dan pornoaksi.

Namun, tidak sedikit pula warga yang menolak RUU Pornografi, seperti aktivis perempuan, seniman, dan akademisi. Mereka yang mendukung berpendapat Indonesia perlu rambu-rambu akhlak. Sedangkan mereka yang menentang justru khawatir RUU Pornografi membatasi keragaman budaya bangsa dan berekspresi.(ADO/Tim Liputan 6 SCTV)