Keharmonisan Selebritis, Aa Gym Mengakui Kesalahan Dan Bertobat

aa gym Ucapan syukur umat Islam di Indonesia atas pernikahan Aa Gym dengan Teh Ninih merupakan sebuah harapan yang besar, kembalinya seorang Aa Gym dengan istri yang pertama adalah sebuah catatan penting yang mestinya menjadi pelajaran juga bagi setiap orang. Aa Gym yang bernama lengkap Abdullah Gymnastiar merupakan seorang da’i yang mampu membimbing umat dalam meneguhkan keimanan dalam kesejukan akhlaq. Tak hanya umat Islam, bahkan tak jarang umat non Islam pun senang dengan ceramah atau taujih Aa Gym.

Namun hal yang mungkin agak kurang sreg (dulu) bagi beberapa kalangan umat Islam, adalah ketika Aa Gym “bermain” mesra-mesraan didepan publik. Hal inilah yang menjadi kurang begitu disukanya perbuatan Aa Gym atas “diumbarnya” keharmonisan kepada publik. Adegan gandeng tangan, cium pipi, cium kening, dsbnya. Dipertontonkan didepan umum, dan menjadi konsumsi hal yang menjadi “biasa” untuk ditonton publik.

Baca Selengkapnya >>>

Iklan

Kebangkitan Nasional: Antara Realitas dan Pembohongan Publik! (2)

Dalam tulisan bagian pertama, telah dipaparkan betapa organisasi Boedhi Oetomo (BO) sama sekali tidak pantas dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Karena BO tidak pernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya ternyata anggota Freemasonry. Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya akhirnya hengkang dari BO.

Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan kawan-kawan mendirikan Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905. “Ini merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua umurnya dari semua organisasi massa di tanah air Indonesia, ” tulis KH. Firdaus AN.

Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura—juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura—sifat SI lebih nasionalis. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti: Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. Baca lebih lanjut