Sugesti Batu Sakti Ponari

Matahari belum sepenuhnya menyinari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, ketika Maschan Incok Sunarya beringsut dari penginapan. Penyakit diabetes yang diderita selama puluhan tahun mengakibatkan kaki kakek berusia 69 tahun itu bengkak.

Senin pagi lalu, setelah menginap tiga hari, Sunarya berharap mendapat giliran beroleh tuah mujarab dari Muhammad Ponari. Bocah yang belum genap berusia 10 tahun ini diyakini bisa mengobati berbagai penyakit. Sunarya harus mengantre bersama 10.000 orang lainnya yang juga memburu asa.

"Mudah-mudahan Ponari membawa kesembuhan," kata Sunarya, sambil menenteng botol air yang diyakini sebagai media pengobatan, setelah sebelumnya dicelupi batu sebesar buah sawo, milik Ponari. Sunarya dan istrinya, yang datang dari Bekasi, Jawa Barat, berharap penyakitnya disembuhkan Ponari, si dukun cilik. Baca lebih lanjut

Iklan

Keluarga dan Tetangga Berebut Dukun Ponari


Jombang: Praktik pengobatan ala Ponari di Desa Balongsari, Jombang, Jawa Timur, sudah ditutup. Ribuan warga dari berbagai kota yang antre menunggu penyembuhan dari Ponari sudah tak bisa bertemu sang dukun cilik (by, Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009)

Tapi bagi keluarga dan warga sekitar masih ada masalah yang belum selesai. Ayah Ponari, Khomsin, bersengketa dengan warga yang rumahnya dipinjam untuk praktik pengobatan. Si pemilik rumah dikabarkan berusaha menguasai Ponari. Akibat perselisihan itu Khomsin harus dirawat di rumah sakit. Ia mengaku dipukul rivalnya. "Kepala [dipukul]..pakai tangan," kata Khomsin, Ahad (15/2). (by, Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009)

Mengapa Ponari jadi rebutan? Rupiah mungkin jawabnya. Selama tiga pekan berpraktik terkumpul lebih dari setengah miliar rupiah. Ponari, bocah kelas tiga sekolah dasar ini tentunya belum memikirkan keuntungan apapun dari batunya yang dipercaya bisa menyembuhkan. Tapi kondisi membuat Ponari terenggut dari masa kecilnya. Bahkan sekolah pun tak diikutinya selama ia berpraktik.(IAN/Tim Liputan 6 SCTV)(by, Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009)