Nasib Artis yang Berburu Kursi Wakil Rakyat

Mandra dan Ikang Fawzi Terancam Gagal ke Senayan

JAKARTA – Popularitas memang bukan syarat mutlak untuk memenangkan persaingan politik dalam pemilu legislatif. Tak sedikit caleg dari kalangan artis yang di dunia hiburan sangat dikenal dan dipuja, ternyata, harus bersiap-siap menelan pil pahit.

’’Tidak semua caleg artis melenggang mulus ke Senayan,’’ kata peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi kepada Jawa Pos kemarin (19/4).

Sejumlah nama yang berada di bibir jurang itu adalah Ikang Fawzi (PAN/Banten I), Mandra (PAN/DKI Jakarta I), Henidar Amru (PAN/DKI Jakarta I), Tengku Firmansyah (PKB/Jabar I), Derri Drajat (PAN/Jabar II), Emilia Contessa (PPP/Jatim II), dan Denada (PPP/Jatim V).

’’Hasil analisis quick count kami 9 April lalu dan data penghitungan sementara KPU menunjukkan, banyak caleg artis yang terancam gagal,’’ ujarnya.

Dia mencontohkan Ikang Fawzi. Di dapil Banten I, PAN hanya memperoleh 1,18 persen suara. Padahal, di dapil itu terdapat enam kursi yang diperebutkan. Dengan demikian, asumsi nilai bilangan pembagi pemilih (BPP) yang menjadi harga satu kursi adalah 16,6 persen. Baca lebih lanjut

Iklan

PKS Tegaskan Kontroversi Iklan Tokoh Nasional Tak Perlu Terjadi

Jakarta- Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI Fahri Hamzah menegaskan, kontroversi iklan PKS sebenarnya tidak perlu terjadi, karena tokoh nasional bukan milik kelompok atau golongan di masyarakat.

"Kami menganggap perdebatan mengenai hal itu tidak diperlukan," kata Fahri dalam dialektika demokrasi di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Jumat.

Dia mengemukakan, perdebatan terkait iklan PKS yang menampilkan tokoh-tokoh nasional mencerminkan kurang kedewasaan dalam berpolitik. Karena itu, sebaiknya perdebatan dihentikan.

Dia mengungkapkan, PKS ingin menggalang rekonsilisasi dari iklan yang menampilkan tokoh nasional sekaligus menempatkan mereka sebagai guru bangsa.

Anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPR, Marwan Jafar mengkritik iklan PKS yang menampilkan tokoh NU, Muhammadiyah dan juga mantan Presiden Soeharto.

Dia menganggap, tindakan PKS tidak sesuai etika politik karena mengambil tokoh nasional dari partai lain untuk menarik simpati publik.