Jika FPI dibubarkan, apakah kita siap?

Biadab….Bubarkan saja FPI….! Dasar orang-orang otak udang…siapa si FPI itu? Sepenggal kalimat-kalimat chatting yang saya ketahui. Mungkin lebih banyak jika kita mengikuti semua media chat di Indonesia.

Saya ingin membahas masalah “pembubaran” FPI jika memang dilakukan. Saya bukan anggota FPI, atau bermaksud membela atau bahkan menyudutkan FPI. Tangan ini tergelitik untuk menulis ketika banyak teriakan “bubarkan FPI!”

FPI yang biasa kita kenal sebagai Front Pembela Islam. Salah satu organisasi massa Islam yang diketuai oleh Habib Rizieq Shihab, organisasi ini adalah sebuah organisasi yang didalamnya termaktub memerangi kemunkaran. Secara tegas, banyak orang-orang di Jakarta yang mendukung pergerakan FPI ini. Lebih banyak mereka adalah para orang-orang Islam yang sudah jengah dengan kesemrawutan Jakarta yang penuh dengan gemerlapnya dunia. Yang akan menjadikan generasi-generasi muda hanya sebagai generasi pengikut “kesenangan” semata.

FPI datang dengan massanya, mengobrak-abrik preman-preman diskotik yang mangkal seperti jagoan. FPI disorot tv karena pengrusakan yang sembarangan, membabi-buta. FPI datang dengan membawa bendera Islam, menghancurkan kemaksiatan yang setiap kali mereka lihat saat konvoi. FPI disorot tv karena kebrutalan merusak apa saja yang berbau kemaksiatan. “FPI brutal” di headline koran!

Kita melihat, kita membaca. Namun kita jarang sekali memahami apa yang menjadi target-target perusakan FPI. Yang kita lihat dan kita baca hanya sebatas tulisan seorang wartawan yang kadang seringkali pemilik medianya, suka berada di diskotik-diskotik. Tak lupa juga wartawannya! Makanya, tertulis besar “FPI Brutal” di headlinenya.

Nah, ketika saat kita membaca tanpa mencari akar pokok dari permasalah, kenapa FPI bertindak seperti itu. Maka kita akan terbawa arus subjektifitas egoisme pemikiran kita sendiri “Pokoknya yang saya lihat dan saya baca, adalah benar”, tanpa susah berfikir lagi mencari akar dari pokok permasalahannya. Sudah beres kalau kita berfikir seperti itu!

Namun, jika kita terhegemoni dengan pikiran-pikiran seperti itu, maka yang terjadi adalah stagnanisasi pemikiran. Dan cenderung, saat kita melihat orang adalah hanya pada saat “sesuatu” hal yang sedang terjadi.

Back to the laptop, kata Tukul. Apakah kita siap jika FPI dibubarkan? Ada sebuah pertanyaan yang mungkin menjadi jawaban, kepada anda yang masih memegang asas kemanusian dalam perbaikan. Apakah anda siap, jika nanti putra-putri anda berada di diskotik, mabuk-mabukan, pesta narkoba dan lain sebagainya? Karena ketika itu, kebenaran sudah tidak dianggap benar lagi!

Mungkin, untung jika ketika FPI dibubarkan. Aparat polisi mudah menindak tegas para pemilik modal diskotik, dan para mucikari-mucikari ditangkap semuanya. Dan ketertiban para preman-preman jalanan yang menjadi bodyguard diskotik-diskotik itu diamankan. Akan sangat lebih baik. Tetapi, ketika FPI dibubarkan. FPI melawan, dengan menjadi gerakan underground, malah akan merusak stabilitas negara. Ancaman-ancaman militansi akan lebih bergelora. Malah akan mengakibatkan cheos yang lebih besar lagi! Tidak hanya sebatas pengrusakan yang akan terjadi, malah bisa jadi adalah sebuah militan yang terorganisasir menyerang bak sebuah senjata yang meletus serempak. Mereka tidak diketahui dimana-mana, tetapi mereka berada dimana-mana. Kalaulah Amrozi, Dr Azhari hanya sebatas kelompok-kelompok kecil yang merongrong negara ini. Tetapi FPI adalah kelompok yang tidak sedikit anggotanya, mereka mempunyai kekuatan semangat yang besar, yang jika tidak diarahkan malah akan mengakibatkan bencana yang besar.

Alangkah lebih baiknya, FPI masih tetap dalam organisasi yang nyata di Indonesia ini. Yang dapat dibimbing jika lupa akan berlebihannya tindakan-tindakannya.

Saya jadi teringat ketika di Aceh. Saat-saat Aceh dalam bencana dunia yang kita sendiri sangat miris melihatnya. FPI datang dengan segerombolan para anggota yang semangat untuk membantu korban-korban bencana. Mereka rela mengambil mayat yang berada di sungai, dengan berenang sendirian. Bahkan ada yang sempat diamputasi tangannya, karena terinfeksi kuman. Semua adalah kenyataan atas tindakan-tindakan nyata FPI. Walaupun saya bukan anggota FPI, namun ketika saya melihat seperti itu. Saya ucapkan takbir dalam diri, dan tersenyum sambil mengucapkan dalam hati “masih ada orang yang seberani mereka dalam amalan-amalan nyatanya” tindakan-tindakan FPI tidak hanya di Aceh, di Jember, Jogja saya bertemu lagi dengan mereka. Dan mereka masih tetap seberani dan setangguh awal saat saya temui. Dengan segudang prestasi seperti itu, apakah kita mau membubarkan FPI? Hanya karena isu-isu pihak yang mempunyai duit yang banyak! Merubah image seorang pahlawan menjadi pecundang. Yah, itulah media! Ada yang baik, dan ada yang buruk.

Saya ingatkan lagi, saya bukan termasuk anggota ataupun kader FPI.

Artikel terkait, silakan dilihat —> klik

dan termasuk ini —: klik

Iklan