John Key, Alba Fuad Gangster dan FPI

john key

Hari-hari ini kita dihadirkan dengan beberapa kekerasan yang mencengangkan. Mulai dari kasus Front Pembela Islam (FPI) yang ditolak oleh kumpulan Gangster atau Preman Kalteng, hingga penangkapan dan penembakan di kaki "Ketua" Gangster John Key yang sedang asyik berpesta sabu dengan artis “warkop” Alba Fuad.

Fenomena kekerasan ini begitu kuat dalam budaya Indonesia, tak terkecuali pemberitaan tentang fakta opini terbalik media juga menjadi hal yang khas dari Indonesia ini. Sebagaimana kita tahu bahwa FPI ditolak saat berada di Kalteng oleh para Gangster atau Preman disana (Kalteng). Mereka membuat berbagai ancaman pembunuhan hingga sampai pengrusakan kepada orang-orang FPI, tetapi yang aneh malah FPI yang diberitakan sebagai ancaman. Inilah fakta terbalik di Indonesia!

Baca Selengkapnya >>>

Habieb Rizieq Shihab Tidak Mendukung Negara Islam

Ketua Umum Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab mengemukakan tak harus terdapat usaha mendirikan negara Islam sesuai formal di Indonesia.

Berbicara diantara forum diskusi tokoh agama Islam bersama wartawan AS di kantor International Conference of Islamic Scholars (ICIS), Jakarta, Rabu, Rizieq menganggap secara substansial Indonesia sebenarnya telah tergolong sebagai “Negara Islam”.

Peraturan Islam telah banyak dimasukkan dalam peraturan di pemerintahan,” ucapnya.

Ia mengungkapkan mengenai tersebut menanggapi pertanyaan asal wartawan Amerika Serikat mengenai maraknya gerakan Negara Islam Indonesia belakangan ini.

Baca Selengkapnya >>>

Umat Islam Menolak, Bintang Porno Batal Datang

img1
Setelah MUI dan FPI menolak, pesantren dan NU juga menolak. Bintang porno Jepang itu akhirnya batal datang

Hidayatullah.com— Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata memanggil pihak Maxima Pictures, yang akan memproduksi film "Menculik Miyabi". Menbudpar meminta Maxima Pictures membatalkan rencana kehadiran bintang porno Jepang, Maria Ozawa alias Miyabi ke Indonesia.

Menbudpar ad interim Muhammad Nuh mengatakan, dalam pertemuan itu Maxima Pictures telah mensepakati pembatalan kehadiran Miyabi ke Indonesia untuk membintangi film komedi "Menculik Miyabi".

Dalam rilis yang dikirimkan ke media massa. Menbudpar menjelaskan, pihaknya sengaja meminta pembatalan kedatangan Miyabi, demi menghindari kontroversi yang masih berkembang di masyarakat.

Belum lama ini, pihak Maxima Pictures membantah membatalkan kedatangan Miyabi ke Jakarta. Maxima hanya menunda dan menjadwal ulang syuting Miyabi. Baca lebih lanjut

Kenapa Aku Mendukung SBY Bukan JK!

Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya membutuhkan cukup waktu untuk bisa memahami alasan DPP PKS memilih tetap berkoalisi dengan SBY-Boediono. Itu, karena tadinya saya mengharapkan dan menyangka PKS akan memilih JK. Namun, setelah jelas sikap DPP sedikit-demi- sedikit saya menemukan jawabannya. Semoga apa yang saya fahami ini tidak semuanya salah.

Pertama, PKS bukan satu-satunya partai Islam yang memilih SBY. Disana ada koalisi seluruh partai Islam dan berbasis massa Islam yaitu PKB, PPP dan PAN. Jadi, ini kemaslahatan pertama yaitu mendahulukan koalisi partai Islam dibanding koalisi sekuler termasuk yang mendukung JK. Mana yang harus kita utamakan, kumpulan partai Islamis atau koalisi partai sekuler? Baca lebih lanjut

PKNU Janjikan Pembubaran Ahmadiyah

Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) menjanjikan pembubaran Ahmadiyah jika calon anggota legislatif-nya (caleg) berhasil memperoleh kursi di DPR RI.

"Janji kita, caleg kita akan berjuang sekuat tenaga membubarkan Ahmadiyah begitu menduduki kursi di DPR," kata Juru Kampanye PKNU, Habib Salim Bin Umar Al-Atar, dalam orasinya pada kampanye putaran pertama di Rawa Badak, Jakarta, Sabtu (21/1).

Habib Salim juga mengatakan bahwa telah menggandeng Front Pembela Islam (FPI) untuk mendukung partai berbasis Nahdatul Ulama (NU) tersebut memperoleh suara pada pemilihan umum (pemilu) legislatif yang dilaksanakan pada 9 April 2009. Baca lebih lanjut

Raib, Polling FPI di Liputan6

Polling “pembubaran” FPI di Liputan6.com tiba-tiba “raib”. Sebelumnya, hasil polling di situs stasiun TV itu justru tak menginginkan FPI dibubarkan!

Hidayatullah.com–Tanpa ada pemberitahuan yang jelas, polling pembubaran FPI di Liputan6.com tiba-tiba “raib”. Sebagaimana diketahui sebelumnya situs ini menyediakan polling terbuka untuk menjaring sikap masyarakat tentang keberadaan Front Pembela Islam (FPI) terkait kasus Monas.

“Catatan aksi kekerasan Front Pembela Islam (FPI) cukup panjang. Terakhir, para anggotanya terlibat penyerangan Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Beberapa pihak meminta FPI dibubarkan. Setujukah Anda jika FPI diburkan?” Begitu Liputan6.com mengawali polling.

Pasca kasus Monas, 1 Juni 2008 lalu, setidaknya ada empat media online membuat polling serupa. Selain Liputan6.com, ada situs detik.com, situs milik PBNU, www.nu.or.id dan Republika online.

Yang mengagetkan, umumnya hasil polling keempat media itu menunjukkan ketiksetujuan responden membubarkan FPI.

Pantauan www.hidayatullah.com Selasa pagi, 10 Juni 2008 hasil polling Liputan6.com menunjukkan, 59% (atau 89.126 pembaca tak menginginkan FPI dibubarkan). Hanya 41%, atau 62.093 pembaca meminta FPI dibubarkan. Sisanya 272 (0%), menyatakan abstain. Baca lebih lanjut

Jika FPI dibubarkan, apakah kita siap?

Biadab….Bubarkan saja FPI….! Dasar orang-orang otak udang…siapa si FPI itu? Sepenggal kalimat-kalimat chatting yang saya ketahui. Mungkin lebih banyak jika kita mengikuti semua media chat di Indonesia.

Saya ingin membahas masalah “pembubaran” FPI jika memang dilakukan. Saya bukan anggota FPI, atau bermaksud membela atau bahkan menyudutkan FPI. Tangan ini tergelitik untuk menulis ketika banyak teriakan “bubarkan FPI!”

FPI yang biasa kita kenal sebagai Front Pembela Islam. Salah satu organisasi massa Islam yang diketuai oleh Habib Rizieq Shihab, organisasi ini adalah sebuah organisasi yang didalamnya termaktub memerangi kemunkaran. Secara tegas, banyak orang-orang di Jakarta yang mendukung pergerakan FPI ini. Lebih banyak mereka adalah para orang-orang Islam yang sudah jengah dengan kesemrawutan Jakarta yang penuh dengan gemerlapnya dunia. Yang akan menjadikan generasi-generasi muda hanya sebagai generasi pengikut “kesenangan” semata.

FPI datang dengan massanya, mengobrak-abrik preman-preman diskotik yang mangkal seperti jagoan. FPI disorot tv karena pengrusakan yang sembarangan, membabi-buta. FPI datang dengan membawa bendera Islam, menghancurkan kemaksiatan yang setiap kali mereka lihat saat konvoi. FPI disorot tv karena kebrutalan merusak apa saja yang berbau kemaksiatan. “FPI brutal” di headline koran!

Kita melihat, kita membaca. Namun kita jarang sekali memahami apa yang menjadi target-target perusakan FPI. Yang kita lihat dan kita baca hanya sebatas tulisan seorang wartawan yang kadang seringkali pemilik medianya, suka berada di diskotik-diskotik. Tak lupa juga wartawannya! Makanya, tertulis besar “FPI Brutal” di headlinenya.

Nah, ketika saat kita membaca tanpa mencari akar pokok dari permasalah, kenapa FPI bertindak seperti itu. Maka kita akan terbawa arus subjektifitas egoisme pemikiran kita sendiri “Pokoknya yang saya lihat dan saya baca, adalah benar”, tanpa susah berfikir lagi mencari akar dari pokok permasalahannya. Sudah beres kalau kita berfikir seperti itu!

Namun, jika kita terhegemoni dengan pikiran-pikiran seperti itu, maka yang terjadi adalah stagnanisasi pemikiran. Dan cenderung, saat kita melihat orang adalah hanya pada saat “sesuatu” hal yang sedang terjadi.

Back to the laptop, kata Tukul. Apakah kita siap jika FPI dibubarkan? Ada sebuah pertanyaan yang mungkin menjadi jawaban, kepada anda yang masih memegang asas kemanusian dalam perbaikan. Apakah anda siap, jika nanti putra-putri anda berada di diskotik, mabuk-mabukan, pesta narkoba dan lain sebagainya? Karena ketika itu, kebenaran sudah tidak dianggap benar lagi!

Mungkin, untung jika ketika FPI dibubarkan. Aparat polisi mudah menindak tegas para pemilik modal diskotik, dan para mucikari-mucikari ditangkap semuanya. Dan ketertiban para preman-preman jalanan yang menjadi bodyguard diskotik-diskotik itu diamankan. Akan sangat lebih baik. Tetapi, ketika FPI dibubarkan. FPI melawan, dengan menjadi gerakan underground, malah akan merusak stabilitas negara. Ancaman-ancaman militansi akan lebih bergelora. Malah akan mengakibatkan cheos yang lebih besar lagi! Tidak hanya sebatas pengrusakan yang akan terjadi, malah bisa jadi adalah sebuah militan yang terorganisasir menyerang bak sebuah senjata yang meletus serempak. Mereka tidak diketahui dimana-mana, tetapi mereka berada dimana-mana. Kalaulah Amrozi, Dr Azhari hanya sebatas kelompok-kelompok kecil yang merongrong negara ini. Tetapi FPI adalah kelompok yang tidak sedikit anggotanya, mereka mempunyai kekuatan semangat yang besar, yang jika tidak diarahkan malah akan mengakibatkan bencana yang besar.

Alangkah lebih baiknya, FPI masih tetap dalam organisasi yang nyata di Indonesia ini. Yang dapat dibimbing jika lupa akan berlebihannya tindakan-tindakannya.

Saya jadi teringat ketika di Aceh. Saat-saat Aceh dalam bencana dunia yang kita sendiri sangat miris melihatnya. FPI datang dengan segerombolan para anggota yang semangat untuk membantu korban-korban bencana. Mereka rela mengambil mayat yang berada di sungai, dengan berenang sendirian. Bahkan ada yang sempat diamputasi tangannya, karena terinfeksi kuman. Semua adalah kenyataan atas tindakan-tindakan nyata FPI. Walaupun saya bukan anggota FPI, namun ketika saya melihat seperti itu. Saya ucapkan takbir dalam diri, dan tersenyum sambil mengucapkan dalam hati “masih ada orang yang seberani mereka dalam amalan-amalan nyatanya” tindakan-tindakan FPI tidak hanya di Aceh, di Jember, Jogja saya bertemu lagi dengan mereka. Dan mereka masih tetap seberani dan setangguh awal saat saya temui. Dengan segudang prestasi seperti itu, apakah kita mau membubarkan FPI? Hanya karena isu-isu pihak yang mempunyai duit yang banyak! Merubah image seorang pahlawan menjadi pecundang. Yah, itulah media! Ada yang baik, dan ada yang buruk.

Saya ingatkan lagi, saya bukan termasuk anggota ataupun kader FPI.

Artikel terkait, silakan dilihat —> klik

dan termasuk ini —: klik