Wahabi Isu Jadul Yang Dimunculkan Kembali Di Indonesia

“Dasar, Wahabi kampungan” selintas komentar ini nangkring diblog. Dan ada beberapa komentar lagi yang bahkan menghina-hina Wahabi. Entahlah kenapa mereka menghina Muhammad Bin Abdul Wahab murid dari Ibnu Taimiyah ini. Atau mungkin dari buku-buku yang mereka baca, atau dari ustad-ustad mereka. Atau mungkin dari teman-teman yang lainnya. Wallahu’alam. Pokoknya mereka sepertinya sangat antipati terhadap Wahabi.

Oh iya, kenapa saya bilang Jadul (Jaman Dulu). Karena ternyata dulu pun sudah ada pencitraan Wahabi, sebagai orang yang akan menggilas tradisi yang tidak sesuai dengan aturan/syari’at Islam. Isu ini digulirkan untuk membendung pemahaman yang dibawa oleh sarjana-sarjana dari Arab Saudi (kebanyakan) untuk diajarkan di Indonesia.

Mari kita mengingat Kh. Ahmad Dahlan. Tokoh pembaharu Islam di Indonesia ini yang telah mendirikan Muhammadiyah sebagai pencetak generasi-genarasi Islam tersebut. Ternyata juga di cap sebagai Wahabi pada masanya. Dari perjuangan seorang Ahmad Dahlan yang belajar dari Arab Saudi dan datang kedaerahnya untuk membetulkan segala perilaku-perilaku peribadatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam untuk diluruskan kembali. Dan yang paling tragis, ketika Kh. Ahmad Dahlan akan membetulkan letak Surau untuk menghadap kearah kiblat umat Islam. Ditentang keras oleh kyai-kyai yang lainnya. Baca lebih lanjut

Bunga Islam Von Wismar

Oleh Ineu

Minggu siang saat langit diselimuti warna biru cerah, saya bergegas menuju masjid untuk menunaikan sebuah amanah yang rutin selama ini saya jalani. Ketika sampai di tujuan, sekelompok ibu muda yang biasa saya bimbing membaca al-Quran telah berkumpul di salah satu sudut ruang. Segera saya hampiri mereka sembari mengucap salam dan memeluk satu persatu wajah-wajah yang senantiasa saya rindukan itu. Tak lama kemudian kami pun membentuk lingkaran kecil dan secara bergiliran mulailah lisan para ibu muda itu melafalkan ayat demi ayat firmanNya.

Waktu terus merambat hingga tiba saatnya kami mesti menghentikan kegiatan membaca Al-Quran beserta artinya itu untuk kemudian memasuki sesi diskusi seputar pendidikan anak sesuai dengan kesepakatan ibu-ibu selama ini. Namun tiba-tiba sebuah tanya bernada keheranan meluncur dari lisan seorang ibu dengan aksen Jerman yang sangat kental.

“Warum baca al-Qurannya selesai?. Apa kalian sudah capek?.Kalau begitu silahkan kalian berhenti tapi saya mau teruskan bacaannya sendiri.”
Baca lebih lanjut