Ulama Salaf Enggan Dekati Pintu Penguasa

Imam Malik (179 H ) diminta oleh Khalifah Harun Ar Rasyid untuk berkunjung ke istana dan mengajar hadits kepadanya. Tidak hanya menolak datang, ulama yang bergelar Imam Dar Al Hijrah itu malah meminta agar khalifah yang datang sendiri ke rumah beliau untuk belajar,”Wahai Amiul Mukminin, ilmu itu didatangi, tidak mendatangi.”

Akhirnya, mau tidak mau, Harun Ar Rasyidlah yang datang kepada Imam Malik untuk belajar. Demikianlah sikap Imam Malik ketika berhadapan dengan penguasa yang adil sekalipun semisal Ar Rasyid. Ia diperlakukan sama dengan para pencari ilmu lainnya walau dari kalangan rakyat jelata. Selain itu, para ulama menilai, bahwa kedekatan dengan penguasa bisa menimbulkan banyak fitnah. Kisah ini termaktub dalam Adab As Syari’iyah (2/52). Baca lebih lanjut

Iklan

Ulama Al Azhar: “Qur’aniyun Murtad”

Tokoh sekte Al Qur’aniyun menyatakan terus terang bahwa Al-Quran bukan wahyu dan mereka mengingkari hukuman hadd

Syeikh Muhammad Thahir ‘Asyur anggota Majma’ Al Buhuts Al Islamiyah (Lembaga Penelitian Keislaman) menyatakan kembali fatwanya, bahwa kelompok yang menamakan diri mereka Al-Quraniyun adalah murtad, dan kepada penguasa Thahir Asyur meminta agar hukuman hudud dilaksanakan terhadap orang-orang yang tidak mengakui hadits sebagai salah satu sumber dalam hukum Islam ini.

“Saya sudah mengatakan bahwa Al-Quraniyun murtad yang harus diterapkan kepada mereka hukuman riddah, dan yang melaksanakan hukuman ini adalah penguasa, bukan sembarang orang, sehingga kaum ektrimis tidak menggunakan fatwa ini secara mutlak,” ujar Thahir Asyur pada alarabiya.net (16/3/2009). Baca lebih lanjut

Loyalis Senang Soeharto Diakui PKS

Dalam Tayangan Iklan Politik

JAKARTA – Iklan PKS yang menyebut Soeharto sebagai guru bangsa dan pahlawan disambut gembira oleh loyalis penguasa Orde Baru itu. Mereka menilai iklan tersebut membuktikan kesadaran baru bahwa banyak program dan hasil-hasil pembangunan yang dihasilkan Soeharto selama kepemimpinannya.

’’Jangan menyoroti sisi negatif saja, karena banyak juga program dan hasil pembangunan yang positif. Semua harus dihargai secara wajar," kata mantan Menko Kesra Haryono Suyono di Lampung kemarin (11/11).

Mantan kepala BKKBN itu mengakui, sebagai manusia, Soeharto mungkin memiliki salah. Namun, dia meminta masyarakat menerapkan falsafah Jawa yang dianut Soeharto, mikul dhuwur mendhem jero (menghormati jasa, memaafkan kesalahan).

’’Ini usaha bagus untuk menghargai sesepuh dan jasa Pak Harto dihargai secara pantas, secara wajar. Saya harapkan PKS mengiklankan Pak Harto dengan maksud positif, bukan agar Pak Harto kembali dicaci-maki," kata mantan menteri asal Pacitan itu.

Baca lebih lanjut