Keutamaan 10 Hari Pertama Pada Dzulhijjah

image Oleh: Prof Dr KH Achmad Satori Ismail

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari di mana amal saleh pada hari itu lebih dicintai Allah ‘Azza wa Jalla daripada hari-hari ini, yakni 10 hari pertama Dzulhijjah. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa, raga, dan hartanya, kemudian tidak bersisa lagi’.”(HR. Bukhari)

Kalau pada Ramadhan ada 10 hari terkahir yang mulia, karena menanti lailatul Qadar, maka pada bulan Dzulhijjah ada 10 hari pertama yang utama, di mana amal saleh yang dikerjakan pada hari-hari itu sangat dicintai Allah, bahkan melebihi jihad fi Sabilillah. Mengingat keutamaan hari-hari tersebut Allah bersumpah dengannya dalam Al Quran, “Demi waktu fajar. Dan malam yang sepuluh.” (Al Fajr 1-2).

Baca Selengkapnya >>>

1 Ramadhan Ditetapkan PW Muhammadiyah 1 Agustus 2011

imagePengurus Wilayah MuhammadiyahJawa Timur memastikan 1 Ramadan 1432 Hijriah jatuh pada, Senin 1 Agustus 2011. Penentuan jatuhnya Ramadan sesuai hasil musyawarah ahli hisyab Majelis Tarjih, PWM Jawa Timur.

“Beserta memakai metode hisab hakiki maka 1 Ramadan jatuh pada 1 Agustus yang akan datang,” ucap Sekretaris PWM Jatim Nadjib Hamid ketika dihubungi, Senin (27/6/2011).

Nadjib menegaskan, penentuan itu didapat sesudah melaksanakan penghitungan secara sistem hisab hakiki di Markas Tanjung Kodok, Lamongan, Jawa Timur.

Baca Selengkapnya >>>

Penetapan Awal Ramadhan 11 Agustus Oleh Muhammadiyah

image Surabaya – Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Timur berdasarkan hasil hisab menetapkan, 1 Ramadhan 1431 Hijriyah jatuh pada 11 Agustus 2010.

"Penetapan itu sesuai dengan hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah," kata Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Timur, di Surabaya, Sabtu (10/7) malam.

Dijelaskannya, awal Ramadhan tahun ini dimulai pada Rabu legi, 11 Agustus 2010. Ini, karena ijtima’ akhir Sya’ban terjadi pada Selasa, 10 Agustus, bertepatan dengan 29 Sya’ban 1431 Hijriyah pukul 10.09 WIB.

Baca lebih lanjut

Salah kaprah tentang Ta’jil

“Jalan-jalan yuk, sambil cari ta’jil. Untung-untung kalau sholat dimasjid dapat ta’jil gratis”

Mungkin kalimat yang senada sering kita dengar saat bulan puasa. Ta’jil merupakan persepsi kebanyakan orang Indonesia sebagai makanan ataupun kue istilah dalam Islam saat puasa ramadhan.

Hal yang patut kita cermati, ketika kita tidak mengerti arti ta’jil lalu dengan PeDenya berkata kalimat senada seperti yang diatas. Padahal, ta’jil merupakan bahasa Arab untuk asal kata “Menyegerakan” berbuka puasa. Jadi sangat lucu ketika kita mengucap “Jalan-jalan yuk, sambil cari ta’jil. Untung-untung kalau shoalt dimasjid dapat ta’jil gratis” karena mencari “menyegerakan (ta’jil)” di jalan, atau dimasjid.

Salah kaprah mengenai ta’jil ini berkembang luas di Indonesia. Yang tanpa perlu lagi mengetahui hakekat ta’jil itu sendiri. Banyak yang mengira, ta’jil merupakan jajanan yang dijual ataupun makanan yang disuguhkan ketika berbuka puasa. Karena pada hakekatnya ta’jil (menyegerakan) merupakan anjuran Rasulullah kepada kita “Menurut riwayat Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah Radliyallaahu ’anhu bahwa Nabi Shallallaahu ’alaihi wa Sallam bersabda: "Allah ’Azza wa Jalla berfirman: Hamba-hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah mereka yang paling menyegerakan berbuka."

Jadi jangan sampai kita salah kaprah mengira bahwa ta’jil itu adalah makanan berbuka puasa. Tetapi ta’jil adalah “menyegerakan” untuk berbuka puasa. Dengan begitu kita tidak lagi mencari atau membeli "menyegerakan" untuk berbuka puasa.