Hujatan terhadap Dakwah Al-Banna

Metode yang ditempuh harakah Ikhwan dalam hal ini, juga telah dijelaskan oleh Muhammad Fathy Utsman dalam kitabya "As-Salafiyah fi al-Mujtama’at al-Mu’ashirah, Manhajiyatu al-Ustadz Hasan al-Banna min Khilal Mudzakkiratihi" (Salafiyah di Era Masyarakat Modern, Manhaj Ustadz Hasan al-Banna dalam Memorandumnya).

Dalam buku itu disebutkan:
"Sejak usia muda, Hasan al-Banna sangat memegang teguh amalan sunnah, hingga dalam hal pakaian. Ketika masih menjadi pelajar di sekolah pendidikan guru, beliau mengenakan ‘imamah, memakai sandal untuk ihram waktu haji, sorban yang beliau simpangkan di atas jubah, dan memelihara janggut.

"Ketika direktur madrasah bertanya tentang pakaian tersebut kepadanya, Hasan al-Banna menjawab, sebagaimana tertulis dalam mudzakkirahnya, ’Pakaian seperti ini adalah sunnah.’ Sang kepala sekolah lalu menimpali, ’Apakah engkau sudah mengamalkan semua sunnah-sunnah Rasul, sehingga tidak tersisa kecuali sunnah dalam berpakaian?’

"Al-Banna mengatakan, ’Saya belum mampu melakukan semua sunnah, dan kita memang sangat kurang dalarn hal tersebut. Akan tetapi apa yang kita mampu melakukannya, hendaknya kita lakukan."

Di awal da’wahnya di Ismai’iliyah, beliau menghadapi perpecahan klasik antara ansharu sunnah (kelompok pendukung sunnah) dan Thuruqiyah (kelompok pengikut tarekat sufi). Baca lebih lanjut

Iklan